Melawan Arus: Jejak Rania

Sutan Azis
Chapter #16

Jejak yang Rumpang

Beberapa bulan berlalu sejak Pustaka Restorasi resmi didirikan. Gerakan independen dari rumah restorasi itu berkembang pesat melebihi perkiraan siapa pun. Berpuluh-puluh naskah dari penulis muda di berbagai pelosok daerah diterbitkan secara berkala, lengkap dengan ilustrasi sampul yang digarap cermat oleh kolektif Galeri Bentang Seni. Rumah tua peninggalan Bapak kini tak pernah sepi. Suara ketukan mesin ketik, gelak tawa diskusi di pekarangan, dan aroma seduhan kopi lokal seolah menjadi irama harian yang menyambut para penggiat literasi.

Rania telah mencapai titik pencapaian yang semestinya membuat dadanya dipenuhi kebanggaan. Ia bukan lagi sekadar penulis muda yang berjuang mempertahankan integritas suaranya dari tekanan industri Jakarta, melainkan pilar utama tempat berteduh bagi ratusan suara lain yang pernah dipinggirkan.

Namun, di puncak keberhasilan gerakan tersebut, sebuah ganjalan asing menghantam tanpa peringatan.

Pagi itu, udara di kawasan Kotabaru terasa teramat dingin. Sisa gerimis subuh masih menyisakan genangan-genangan air tipis di atas trotoar berkerikil. Rania melangkah menuju Galeri Bentang Seni membawa jilidan draf naskah terbaru yang siap masuk ke proses perancangan tata letak. Namun, saat jemarinya mendorong pintu kayu berpanel kaca galeri, ia tidak disambut oleh aroma cat minyak yang familiar atau sapaan hangat yang biasa terdengar dari sudut studio.

Ruangan pameran utama tampak gelap, lengang, dan asing. Lukisan raksasa Resonansi Batu Karang masih terpajang gagah di dinding utama, tetapi ruang kerja melukis di bagian belakang dalam keadaan tertutup rapat.

"Mbak Rania?" panggil seorang pemuda perupa anggota kolektif yang sedang membersihkan sekat papan pameran di sudut ruangan.

Rania menghentikan langkahnya, membetulkan letak selendang kain tenun di bahunya. "Mas Damar mana, Mas? Ponselnya tidak bisa dihubungi sejak kemarin malam."

Pemuda itu menghentikan usapan kain lapnya, merespons dengan raut wajah bingung sekaligus serba salah. Ia mengusap tengkuknya ragu sebelum melangkah mendekati Rania. "Kami juga tidak tahu pasti, Mbak. Dua hari lalu Mas Damar datang pagi-pagi sekali waktu galeri belum buka. Dia merapikan beberapa kanvas pribadinya, lalu pergi membawa satu tas besar."

"Pergi?" Rania mengerutkan keningnya, merasakan kedutan aneh dan janggal di pelipisnya. "Maksudnya pergi ke luar kota untuk pameran atau mencari bahan cat? Dia ada menitip pesan, catatan, atau surat untuk saya?"

"Tidak ada, Mbak Rania," jawab pemuda itu pelan, menunduk tak berani menatap langsung mata Rania. "Mas Damar cuma bilang mau pergi sebentar, tapi tidak memberitahu mau ke mana atau kapan kembali. Waktu kami tanya lebih lanjut, Mas Damar cuma diam ... terus langsung jalan keluar."

Jilidan naskah tebal di dalam pelukan Rania mendadak terasa teramat berat dan janggal. Pria yang selama ini berada di garis depan bersamanya—pria yang paling memahami setiap lekuk pemikirannya—tiba-tiba melangkah pergi begitu saja ke dalam kegelapan tanpa meninggalkan selarik pesan pun.

Satu minggu berlalu. Kemudian dua minggu. Lalu berganti menjadi satu bulan penuh.

Lihat selengkapnya