Melelah Tuah: Kala

Fajriy Arunna
Chapter #9

Warisan Duka dan Dendam

WARISAN DUKA DAN DENDAM

“Ada keteguhan yang tak goyah oleh ancaman zaman; sebab cinta yang tulus tahu ke mana ia harus berserah dan berpulang.”

♦♦♦

“Jiva yang menerima langsung batik itu, Kala?” tanya Nendra dengan rasa penasaran yang tidak bisa disembunyikan lagi dari raut wajah tuanya.

“Jiva tidak bilang secara detail, Pak. Dia hanya mengatakan kain itu dari pedagang batik langganan Bibi,” jawab Kala jujur.

“Oh ... Sepertinya aku tahu siapa dia. Tunggu sebentar.” Nendra segera meraih tablet di atas mejanya, lalu menghubungi seseorang.

Setelah berbicara singkat dalam bahasa lokal Marata yang terdengar asing di telinga Kala, Nendra mengakhiri obrolan itu dengan gurat wajah yang mendadak menggelap. Ia beralih kembali menatap Kala, menggeleng pelan dengan tatapan mata yang sayu.

“Pedagang itu tewas sepulang berdagang di Hari Pasaran Jumat itu, Kala. Sebuah razia paksa dilakukan oleh orang-orang berjaket kulit dan bertopi koboi—unit yang sama yang biasa terlihat di sekitar tambang Iatala. Kemungkinan mereka membunuhnya bukan karena uang, tapi karena pedagang itu memegang informasi yang membahayakan orang tertentu.”

“Aku bertemu dua orang dengan ciri-ciri pakaian yang persis seperti itu saat menghadiri pernikahan Lakshi di Marata,” sela Kala, bulu kuduknya meremang. “Mereka bertindak sangat kasar dan memaksa masuk ke tenda resepsi. Mereka mengancam, mengumpat, dan berkomunikasi dengan bahasa asing satu sama lain.”

Nendra mengangguk pelan, lalu kembali fokus mengutak-atik komputernya dengan raut tegang. Ia mengirim Kala kembali ke tempatnya dengan janji membicarakannya lagi lain kali setelah menemukan petunjuk lain.

Karena konsentrasinya sudah pecah, Kala akhirnya meminta izin untuk pulang sebelum waktunya dengan alasan kurang sehat. Ia memastikan seluruh tanggung jawab pekerjaannya hari itu selesai, sebelum memacu langkahnya bukan menuju rumah, melainkan ke kediaman pribadi Nendra.

Lihat selengkapnya