Melelah Tuah: Kala

Fajriy Arunna
Chapter #3

Kupu-Kupu yang Mengepakkan Sayapnya

KUPU-KUPU YANG MENGEPAKKAN SAYAPNYA

“Di tepi senja yang luruh, ada rasa haus yang menuntut lebih dan panggilan langit yang menyadarkan nurani.”

♦♦♦

Jiva tidak menjemputnya sore itu, tidak juga dua hari berturut-turut setelahnya. Baru pada hari ketiga, pria itu tampak menunggu kepulangan Kala di depan kantor tempatnya magang. Namun, Kala keluar jauh lebih telat dari biasanya hari ini, dan Jiva tidak datang sendirian.

Wanita yang berdiri di sebelah Jiva terlihat begitu asing sekaligus familier di mata Kala. Wajahnya masih bisa dikenali sekilas, meski telah mengalami perubahan ekstrem yang entah merupakan hasil operasi kosmetik ibu kota atau sekadar kepiawaian riasan wajah yang tebal. Sebuah pembuktian telak bahwa wanita itu telah sepenuhnya merdeka dari kekangan orang tuanya di Nuswatantra yang dulu begitu membenci kegemarannya merias diri.

“Sasmaya?” Sapaan Kala lebih terdengar seperti pertanyaan yang ditujukan pada dirinya sendiri.

“Kala!” Wanita itu langsung menyergap Kala dalam sebuah pelukan yang terasa tulus.

Namun, pelukan itu seketika melempar ingatan Kala mundur ke tujuh tahun lalu. Ke malam di mana Sasmaya menemuinya dengan mata sembab tepat setelah cincin pertunangan melingkar di jari Kala. Malam di mana sahabatnya itu akhirnya mengaku bahwa selama ini ia memendam cinta yang besar untuk Jiva dalam diam, sebelum akhirnya pamit melarikan diri ke Mandaciti membawa patah hatinya.

“Aku turut senang kau bisa mengejar mimpimu di sini, Kala. Sudah berapa lama bekerja di tempat ini?” tanya Sasmaya seraya melepaskan pelukannya. Wajahnya berseri-seri, sama sekali tidak menyisakan jejak luka masa lalu.

“Baru beberapa bulan. Kamu juga terlihat ... sukses.”

“Tentu saja,” Sasmaya tersenyum bangga. Ia sengaja melirik Jiva sedetik dengan dagu sedikit terangkat. “Mandaciti membuka pintu kesempatan lebar-lebar untukku, memberiku tempat yang bagus di bidang seni hiburan.”

Sasmaya kemudian sibuk merogoh sesuatu di dalam tas peraknya. Sembari jemari Sasmaya mengaduk isi tas, keheningan sesaat itu menarik Kala kembali pada masa-masa sekolah dulu.

Dulu, Kala sengaja mengakui Jiva sebagai pacarnya demi melindungi pria itu dari perhatian berlebihan gadis-gadis—yang ironisnya, Sasmaya ternyata salah satu dari mereka. Kepura-puraan yang semula menjadi tameng pelindung Jiva karena ketampanannya yang mencolok, perlahan berubah menjadi jerat ketika Jiva tiba-tiba menyatakan cinta sungguhan di usia Kala yang kelima belas, tepat saat Galen—kakak kelas mereka yang berpengaruh—sedang gencar-gencarnya mendekati Kala.

Lihat selengkapnya