TEKA-TEKI SUNYI
“Di balik gemericik air sungai dan keheningan sabana, selalu ada pelajaran ketenangan bagi jiwa-jiwa yang sudi merenungi.”
♦♦♦
Kala memutuskan untuk tidak pulang ke rumah hari itu. Tujuannya adalah sebuah pondok kayu kecil yang berdiri sunyi di dekat aliran sungai besar, tidak jauh dari tempat rahasia yang biasa ia kunjungi bersama Jiva. Pondok yang dikelilingi oleh vegetasi hijau lebat itu dulunya milik mendiang kakeknya. Sejak kakek tiada, Mbah Salam bersama istrinya dengan setia merawat tempat bersejarah tersebut.
Menggunakan jasa seekor merpati pos milik Mbah Salam, Kala mengirimkan sebaris pesan singkat untuk sang bibi agar wanita tua itu tidak cemas mencarinya.
Sore itu, Kala berjalan menyusuri tepi sungai yang berarus deras. Mendengarkan melodi alami dari benturan air dan batuan sungai Salia selalu berhasil menenangkan saraf-saraf di kepalanya yang belakangan ini menegang hebat. Di tempat sunyi ini, gemericik air seolah menjadi sarana bertadabur, mengingatkan Kala pada kekuasaan Sang Maha Pencipta yang mengalirkan ketenangan di tengah gelombang duka. Mungkin karena dulu Jiva kerap mengajaknya ke sini, menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menatap air, bahkan setelah kakek mereka tiada.
Tempat ini juga menyimpan memori obrolan terakhir Kala bersama sang kakek, tepat ketika ia baru saja lulus dari bangku SMP. Saat itu, ia mengunjungi kakek seorang diri—menjadi kali pertama bagi Kala memberanikan diri menunggangi Rangga, memacu kuda itu membelah sabana luas tanpa ada pengawasan dari Jiva. Kakek sama sekali tidak marah hari itu, namun gumpalan kekhawatiran terlihat jelas di matanya yang mulai merabun saat menyadari cucu perempuan remajanya telah tumbuh menjadi gadis pemberani.
Malam itu, kakek mengajaknya menyantap ikan bakar hasil tangkapan segar dari sungai, lalu mengizinkannya menginap setelah mengirim pesan izin kepada Bibi Saras. Di bawah atap pondok ini pula, kakek membisikkan sebuah kalimat yang kini kembali berdengung di kepala Kala dengan pemaknaan yang jauh lebih jelas dan mengerikan:
“Kalau kamu benar-benar mencintai Jiva, kamu harus siap dengan jalan terjal yang akan dihadapinya, Kala. Dia akan melewati rintangan yang menguji batas kemanusiaannya. Jika dia selamat, dia baru akan sampai di tujuan.”