Melelah Tuah: Kala

Fajriy Arunna
Chapter #6

Isyarat Prahara di Marata

ISYARAT PRAHARA DI MARATA

“Langkah kaki boleh gemetar menembus kabur sabana, namun kepasrahan pada Sang Pencipta akan senantiasa menuntun pulang.”

♦♦♦

Suara hewan malam masih riuh bersahutan ketika Kala melipat sajadah selepas tahajud. Sepertiga malam terakhir itu menjadi ruang aduan dan penyerahan diri yang kembali ia hidupkan sejak Jiva hilang, memohon ketetapan batin di tengah kabur misteri. Sambil menunggu waktu Subuh, Kala bergegas menuju pekarangan dengan membawa keranjang rotan. Semerbak bermacam wangi bunga langsung menyapa penciumannya. Ia memetiknya satu per satu; bunga-bunga kecil, lalu yang besar. Yang putih, kuning, lalu merah jambu. Beberapa kuncup bunga ungu juga dipetiknya, menempati tumpukan paling atas di keranjang.

Kala hendak menutup pintu ketika terdengar derit engsel yang cukup keras membelah raungan melodi malam. Dari balik tirai kaca tanpa menyibaknya, ia mengintip. Di luar sana, Bibi Saras tengah memetik bunga di pekarangan. Apakah Bibinya memiliki rencana yang sama?

Jumat pagi, ketika para lelaki pergi ke pasar, para wanita di wilayah ini memang punya rutinitas lain. Bagi Kala, hari ini adalah waktunya mengunjungi makam ayah, ibu, dan kakeknya. Namun, ia tidak yakin Bibi cukup kuat untuk menuju pemakaman, entah dengan berjalan kaki atau naik di balik punggung Rangga.

Jika dulu Bibi yang selalu membangunkan Kala, mempersiapkan bunga yang akan dibawa, dan kadang terpaksa pergi sendiri karena Kala masih mendengkur, kini keadaannya berbalik. Kala merutuki dirinya yang dulu lebih mementingkan hobi atau menyelesaikan pekerjaan hingga larut malam.

Hari ini, sebelum pergi menghadiri pernikahan Lakshi di Distrik Marata—sebuah perjalanan yang sebenarnya membuat dadanya dipenuhi was-was—Kala bermaksud menggantikan tugas Bibi mengunjungi makam. Namun, tampaknya wanita tua itu bersikeras ingin pergi sendiri.

Kala mengakhiri salat Subuhnya lebih cepat, ingin segera mencegah Bibi memaksakan diri. Namun, wanita tua itu menolak halus.

“Bibi cukup kuat, Kala. Bibi harus kuat. Tidak mungkin Bibi membiarkanmu sendiri. Selain kehendak Tuhan, tidak akan Bibi meninggalkanmu seperti semua orang yang kau cintai,” ujar Bibi Saras. Ia tersenyum, membelai pipi Kala, lalu membawa tubuh keponakannya itu ke dalam pelukan.

Kala merasakan tenggorokannya mendadak kering. Tangis Bibi tumpah, membuat bahu jaket hitam yang dikenakan Kala basah. Kala hanya bisa mengangguk, berjanji dalam hati bahwa ia akan melakukan hal yang sama untuk menjaga wanita tua ini.

Area pemakaman masih sepi. Kabut tebal menyamarkan jarak pandang, memaksa Kala menahan langkah Rangga agar tidak berjalan terburu-buru. Bibi membuktikan ucapannya; dengan langkah pelan namun mantap, ia menyusuri berderet-deret makam hingga sampai di tujuan.

Makam ibu dan kakek Kala terletak bersebelahan. Sementara makam ayahnya berada di sisi paling tepi, sebagian nisan dan tanahnya tergenang air sisa hujan semalam. Kala menaburkan bunga, lalu mengaitkan jemarinya di atas paha untuk larut bersama Bibi merapalkan tahlil dan kalimat-kalimat toyibah. Di hadapan tanah kubur, Kala menyadari betapa doa anak saleh adalah satu-satunya jembatan kasih sayang yang tak sanggup diputus oleh kematian. Bibi memeluk nisan kakek cukup lama sambil menahan tangis. Kala hanya bisa menebak-nebak dalam hati, apa yang sedang disampaikan Bibi kepada kakeknya.

Kaki Kala mulai kesemutan, rasa kebas menjalar dari ujung jari hingga ke bawah lutut. Ia heran, entah kekuatan apa yang dimiliki Bibi hingga wanita itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda lelah, duduk beralaskan daun besar dengan kaki melipat takzim di depan nisan.

Tiga jam kemudian, setelah kembali ke rumah untuk berbenah dan bersiap-siap, Bibi akhirnya melepas Kala untuk pergi ke Distrik Marata. Sebelum Kala menaiki punggung Rangga, Bibi menahan tali kekang kuda itu sejenak. Matanya menatap lurus ke arah lipatan sabuk di balik rok berlapis Kala, seolah tahu apa yang tersembunyi di sana.

Lihat selengkapnya