Perjalanan pulang dari Parakan menuju Yogyakarta malam itu diwarnai oleh keheningan yang teramat pekat dan menyiksa di dalam kabin mobil van tua milik Pustaka Restorasi. Dika, yang memegang kemudi, tak berani sedikit pun memutar musik radio atau sekadar membuka obrolan ringan untuk memecah kesunyian. Ia dapat meredam aura ketegangan yang amat pekat dari sampingnya. Di sana, Rania duduk bersedekap dengan kaku, menatap lurus ke kegelapan jalanan berliku yang menembus kabut tebal Temanggung. Garis wajahnya mengeras, dan bibirnya terkunci rapat tanpa celah.
Bagi Rania, benturan ego di studio batu bata merah Kauman sore tadi telah menggores luka baru yang sangat asing dan membakar. Setiap tuduhan tajam yang dilontarkan Damar—“Saya bukan ekor dari idealismemu!”—bergaung berulang kali di dalam ruang kepalanya bagai dentang lonceng tunagrahita yang bising. Kata-kata itu terus menusuk, merobek rasa percaya yang selama ini ia bina dengan susah payah.
Setibanya di rumah restorasi menjelang tengah malam, Rania bahkan tidak memberikan ruang bagi dirinya sendiri untuk meratap atau sekadar menumpahkan air mata. Seperti seorang prajurit yang menutup rapat pintu bentengnya usai kekalahan perang, ia langsung mencelupkan seluruh jiwa dan raganya ke dalam tumpukan pekerjaan.
Rania menarik kursi kayu jatinya, memasukkan lembaran kertas kuarto kosong ke dalam rol mesin ketik tua peninggalan Bapak, dan mulai mengetik dengan membabi buta. Tumpukan draf naskah dari para penulis muda yang sempat terbengkalai selama dua bulan terakhir kini diselesaikannya satu per satu tanpa henti. Ketukan jemarinya pada tuts besi mesin ketik berirama cepat, konstan, dan nyaring memecah heningnya malam Kotabaru—mulai dari garis fajar menyingsing hingga larut malam kembali menjelang.
"Nya, kamu harus berhenti sebentar dan istirahat," tegur Mas Andra pada suatu malam, melangkah pelan mendekati meja kerja Rania seraya meletakkan secangkir teh hangat yang masih berasap. Matanya memancarkan rasa khawatir yang amat dalam mendapati lingkaran hitam yang kian menebal di bawah mata adiknya. "Kamu sudah bekerja hampir enam belas jam sehari sejak pulang dari Parakan. Ini sama sekali tidak sehat, Nya."
Rania sama sekali tidak menghentikan ayunan cepat jemarinya di atas tuts mesin ketik. Dentang besi beradu kertas masih bersahut-sahutan.
"Rania tidak apa-apa, Mas. Rania sehat," sahut Rania dengan suara serak namun datar tanpa emosi. "Justru kalau Rania diam dan melamun sebentar saja, pikiran Rania mendadak penuh dengan hal-hal bodoh yang tidak ada gunanya. Lebih baik energi ini dipakai buat menyelesaikan draf naskah dan merilis buku-buku penulis muda kita. Mereka butuh kepastian."