Melelah Tuah: Kala

Fajriy Arunna
Chapter #1

Dua Siluet di Atas Punggung Kuda

DUA SILUET DI ATAS PUNGGUNG KUDA

“Fajar membawa dingin yang membasuh dahaga jiwa; di hadapan Sang Maha Kuasa, tidak ada rahasia yang tak berujung terang.”

♦♦♦

Jumat pertama di bulan November menyapa kembali dengan sinis, membawa riuh Hari Pasaran yang biasanya terasa seperti nyanyian. Namun bagi Kala, gema pasar itu kini terdengar seperti orkestra yang sumbang. Kala ingin sehari saja tidak menjadi pusat perhatian orang-orang. Pasalnya, di tempat magang, di perjalanan pulang, bahkan di dekat rumah sekalipun, mereka tak hentinya mempertanyakan kepastian hari pernikahan yang dirinya pun tak punya jawaban. Di dunia di mana negara memeras setiap jengkal hidup lewat pajak siber yang mencekik, kepastian adalah kemewahan yang mahal. Dan bagi Kala, kemewahan itu dikunci rapat oleh tunangannya sendiri.

Suara iqomah telah lama menghilang, terserap oleh pori-pori dinding kayu yang tua. Kala berdiri mematung di sudut kamar, menatap jendela yang terbuka sedikit. Hatinya membatu. Bagaimana dia harus menatap Jiva hari ini? Ini adalah tahun ketujuh dia membiarkan cincin pertunangan mereka—yang melingkar sejak ia lulus sekolah di usia delapan belas—menjadi hiasan tanpa arti. Dua kali sudah Jiva membiarkan tanggal pernikahan mereka menguap begitu saja. Apakah benar semua penundaan ini hanya karena Jiva belum menemukan asal-usulnya, ataukah ada rahasia lain yang lebih besar?

Sambil mengembuskan napas berat, Kala memaksa kakinya bergerak. Dinginnya air wudu membasuh wajah dan mengalir di sela jemarinya, perlahan meluruhkan penat yang merayapi batin. Di atas sajadah, ia menunaikan dua rakaat salat Subuh—menundukkan dahi dan memasrahkan seluruh gemuruh dadanya di hadapan Sang Maha Pemilik Takdir, mencari ketenangan yang hari luput dari benaknya.

Dua puluh menit kemudian, kedamaian ibadah itu perlahan surut saat ia selesai melipat sajadah. Sebelum meraih pakaiannya, langkah Kala tertahan di depan cermin kayu yang buram di sudut kamar. Ia melepas mukenanya, membiarkan pantulan dirinya menyapa dalam temaram fajar.

Di dalam kaca, sepasang mata bulat dengan kelopak ganda, hidung yang cenderung tumpul, dan kulit sawo matang menatapnya balik. Itu adalah fitur wajah khas Nuswatantra murni yang ia warisi dari ayahnya. Namun, ketika pandangannya turun ke arah bahu dan rahang, rasa sesak itu kembali mencuat. Bahunya terlalu tegap dan lebar untuk ukuran wanita desa, bidang yang terbentuk kokoh karena bertahun-tahun mengendalikan kuda dan mengangkat pakan ternak. Rahangnya tegas, menyiratkan kesan gempal yang jauh dari standar keanggunan feminin yang diagungkan masyarakat. Di wilayah di mana wanita ideal adalah mereka yang bertubuh ramping dan gemulai, Kala merasa dirinya tampak terlalu maskulin—seperti sebongkah kayu jati yang dipahat kasar, alih-alih hiasan ukir yang halus.

Siapa yang mau bersanding dengan wanita sekaku ini? bisik hatinya sinis.

Jiva, dengan segala pesona fisik dan pembawaannya yang nyaris sempurna, terasa terlalu mewah untuknya. Ketidaksetaraan itu selalu ada, berbisik di telinganya setiap kali orang-orang mempertanyakan pernikahan mereka. Kala kerap dirongrong cemas bahwa penundaan Jiva terjadi karena pria itu perlahan sadar ia pantas mendapatkan wanita yang lebih “wanita” daripada dirinya.

Ia memutus tatapannya dari cermin, lalu asal mengenakan kaus lengan panjang dan rok batik hijau pastel senada—berusaha membungkus tubuh gempalnya agar terlihat lebih pantas. Ada getaran dalam hati yang membuatnya ragu melangkah keluar. Pertanyaan bagaimana jika Jiva menunda lagi ... dan bagaimana ia menjawab pertanyaan orang-orang ... terus berputar seperti pusaran air di kepala. Selangkah demi selangkah sneakers-nya menjejak tanah merah basah di luar rumah, ketakutan di kepalanya semakin riuh mengambil alih pikiran.

Di kebun di samping rumah Bibi, Jiva dan beberapa pekerja sedang mempersiapkan sayur-mayur untuk dijual. Jiva tampak menuntun Marra, kuda cokelat milik Bibi, untuk menarik pedati dagangan. Di era pasca-teknologi ini, ketika mata uang digital pemerintah melacak setiap transaksi untuk ditarik pajak, kembali ke cara hidup agraris dan menggunakan kuda adalah bentuk perlawanan sipil yang nyata. Hari ini, giliran Sadi yang akan membantu pria itu di pasar barter.

Jiva menghampiri Kala dengan senyum yang sulit diabaikan. Lesung pipit di kedua pipinya kontras dengan guratan lelah di dahi—guratan yang Kala maklumi sebagai sisa letih setelah berminggu-minggu berlayar mengawal komoditas jalur laut ke pulau seberang, meski terkadang lelah itu terasa terlalu ganjil untuk sekadar seorang penjaga kargo. Postur tubuh Jiva yang tinggi tegap, melebihi rata-rata orang Nuswatantra, memaksa Kala mendongak demi tak melewatkan senyum itu.

Melihat Jiva dari dekat selalu membuat Kala merasa kerdil. Jiva begitu proporsional, sementara Kala melirik jemarinya sendiri yang kapalan dan kasar akibat terlalu sering memegang tali kendali.

Lihat selengkapnya