Melelah Tuah: Kala

Fajriy Arunna
Chapter #4

Ilalang Sunyi yang Terbelah

ILALANG SUNYI YANG TERBELAH

“Ketika bayang-bayang manusia lenyap di balik pekatnya malam, hanya pada-Nya tempat lari setiap keputusasaan.”

♦♦♦

​Malam bergulir, membawa dingin dari titik-titik gerimis yang sedikit demi sedikit menjadi genangan di tanah Salia—yang beberapa hari ini tak tersapa hujan. Distrik tengah Pulau Nuswatantra ini biasanya riuh oleh suara burung dan hewan malam yang bersahutan, mengiringi Kala meramu harapan di atas lelah dalam mimpi. Namun malam ini, desau dedaunan yang bergesekan di luar sana tergetar seumpama lambaian yang mencemaskan.

​Ketika ketukan pelan mengusik malam, mata Kala langsung terbuka. Ia mengenali irama itu. Ketukan pelan yang kerap, berganti satu-satu teratur, diakhiri dengan dua ketukan berat. Sebuah sandi yang Jiva ajarkan agar Kala selalu waspada di tengah sunyinya sabana Salia.

​Tubuh Kala yang rebah seketika tegak. Tangannya menyibak tirai dengan tidak sabar, lalu ia melangkah cepat mendekati jendela.

​”Jiva,” panggilnya lirih. Ada desir hangat yang sempat naik ke pipinya mengingat kejadian sore tadi, namun dengan cepat digantikan oleh rasa bersalah yang sejak magrib tadi menggelayuti benaknya. Kala merapatkan belahan pakaian tidurnya, mencoba menjaga jarak aman yang selama tujuh tahun ini selalu mereka patuhi.

​Namun, kegembiraan yang bercampur kecanggungan itu mendadak surut begitu matanya menangkap gelisah yang tertahan di balik raut wajah pria itu saat ia membuka pintu.

​Kala menekuri setiap detail seragam khaki Jiva—logo perusahaan logistik laut di dadanya, bekas noda tanah yang samar, titik-titik basah gerimis yang mulai menyebar, serta lipatan tak beraturan tanda baju itu belum sempat disetrika. Jiva tampak kusut, seolah sedang dikejar oleh sesuatu yang tidak kasatmata.

Lihat selengkapnya