Melelah Tuah: Kala

Fajriy Arunna
Chapter #7

Pusaran Sejarah Palsu

PUSARAN SEJARAH PALSU

“Ketika fakta dilapisi dusta masa lalu, ketabahan hati menjadi benteng utama untuk menyingkap tabir kegelapan.”

♦♦♦

Kala berangkat ke kantor dengan pikiran yang tak bisa lepas dari isi surat misterius di kaki merpati semalam. Tiga baris kalimat pendek yang ditulis dengan tinta pekat itu terus berputar di kepalanya seperti kutukan:

Jangan datang lagi ke Marata.

Tutup rapat rahasia apa pun yang kau tahu tentang Jiva.

Waspadalah pada musuh di kantormu, sekalipun dia menawarkan bantuan.

Kala tiba di kantor sedikit terlambat. Begitu mendorong pintu, asap rokok yang mengepul tebal langsung menyergap wajahnya, membawa bau pekat yang sama sekali tidak memanjakan hidung. Kala terbatuk-batuk beberapa kali, mengundang perhatian orang-orang di dalam ruangan. Semua rekannya, termasuk Nendra, sedang duduk melingkar di ruang aula kantor. Kala menduga ada rapat mendadak yang genting, sebab tidak ada pemberitahuan apa pun di grup media sosial tempat kerjanya.

Tanpa melihat, Kala meraih buku catatan dan pena dari dalam tas selempangnya, sementara matanya mengamati satu per satu wajah di ruangan itu. Nendra tampak tenang menyampaikan pesan dari Gubernur Nuswatantra. Pemimpin redaksinya itu mengatakan bahwa peringatan keras dari pihak birokrasi tersebut secara tidak langsung justru menguntungkan mereka. Pihak pers jadi lebih tahu sikap dan batasan apa yang harus dijalankan ke depan dalam menghadapi situasi serupa.

“Kita harus melihat sejarah, Pak Nendra,” Hibran memulai argumennya, memotong dengan nada tidak sabar. “Apa Bapak tidak ingat siapa dan bagaimana gubernur kita saat ini bisa mendapatkan jabatannya?”

Hibran mengeluarkan tabletnya, lalu menyodorkan beberapa arsip berita lama dari ibu kota Mandaciti. “Ini dokumen perjanjian antara gubernur kita—yang waktu itu masih calon—dengan pihak Mandaciti. Sempat viral, tapi tiba-tiba menguap begitu saja setelah ditutup-tutupi oleh pemberitaan masif soal bantuan pemulihan bekas tambang di Iatala.”

Nendra mengangguk tenang, raut wajahnya tidak berubah sedikit pun. “Saya mengerti gelisahmu, Hibran. Dengan informasi itu, kita memang harus berhati-hati. Kita harus mengenali betul siapa raksasa yang berdiri di belakang Gubernur. Strategi kita adalah main cantik. Menurut di permukaan, sambil diam-diam mengumpulkan bukti tentang apa yang sebenarnya terjadi pada kecelakaan kapal itu.”

“Aku yakin tidak ada kecelakaan!” sergah Hibran, suaranya bergetar menahan luapan emosi. “Anda tahu sendiri, Pak, adik kandungku ada di dalam kapal barang itu. Sinyal ponselnya bahkan sudah tidak terlacak sejak dia belum lama meninggalkan rumah.”

“Saya mengerti kekhawatiranmu, Hibran. Kami semua mendoakan agar seluruh kru kapal berada di tempat yang aman. Tapi, kalau kita benar-benar mau memecahkan masalah ini dan menyelamatkan mereka, kita tidak bisa sembarangan memilih lawan.”

Rapat itu berlangsung sekitar satu jam. Beberapa rekan kerja Kala tampak mengamini arahan Nendra. Sepanjang waktu, Kala hanya hadir setengah hati di aula itu. Pikirannya masih terikat pada bayang-bayang Jiva, lalu berputar pada informasi janggal dari Giyan, suami Lakshi, tempo hari. Kala berusaha menyusun investigasi di kepalanya, menghitung menit demi menit yang berlalu, menunggu waktu yang tepat untuk menyambangi ruang kerja Nendra demi menyampaikan temuannya secara pribadi.

“Kala, apa kau benar-benar tidak mendapat petunjuk atau pesan apa pun dari tunanganmu?” tanya Hibran ketika rapat berakhir, menahan langkah Kala yang hendak masuk ke kubikel kerjanya.

Kala menggeleng pelan. Batinnya menimbang-nimbang, apakah Hibran cukup bisa dipercaya untuk menjaga rahasia besar ini, atau justru pria inilah “musuh” yang dimaksud dalam peringatan surat misterius yang diterimanya semalam.

Lihat selengkapnya