Melawan Arus: Jejak Rania

Sutan Azis
Chapter #25

Jejak Terracotta di Ujung Waktu

Dua tahun berlalu sejak gema langkah kaki Damar menghilang di balik gerbang kayu rumah restorasi Kotabaru. Dua tahun yang tidak berlalu dengan hening, melainkan diisi oleh deru waktu yang terus bergerak tanpa menanti jiwa-jiwa yang sempat runtuh untuk sepenuhnya pulih.

Yogyakarta telah melewati dua kali siklus musim kemarau dan hujan. Udara kota itu tetap menyimpan aroma yang sama: tanah basah usai gerimis sore, wangi sangrai kopi dari kedai-kedai kecil di lorong gang, serta debu koran dan kertas daur ulang yang membumbung di pekarangan rumah restorasi. Namun, bagi Rania, ada bentuk ketenangan baru yang mengendap di dalam dadanya—sebuah ketenangan yang tidak lagi lahir dari amarah atau penyangkalan, melainkan dari kepasrahan yang telah mendalam dan matang.

Di bawah kepemimpinan Rania bersama Mas Andra dan Dika, Pustaka Restorasi berkembang menjadi sebuah kekuatan literasi independen yang sangat disegani di kancah nasional. Rumah tua bernuansa Jawa-kolonial di Kotabaru itu kini bukan sekadar tempat mencetak naskah, melainkan telah menjelma menjadi ruang perlindungan bagi para penulis muda, penyair daerah, dan pemikir kebudayaan dari berbagai pelosok nusantara.

Pagi itu, pendar matahari menyusup lembut di antara rimbunnya dedaunan pohon mangga tua. Rania duduk di meja kayu jati teras depan. Mesin ketik tua peninggalan Bapak masih setia bertengger di sana, dengan pita hitam yang baru diganti. Jemari Rania yang lincah menari di atas tuts-tuts besi, menyuarakan ritme ketukan yang teratur dan penuh kepastian. Ia sedang menyelesaikan bab terakhir dari novel terbarunya—sebuah karya paling personal yang ditulisnya selama delapan belas bulan terakhir.

"Mbak Rania," panggil Dika seraya melangkah cepat keluar dari dalam rumah, membawa sekeranjang surat dan koran pagi. Wajah pemuda itu tampak berseri-seri. "Ada surat dari penerbit mitra kita di Jakarta, plus koran kebudayaan edisi Minggu. Dan ... lihat ini, Mbak."

Dika meletakkan sebuah majalah seni rupa internasional berbahasa Prancis berpelindung plastik transparan tepat di samping mesin ketik Rania.

Mata Rania tertuju pada sampul depan majalah tersebut. Jantungnya berdesir pelan—sebuah desiran hangat yang sudah sangat dihafalnya. Di sampul majalah itu, terpampang sebuah lukisan cat minyak berskala raksasa. Lukisan itu menampilkan siluet sebuah mesin ketik tua yang diselimuti oleh gradasi warna terracotta yang teramat pekat, hangat, dan bernyawa, bersanding dengan figur abstrak seorang perempuan yang melangkah anggun menembus kabut.

Di bagian bawah sampul, tertulis nama sang pelukis dalam huruf kapital yang tegas: DAMAR SEJATI.

"Pameran tunggal Mas Damar di Galerie d'Art Paris sukses besar, Mbak," bisik Dika dengan nada kagum yang tak tertahan. "Kritikus seni di sana menyebut warna terracotta pada karya-karyanya sebagai 'jiwa dari timur yang membakar benua Eropa'."

Rania menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan seraya menyunggingkan senyum paling tulus dan paling jernih dari bibirnya. Ia mengusap permukaan majalah bertekstur licin itu dengan ujung jemarinya. Tidak ada tetesan air mata yang jatuh, tidak ada isak sesak yang menyiksa seperti dua tahun lalu. Yang tersisa di dalam dadanya hanyalah rasa bangga yang luar biasa agung atas pencapaian jiwa sepadannya.

"Dia menepati janjinya, Dik," tutur Rania lembut, hampir berupa bisikan untuk dirinya sendiri. "Warna terracotta itu ... tidak pernah padam."

Sore harinya, Taman Budaya Yogyakarta kembali menjadi saksi puncak perayaan literasi. Hari itu adalah peluncuran novel terbaru Rania yang diberi judul Jejak di Atas Kanvas. Ratusan pembaca, pengamat sastra, dan kawan-kawan perupa memadati pendopo utama.

Di atas panggung sederhana berdinding kain tenun ikat, Rania duduk memegang mikrofon. Pakaiannya sederhana: kebaya katun putih polos dipadu dengan selendang tenun cokelat tua yang melilit anggun di bahunya. Angin sore berhembus lembut, menerbangkan beberapa helai rambutnya yang tertata rapi.

Seorang moderator muda memajukan tubuhnya, menatap Rania dengan penuh rasa ingin tahu sebelum mengajukan pertanyaan penutup diskusi:

"Mbak Rania, di bagian penutup novel ini, Anda menuliskan sebuah dedikasi yang teramat indah tentang cinta yang memilih untuk tidak saling memiliki demi menjaga kemerdekaan masing-masing. Pertanyaan saya ... apakah keputusan untuk melepaskan itu adalah sebuah kekalahan, ataukah justru bentuk tertinggi dari sebuah kemenangan?"

Suasana pendopo yang tadinya riuh seketika mendadak hening. Ratusan pasang mata tertuju pada Rania, menantikan jawaban dari penulis yang dikenal tangguh dan tajam tersebut.

Rania menggenggam mikrofon di tangannya, memandang jauh menembus kerumunan pengunjung, melintasi teritisan atap pendopo menuju langit sore Yogyakarta yang bersemburat jingga keemasan. Memori akan pertengkaran emosional di bawah pohon mangga, kehangatan pelukan terakhir di bawah pendar lampu teras, dan lembaran surat tanpa perangko yang ditinggalkan Damar berputar perlahan di dalam ingatan jiwanya.

Lihat selengkapnya