Enam bulan telah berlalu sejak benturan ego yang melukai batin di studio tua Parakan. Musim hujan kembali menyelimuti kota Yogyakarta dengan derai yang tiada henti, membasahi trotoar sepanjang Jalan Malioboro, menggenangi pelataran batu di lorong-lorong kota tua, dan menetes riuh dari pinggiran atap seng Pasar Beringharjo. Udara dingin yang mengendap di sudut-sudut kota membawa aroma tanah basah dan jelaga kendaraan—sebuah suasana melankolis yang seolah cermin dari perasaan Rania yang tak pernah benar-benar pulih.
Pagi itu, Rania melangkah menyusuri lorong bagian dalam Pasar Beringharjo. Langkah kakinya yang beralas sandal kulit melintasi lantai ubin tua yang licin dan basah. Ia tidak datang seorang diri; Dika menyertainya seraya membawakan tas kanvas besar untuk menampung barang-barang keperluan penerbitan. Kedatangan mereka ke pasar tradisional yang selalu riuh itu adalah untuk mencari beberapa gulungan kain tenun ikat tradisional. Rania berencana menggunakan kain-kain tersebut sebagai sampul edisi terbatas dari buku peringatan satu tahun kebangkitan Pustaka Restorasi—sebuah proyek yang dikerjakannya dengan seluruh sisa jiwa dan tenaganya.
"Mbak Rania, Dika naik ke lantai dua sebentar ya?" panggil Dika sedikit berteriak, mencoba mengalahkan keriuhan suara para pedagang jamu dan penjual kain yang saling bersahutan. "Dika mau cek stok kertas daur ulang dan serat pisang di langganan kita."
Rania membetulkan posisi selendang kain tenun yang melilit hangat di bahunya, lalu mengangguk pelan. "Iya, Dik. Pergi saja dulu. Mbak mau memilah warna kain di kios Bu Warso di lorong belakang."
"Siap, Mbak. Nanti kalau sudah selesai, Dika samperi ke bawah," sahut Dika seraya melangkah cepat membaur bersama kerumunan pengunjung yang memadati tangga semen menuju lantai atas.
Sepeninggal Dika, Rania melanjutkan langkahnya sendirian. Ia menyusuri lorong-lorong sempit yang diapit oleh tumpukan kain batik, tenun, dan kebaya yang memancarkan aroma malam serta rempah yang sangat khas. Pasar Beringharjo pagi itu begitu hidup, riuh oleh tawar-menawar harga dan dentang gerobak panggul. Namun, di dalam kepala Rania, ada ruang sunyi yang tak pernah sanggup diisi oleh keriuhan apa pun.
Langkah kaki Rania memelan saat ia mendekati sebuah toko tua yang menjual bahan kerajinan, pigmen pewarna tekstil, dan cat minyak tradisional di bagian belakang lorong pasar. Toko itu terhimpit di antara pedagang keranjang bambu dan penjual barang antik, menebarkan wangi minyak cat, kayu lapuk, dan terpentin yang sangat tajam.
Aroma terpentin itu ... aroma yang serta-merta menghentikan detak jantung Rania.
Rania terpaku di tengah lorong sempit. Tatapannya terkunci pada seorang pria yang sedang berdiri di depan meja kayu toko tersebut. Pria itu mengenakan kemeja linen kelabu kusam yang bagian ujung lengannya digulung hingga siku, dengan tas kanvas tebal yang melilit kaku di bahunya. Pria itu tengah membungkuk, meneliti beberapa botol kaca berisi pigmen warna alami bersama sang pemilik toko.
Jantung Rania berdegup kencang secara mendadak, menghantarkan sengatan hangat yang menjalar cepat ke seluruh pembuluh darahnya hingga ke ujung jemari. Napasnya tertahan di tenggorokan.
Damar.
Pria itu rupanya telah kembali ke Yogyakarta tanpa sepengetahuan siapa pun di lingkungan Pustaka Restorasi.
Seolah-olah ikatan batin yang tak kasat mata bergerak melintasi kerapatan udara pasar yang sesak, Damar mendadak menghentikan bicaranya dengan pemilik toko. Pria itu terdiam sejenak, lalu memutar tubuhnya perlahan. Botol kaca berisi pigmen warna terracotta yang sedang dipegangnya hampir saja merosot dari jemarinya saat matanya bertaut langsung dengan pandangan Rania.
Keheningan seketika menyergap di antara mereka berdua. Suara teriakan pedagang, riuh tawar-menawar kain, dan derai hujan yang menghantam atap seng pasar seolah lenyap berangsur-angsur. Waktu merambat sangat lambat di antara tumpukan kain tenun dan botol-botol cat minyak tua.