Melawan Arus: Jejak Rania

Sutan Azis
Chapter #21

Redupnya Dinding Ego

Dua minggu setelah pertemuan tak terduga yang meninggalkan sengatan canggung di lorong Pasar Beringharjo, Yogyakarta seolah enggan berganti suasana. Gerimis tipis masih konsisten membasahi sudut-sudut kota setiap sore, menyisakan aroma tanah basah dan asap kayu bakar yang mengendap pekat di udara.

Bagi Rania, bayangan Damar yang berdiri di depan toko cat tua—dengan mata cokelat gelapnya yang memancarkan kejujuran dan rasa bersalah—terus berputar tanpa henti di dalam kepalanya. Pertemuan singkat itu meretakkan dinding pertahanan yang telah ia bangun selama setengah tahun. Rania menyadari satu hal yang teramat menyiksa: amarah dan kesibukan ekstrem yang ia jalani selama ini hanyalah tameng palsu untuk menyembunyikan kenyataan bahwa jiwanya merindukan kehadiran sang pelukis.

Malam itu, Taman Budaya Yogyakarta menjadi pusat keriuhan budaya. Sebuah perhelatan seni rupa dan literasi independen berskala besar akhirnya resmi dibuka. Pustaka Restorasi didapuk menjadi salah satu penyelenggara utama area literasi, sementara kolektif Galeri Bentang Seni diundang untuk mengisi instalasi visual di ruang pameran utama.

Lampu-lampu gantung bermangkuk tembaga membiaskan cahaya keemasan yang hangat ke seluruh pelataran pendopo. Ratusan pengunjung—mulai dari mahasiswa, sastrawan, hingga perupa kawakan—memadati ruangan. Diskusi buku berlangsung riuh, diselingi dentang cangkir kopi dan aroma rokok kretek yang membubung tipis di bawah atap kayu tua.

Sebagai penggerak utama acara, Rania menghabiskan tiga jam pertama dengan berdiri, menjawab pertanyaan wartawan lokal, melayani pembeli buku, dan memberikan kata sambutan di panggung kecil. Wajahnya dihiasi senyum ramah, namun di dalam dadanya, ada kelelahan hebat yang perlahan menggerogoti tenaganya.

Begitu acara diskusi utama selesai dan perhatian pengunjung teralih pada pertunjukan musik akustik di halaman depan, Rania mencuri kesempatan untuk melangkah mundur. Ia berjalan menuju area belakang gedung utama—sebuah lorong pendopo tua yang sepi dan berhadapan langsung dengan pekarangan rumput basah.

Gerimis tipis masih menetes dari teritisan atap kayu. Rania menyandarkan punggungnya pada tiang pendopo bermotif ukiran Jepara, memejamkan mata sejenak, lalu menyesap cangkir teh hangat di tangannya. Udara malam yang dingin menusuk hingga ke tulang, namun Rania membiarkannya, menikmati ketenangan singkat dari riuhnya kerumunan di dalam.

Langkah kaki bersol sepatu kulit yang berkerit pelan di atas lantai kayu tua mendadak terdengar mendekatinya dari arah lorong.

Rania membuka matanya perlahan.

Di sana, berdiri seorang pria dengan kemeja linen kelabu kusam yang dilapisi jaket katun tua. Tangan kirinya memegang dua cangkir seng berisi kopi hitam panas yang masih membubungkan asap nipis.

Damar.

Pria itu tidak lagi memakai raut wajah defensif dan penuh amarah seperti saat di Parakan, tidak pula membawa raut canggung yang gagap seperti di Beringharjo. Matanya menatap Rania lurus-lurus—sebuah tatapan yang jernih, pasrah, dan sarat akan ketulusan yang murni.

"Boleh saya duduk di sini, Rania?" tanya Damar pelan. Suaranya terdengar hangat, mengalahkan derai gerimis tipis di pelataran.

Lihat selengkapnya