Pagi itu, udara di pekarangan rumah restorasi di kawasan Kotabaru terasa hangat oleh pendar matahari musim kemarau. Dedaunan pohon mangga tua yang tumbuh rindang di sudut halaman bertiup pelan disapu angin kering. Cahaya menerobos celah-celah daun, menciptakan pola bayangan dinamis yang menari-nari di atas ubin teras dan meja kayu jati tua tempat mesin ketik Rania biasanya bertengger.
Namun, ketenangan pagi itu mendadak menguap saat derap langkah kaki yang terburu-buru mendekati pintu gerbang kayu.
Damar datang berkunjung. Pria itu tidak membawa tas melukis atau gulungan kanvas seperti biasanya. Di tangan kanannya, ia menjinjing sebuah koper kulit tua berdinding tebal, sementara di bahunya melilit sebuah tas kanvas besar yang sarat muatan. Wajahnya tampak tenang—sebuah ketenangan yang teramat kaku, asing, dan memancarkan isyarat dingin bahwa sebuah keputusan besar telah diambil tanpa melibatkan siapa pun, apalagi Rania.
Mas Andra dan Dika sedang pergi ke luar kota sejak subuh untuk mengurus pencetakan edisi reguler dan distribusi buku di Kulon Progo, menyisakan Rania seorang diri di dalam rumah restorasi.
Rania yang sedang menyeduh teh di dapur mendengar langkah kaku itu. Ia melangkah keluar membawa cangkir seng, namun gerakannya terhenti seketika di ambang pintu. Tatapannya terkunci rapat pada koper kulit di samping kaki Damar. Dalam sekejap, dada Rania dipenuhi oleh firasat buruk yang menghimpit rongga dadanya.
"Mas Damar ... mau ke mana?" tanya Rania, suaranya tertahan di tenggorokan, pelan namun bergetar hebat.
Damar tidak langsung menjawab. Ia melangkah naik ke teras kayu, meletakkan kopernya dengan dentum pelan yang bergema menyiksa. Pria itu berdiri tegak, bersedekap, dan menatap Rania dengan raut wajah penuh ketegasan yang kaku—sebuah topeng kaku yang dipasangnya untuk menyembunyikan kerapuhan.
"Saya mendapat tawaran residensi seni dan beasiswa melukis di Paris selama tiga tahun, Rania," tutur Damar. Kalimat itu meluncur begitu datar dari bibirnya, seolah ia sedang membacakan pengumuman cuaca. "Saya sudah menandatangani berkas kesediaannya kemarin sore. Minggu depan saya berangkat ke Jakarta untuk pengurusan visa."
Rania terpaku di tempatnya berdiri. Cangkir seng di tangannya bergetar tipis, hingga lelehan teh hangat membasahi jemarinya. Jawaban yang keluar begitu mudah dan tanpa beban dari mulut Damar menghantam dadanya bagai letupan sunyi yang menghancurkan seluruh pertahanannya.