Perjalanan menuju Parakan menempuh waktu tiga jam dari Yogyakarta. Mobil van tua milik Pustaka Restorasi merayap perlahan melintasi jalanan menanjak Temanggung. Rania duduk di kursi penumpang depan, memangku kotak kayu jati milik Damar. Tekadnya sudah bulat: ia datang bukan untuk mengemis kehadiran Damar, melainkan untuk mengembalikan milik pria itu dan menuntaskan ketidakpastian yang sempat mengganggu pikirannya.
"Mbak Rania yakin mau masuk sendiri?" tanya Dika seraya mematikan mesin van di pekarangan sebuah bangunan batu bata merah di kawasan Kauman.
"Yakin, Dik," sahut Rania tenang seraya merapikan kain selendangnya. "Tunggu di sini sebentar ya."
Rania melangkah keluar. Udara pegunungan yang menusuk menyambut langkah kakinya saat menyusuri teras studio tua itu. Ia mendorong pintu kayu yang terbuka separuh, melangkah masuk ke ruangan tinggi beraroma terpentin dan cat minyak.
Di sudut jendela utama, berdiri seorang pria ber-kemeja linen kelabu kusam yang sedang memegang kuas di depan kanvas.
Damar.
Pria itu memutar tubuhnya. Begitu matanya menangkap sosok Rania, Damar tertegun kaku. "Rania ...," bisiknya serak.
Rania menghentikan langkahnya di dekat meja kayu tua di tengah ruangan. Ia meletakkan kotak kayu jati milik Damar dengan pelan dan sopan.
"Kamu meninggalkan kotak ini di studio galeri," ujar Rania, suaranya mengalun tenang dan jernih. "Bagus menemukan ini terselip di bawah kanvas. Saya ke sini cuma mau mengembalikan milikmu, Mas."
Damar meletakkan kuasnya di atas palet cat. Bukannya menyambut kebaikan itu dengan kehangatan atau ucapan terima kasih, raut wajah Damar justru mengeras. Sorot matanya memancarkan ketegangan yang defensif, seolah kehadiran Rania adalah sebuah ancaman.