Melelah Tuah: Kala

Fajriy Arunna
Chapter #5

Firasat yang Tertinggal

FIRASAT YANG TERTINGGAL

“Ketika jejak manusia lenyap ditelan rahasia, takdir menguji sejauh mana ketabahan sanggup bertahan di antara perihnya tanya dan tulusnya kepasrahan.”

♦♦♦

Deru mobil jemputan Jiva membelah malam yang syahdu, memaksa ilalang sabana Salia tunduk di sisi kanan-kiri karena jalan setapak tak sepenuhnya muat untuk ukurannya yang lebar. Kendaraan itu pergi, meninggalkan Kala yang menajamkan pendengarannya, hingga raungan mesin itu benar-benar lenyap ditelan jarak. Paduan suara alam dan makhluk-makhluk pemilik malam kembali riuh, bersahutan seolah merayakan pesta kebebasan, setelah seharian harus berbagi tempat dengan manusia di bawah terik matahari.

Menit-menit bergulir hingga jam berganti setelah pintu ditutup, Kala masih berdiri mematung. Ia mengintip dari sesibak celah kaca di sisi kanan pintu rumahnya. Pikirannya berputar liar. Apakah Jiva menyesali ciuman itu? Apakah Jiva selama ini meragukannya, sebagaimana ragu yang pria itu timpakan di kedua pundaknya mengenai pernikahan mereka?

Saat kelopak matanya memejam, ingatan itu justru menolak pergi. Ia kembali melihat senyum Jiva. Dua cekung di pipi pria itu seolah danau yang tak pernah kering, dan mata hijaunya sedalam samudra. Kala menggelengkan kepala, mencoba mengusir bayangan yang semakin nyata: kedua alis tebal yang hitam dan nyaris bertaut, serta rambut panjang Jiva yang berkilau kebiruan setiap kali ditimpa terik matahari Nuswatantra.

“Bodoh! Bodoh!” Kala merutuki dirinya sendiri. Mula-mula di dalam hati, lalu diucapkannya keras-keras ke arah dinding yang sepi.

Jiva tidak memberitahukan rahasianya. Tidak satu kata pun. Tidak ada petunjuk, tidak ada harapan. Jiva selalu mempermainkannya dengan dua hal itu—petunjuk dan harapan palsu—sebagai umpan yang selama ini dilahapnya bulat-bulat.

Sejak ciuman itu, Kala menyadari sesuatu yang mengerikan: ia menginginkan Jiva lebih dari ia mencintainya. Dan keinginan itu membuatnya susah berpikir jernih. Selama ini, Kala merasa tersanjung, seolah derajatnya ikut terangkat ke tempat tinggi ketika para gadis desa melihatnya bersisian dengan Jiva dengan pandangan mata yang menusuk—pandangan iri yang ingin memiliki. Jika Jiva adalah cahaya, maka Kala dan gadis-gadis itu hanyalah laron yang haus penerangan. Kala tidak ada bedanya; ia hanya sedikit lebih beruntung karena menjadi kunang-kunang yang pertama kali menemukan cahaya itu.

Tapi, apakah cahaya itu benar-benar punya pilihan? Jiva tak punya pilihan untuk tidak memilihku, kan?

Kantuk akhirnya menyapa ketika otak Kala masih sibuk mencari pembenaran atas perilaku Jiva yang menutup rapat rahasia darinya. Perlahan, kesadarannya tersedot ke dimensi yang berbeda, gelap, dalam ketiadaan yang melelahkan.

“Bibi Kala! Cepat buka pintunya!”

Suara nyaring gedoran pintu menyentak indera pendengaran, memaksa netra Kala terbuka paksa. Tubuhnya bergerak otomatis menuju ruang tamu dengan rasa kantuk yang tersisa. Namun, mendadak dadanya terasa sesak, dan getaran aneh menjalar ke seluruh tubuh bahkan sebelum jemarinya menyentuh grendel pintu.

Begitu pintu terbuka, wajah panik seorang anak laki-laki tetangganya menyambut Kala dengan napas terengah-engah.

“Ada apa?”

“Nenek Saras, Bik ... Nenek Saras pingsan di dekat kebun!”

Kala berlari kencang, dituntun oleh anak laki-laki itu menuju rumah Bibi Saras. Di sana, beberapa tetangga sudah berkumpul di depan rumah. Mereka bergotong-royong membersihkan pekarangan, menggelar tikar pandan di teras, dan membuka seluruh pintu yang tersambung ke ruang depan—mempersiapkan skenario terburuk jika takdir berkata lain.

Lihat selengkapnya