Hari-hari yang bergulir setelah pertengkaran dahsyat di bawah naungan pohon mangga tua itu berlalu dalam ritme yang amat lambat, sunyi, dan menyiksa. Rumah restorasi di Kotabaru seolah kehilangan denyut jiwanya. Keputusan perpisahan telah diambil—sebuah keputusan getir yang lahir bukan karena pudarnya rasa cinta, melainkan karena kepasrahan dua jiwa atas sekat batin dan ketakutan mendalam yang tak sanggup mereka lompati bersama.
Ketika Mas Andra dan Dika kembali dari perjalanan dinas percetakan di Kulon Progo pada sore harinya, mereka mendapati keheningan yang mengendap begitu tebal di pekarangan. Rania duduk membisu di meja teras depan dengan jemari yang terkulai di atas mesin ketik tua tanpa menekan satu tuts pun, sementara matanya membengkak merah. Koper kulit tua milik Damar sudah tidak ada lagi di teras, namun aura keputusasaan masih tertinggal pekat di udara.
Mas Andra yang bijaksana cukup mengamati lingkaran hitam di bawah mata adiknya dan raut wajah Rania yang hampa untuk memahami bahwa sesuatu yang teramat besar dan merusak telah terjadi. Pria itu tidak mengajukan satu pun pertanyaan yang menghakimi. Ia hanya melangkah mendekat, mengusap bahu adiknya dengan remasan lembut seraya menghembuskan helaan napas berat, memberi ruang bagi Rania untuk memproses duka jiwanya sendiri.
Malam terakhir Damar di Yogyakarta pun akhirnya tiba, dibawa oleh hembusan angin kemarau yang mendingin tajam.
Sekitar pukul delapan malam, gerbang kayu pekarangan bersuara pelan. Damar datang untuk menyampaikan pamitan secara resmi. Pria itu mengenakan kemeja linen kelabu yang rapi namun wajahnya tampak tirus dan pucat. Makan malam keluarga kecil yang disiapkan oleh Mas Andra malam itu terasa begitu kaku dan hening. Denting sendok yang beradu dengan piring porselen tua terdengar bagai ketukan penanda waktu yang terus berpacu, menghitung detik demi detik menuju detik lepas landas yang tak terelakkan.
Seusai makan malam, Mas Andra dan Dika dengan sengaja pamit masuk ke dalam ruang tengah untuk menyelesaikan pekerjaan administrasi, memberi ruang penuh bagi Rania dan Damar untuk menyelesaikan babak terakhir kisah mereka.
Udara malam Kotabaru berhembus cukup kencang, menggoyangkan lampu gantung bermangkuk tembaga di teras depan. Pendar cahaya keemasan yang temaram menimpa meja kayu jati, membiaskan bayangan panjang pada mesin ketik peninggalan Bapak.
Damar dan Rania duduk bersisian di kursi kayu teras, berjarak satu jengkal yang terasa bagai jurang pemisah antar benua. Tidak ada pertengkaran atau nada suara tinggi malam ini. Yang tersisa hanyalah kepasrahan yang pekat dan kepedihan yang teramat murni.
Damar merogoh saku dalam dari jaket katun yang dikenakannya. Jemarinya yang agak gemetar mengeluarkan sebuah amplop surat berwarna putih polos tanpa perangko, tanpa alamat tujuan, dan tanpa nama pengirim. Dengan gerakan yang teramat pelan dan penuh kehati-hatian, Damar meletakkannya tepat di samping rol mesin ketik Rania.
Rania merapatkan selendang tenun di bahunya untuk menghalau dingin malam, lalu mengalihkan tatapannya pada amplop putih tersebut. Dadanya berdesir pedih, dihantam oleh gelombang kecemasan yang teramat asing.
"Ini apa, Mas?" tanya Rania pelan, suaranya parau dan tipis.
"Surat untukmu," tutur Damar lembut, suaranya rendah dan sarat akan penyesalan yang mendalam. "Saya mohon ... jangan dibaca sekarang. Buka dan bacalah besok malam ... saat pesawat saya sudah berada di udara, melintasi samudera menuju Paris."
Rania menunduk rapat, meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan hingga kuku-kuku jarinya memutih kaku. "Kenapa harus lewat surat, Mas? Kenapa semua hal yang ingin kamu sampaikan tidak kamu katakan langsung sekarang di depan saya?"
Damar menghela napas panjang, berpaling menatap gelapnya pekarangan sebelum kembali mengunci pandangannya pada raut wajah Rania. Matanya yang cokelat gelap memancarkan keharuan yang meluap-luap.
"Karena kalau saya mengatakannya langsung saat menatap sepasang matamu malam ini, Rania ...." Damar terhenti sejenak. Tenggorokannya menyempit, menahan getaran emosi yang membakar dadanya. "Saya takut keteguhan dan pertahanan saya akan runtuh total. Saya takut saya akan melempar paspor dan tiket penerbangan itu ke tanah, lalu berlutut memohon kepadamu untuk membiarkan saya tinggal di Jogja. Padahal kita sama-sama tahu, jika saya melakukan itu, kita hanya akan memutar kembali lingkaran konflik dan saling melukai dalam ketidakjelasan status ini."