JAMUR KARANG DAN POHON PURING
“Di atas tanah yang ditanami duka, ketabahan adalah bunga yang tumbuh paling sunyi di hadapan Sang Maha Kuasa.”
♦♦♦
Kala lebih dulu menyantap nasi yang diberikan Jiva. Tangannya yang gemetar menyuapkan nasi perlahan ke mulut. Ia bahkan tidak memerhatikan dengan saksama lauk telur dadar dan rempeyek yang memenuhi daun jati hingga menutupi nasi, sampai Jiva sendiri yang menyebutkannya.
“Itu rempeyek jamur karang,” ujar Jiva, matanya menatap Kala dengan kehangatan yang tulus. “Tadi aku barter dengan orang Iatala di jalan bawah. Aku tahu kamu menyukainya setelah demam semalam.”
Kala tertegun sejenak, kunyahannya melambat. Ia tahu benar jamur karang dari gunung atas sangat sulit didapat di sabana dan nilai barternya lumayan mahal. Jiva pasti telah menukar beberapa ikat komoditas terbaik dari kebun Bibi hanya demi menyenangkan lidahnya.
Namun, Jiva segera mengalihkan pembicaraan seolah pengorbanan itu bukan hal besar. Ia berbalik dan merogoh kantong pelana Kharsa. “Oh ya, pedagang kain langganan Bibi juga menitipkan ini tadi di pasar. Motif ombak dan pohon kelapa. Dia menolak dibarter.”
Kala menatap Jiva tajam, sengaja menghindari pendar hijau di sepasang mata pria itu yang ia hafal betul akan terlihat begitu jelas di bawah sinar matahari fajar jika tidak disamarkan oleh lensa kontak cokelatnya. Jiva melupakan satu detail penting, dan Kala harus mengingatkannya. Ia meletakkan sisa nasi yang tidak dihabiskannya, menyeka jemarinya dengan saputangan kain yang ia ambil dari saku rok.
Kala bahkan tidak menunggu Jiva menyelesaikan suapan ketika menyinggung hal itu. “Kain itu bukan kain batik biasa, Jiva. Bibi memesannya khusus untuk hari pernikahan. Sudah kali kedua atau ketiga Bibi memesan motif terbaru. Pedagang itu hafal, lalu memberikannya cuma-cuma sebagai bentuk prihatin.”
Kala bangkit berdiri, memilih untuk berpindah duduk di bawah pohon yang lain. Ia membiarkan Jiva mencerna sendiri maksud ucapannya.