GEMA SANDI MASA LALU
“Ketika ombak masa lalu kembali bergemuruh, keteguhan batin adalah satu-satunya benteng agar jiwa tak tersapu arus.”
♦♦♦
Dua kardus besar yang tergeletak di teras rumah menyambut Kala saat ia melangkah pulang. Setelah menuntun Rangga ke kandang dan memberinya makan, Kala membawa kedua kardus berat itu ke dalam rumah. Ia melihat sekilas label di permukaannya; Adhana pengirimnya. Namun, Kala sedang tidak memiliki energi untuk mencari tahu. Ia membiarkan kardus-kardus itu teronggok sepi di sudut kamar Aruna, bersama kardus-kardus lain dari sumber yang sama. Kala lalu melangkah ke kamar mandi dan menghabiskan waktu hampir setengah jam di sana.
Di bawah guyuran air, Kala membiarkan tangisnya tumpah tanpa perlu ditahan lagi. Beberapa kali ia menggosok tubuhnya dengan air dan sabun, seolah-olah aroma dan busa itu bisa membersihkan dirinya dari beban serta memori yang terus menyiksa batin. Kala baru memaksa dirinya melangkah keluar ketika waktu Magrib sudah hampir mencapai batas akhir.
Selepas menunaikan salat, air matanya kembali luruh ke atas sajadah, tak terbendung. Namun di atas kain sujud itu, Kala melangitkan kepasrahan atas takdir yang berat. Nestapa itu masih mengalir hingga ia menyelesaikan salat Isya, tetapi setiap bait doa perlahan menjadi tumpuan agar jiwanya tidak retak. Bunyi ketukan dari perutnya yang entah sudah keberapa kali berusaha ia abaikan. Namun, sekelebat bayangan tentang cerita Mutiara mendadak melintas—tentang ibu kandungnya yang terjebak depresi dan menolak warisan hidupnya saat kehilangan sang ayah.
Tidak boleh! batin Kala menjerit. Ia tidak boleh hancur dan berakhir seperti ibunya hanya karena kehilangan Jiva, pria yang bahkan tega menunda pernikahan mereka selama bertahun-tahun.
Kala memaksa kakinya melangkah ke dapur, memanaskan makanan yang pasti sudah disiapkan Bibi Saras di atas meja sejak sore hari—Bibi pasti mengira Kala akan pulang seperti biasa. Kala menyantap hidangan itu dengan cepat sebelum uap panasnya benar-benar hilang. Ia harus menghabiskannya segera, sebelum otaknya kembali berubah pikiran dan menolak makanan itu masuk ke tenggorokan.
Usai makan, Kala merebahkan diri di atas kasur, menatap lurus ke langit-langit kayu di kamarnya. Pikirannya menerawang jauh, membayangkan bagaimana sejarah panjang perjalanan kayu-kayu tua itu; sejak masih menjadi pohon yang kokoh di hutan sabana, hingga berakhir menjadi langit-langit yang menaungi kedukaannya malam ini. Ketika bayangan senyum Jiva kembali menyelinap, Kala memejamkan mata erat-erat dan menggelengkan kepala, berusaha mengusirnya.
Ketika usaha itu gagal total, Kala memilih bangkit. Ia melangkah ke kamar kosong yang semestinya menjadi milik kakak laki-lakinya, Aruna, lalu mengambil sebuah album foto usang yang tersimpan di sana.
Sebagian besar foto di dalam album itu sudah menguning, melekat erat pada mika pelindungnya yang kusam. Koleksinya tidak banyak, hanya ada dua atau tiga lembar foto saat kedua orang tuanya menjalani prosesi lamaran, resepsi pernikahan, momen kelulusan wisuda Aruna, dan yang terakhir, selembar foto saat sang ibu tengah mengandung dirinya.
Kala memperhatikan detail foto itu. Seperti dirinya, sang ibu ternyata lebih suka mengenakan celana panjang dibanding rok jumbai. Dan ayahnya tampak sama sekali tidak keberatan dengan pilihan itu. Air mata Kala kembali menetes, menyadari betapa banyak kemiripan yang ia warisi dari sosok wanita yang meninggal di atas nisan palsu tersebut. Meskipun jika diperhatikan lagi, gurat wajah Kala lebih mirip dengan ayahnya. Aruna-lah yang mewarisi sebagian besar fitur wajah ibu mereka; mata yang lebih sipit dan hidung yang lebih mancung.
Kala juga memandangi kain batik bermotif ombak dan pohon kelapa yang dikenakan ibunya dalam foto hitam-putih yang mulai menguning itu. Namun, karena matanya yang sembap dan otaknya yang terlanjur mati rasa akibat kelelahan batin, Kala tidak memikirkan apa pun malam itu. Ia hanya mengusap mika pelindung foto tersebut dengan jemari gemetar, sebelum akhirnya meletakkan album itu kembali ke tempatnya.