Melawan Arus: Jejak Rania

Sutan Azis
Chapter #17

Jejak Tersembunyi di Kotabaru

Dua bulan telah berlalu sejak kepergian Damar, namun riak kegelisahan di dada Rania belum sepenuhnya reda. Meski demikian, teguran lembut Mas Andra dan kesetiaan Dika yang terus menjaga operasional Pustaka Restorasi perlahan membendung kelumpuhan batinnya. Rania mulai memaksa dirinya kembali menyentuh meja kerja, membalas surat-surat penulis, dan menyunting draf naskah yang mengantre—meski ada ruang hampa di kepalanya yang tak pernah benar-benar terisi.

Pagi itu, Rania memutuskan untuk mendatangi Galeri Bentang Seni seorang diri. Ia bukan datang untuk meratap, melainkan untuk menyelesaikan beberapa administrasi hak cipta pameran kolaboratif yang sempat tertunda.

Galeri tua itu kini dikelola sementara oleh dua perupa muda rekan Damar. Suasana di dalamnya tetap tenang, namun pendar hangat yang dulu selalu dibawa oleh kehadiran Damar seolah telah menguap.

"Mbak Rania," sapa Bagus, salah satu perupa muda, seraya menghentikan sapuan kuasnya di sudut pameran. "Pas sekali Mbak datang. Ada beberapa berkas arsip pameran bulan lalu yang perlu ditandatangani."

"Terima kasih ya, Gus, sudah menjaga galeri ini tetap buka," ujar Rania tulus seraya melangkah mendekati meja kerja kayu di sudut ruangan.

Bagus tersenyum tipis, lalu membuka laci meja tua tempat Damar biasa menyimpan dokumen. "O iya, Mbak. Minggu lalu waktu kami merapikan rak buku di studio belakang, kami menemukan sebuah kotak kayu kecil milik Mas Damar yang terselip di bawah tumpukan kanvas kosong. Sepertinya kotak ini sengaja ditinggalkan."

Dada Rania berdesir pelan. "Kotak kayu?"

Bagus mengangguk, lalu menyerahkan sebuah kotak kayu jati berukuran sedang dengan ukiran sederhana di tutupnya. Kotak itu tidak terkunci.

"Kami tidak berani membukanya, Mbak. Tapi kami rasa, cuma Mbak Rania yang berhak memegang ini," tambah Bagus pelan.

Dengan jemari yang sedikit gemetar, Rania menerima kotak itu. Aroma terpentin dan kayu tua yang sangat khas seketika menyeruak, membawa kenangan akan sosok Damar kembali menyerbu ruang pikirannya. Rania membawa kotak itu ke sudut panggung utama, duduk di kursi kayu jati di depan lukisan Resonansi Batu Karang.

Rania menarik napas panjang, membalut rasa gelisahnya, lalu perlahan membuka tutup kotak kayu tersebut.

Lihat selengkapnya