Melelah Tuah: Kala

Fajriy Arunna
Chapter #11

Jejak Rahasia di Marata

JEJAK RAHASIA DI MARATA

“Di balik setiap ancaman di jalan yang gelap, pertolongan Tuhan selalu hadir melalui jejak-jejak perlindungan yang telah disiapkan masa lalu.”

♦♦♦

Keesokan harinya, Kala menyambangi kandang Kharsa, menggantikan tugas Sadi untuk mengurus kuda jantan milik Jiva itu. Setelah menemani Bibi seharian di rumah, Kala bersiap-siap berangkat ke kota. Jika biasanya ia sangat cuek tentang penampilan, entah mengapa kali ini ia merasa harus memberikan kesan profesional; tetap santai, namun tegas.

Seperti kegemaran mendiang ibunya yang praktis namun selalu menjaga kehormatan diri, Kala memilih setelan yang santai namun anggun: sebuah kemeja hitam dengan aksen kebaya yang dipadukan dengan celana kulot lebar bermotif batik merah dengan corak bunga dan burung. Ia menghabiskan waktu cukup lama di depan cermin untuk menata rambutnya, menguncirnya ke satu sisi lalu mengepangnya dengan rapi.

Hari itu adalah hari libur. Kala sengaja mengajak Kharsa untuk menemaninya menemui Galen; kuda itu pasti merindukan rutinitas lamanya menerjang angin. Semalam, Galen membalas pesannya dengan sebuah undangan soft opening kafe modern miliknya di Marata.

Kala tahu keberangkatannya kali kedua ke distrik pesisir itu cukup berisiko. Karena itu, ia memutuskan tidak datang sendirian. Kala mengajak Sadi, pekerja kepercayaan Bibi yang seumuran dengannya. Sadi adalah teman sekolahnya dulu saat SMA, sebelum pria itu menggantikan mendiang ayahnya untuk bekerja pada Bibi Saras. Namun, selama beberapa tahun terakhir, Sadi memang jauh lebih dekat dengan Jiva.

Paruh perjalanan berlangsung sunyi. Sadi yang menunggangi Rangga, mempersilakan Kala memimpin di depan. Pikiran Kala berputar liar setiap kali melewati jalan setapak yang selama ini ia lalui bersama Jiva. Kala teringat beberapa kali Jiva melatihnya menjaga keseimbangan di atas kedua kuda mereka secara bergantian lewat berbagai permainan tangkas. Sekarang Kala mulai ragu—barangkali Jiva memiliki tujuan lain. Jiva sedang melatih kemampuan fisiknya yang pasti akan sangat berguna di saat-saat genting seperti sekarang.

“Sadi, kau pernah kemari?” tanya Kala memecah angin.

Sadi mengangguk. Pria itu menjeda beberapa detik sebelum menjawab dengan suara tertahan, seolah sedang menimbang-nimbang sebuah rahasia yang semestinya disimpan rapat. “Tuan Jiva beberapa kali meminta saya mengirim barang ke tempat kerjanya di Marata, Non Kala.”

Hati Kala mencelos. Ini fakta baru yang sama sekali tidak diketahuinya. Rasa bodoh dan kecewa seketika berbaur menjadi satu rasa pahit di dada. Bagaimana mungkin Jiva, tunangannya, lebih memilih membagi rahasia pekerjaan dengan Sadi daripada dirinya?

“Barang apa?”

Sadi menggeleng samar, wajahnya tampak sungkan. “Saya benar-benar tidak tahu, Non. Saya hanya diminta mengambil barang dari teman atau rekan kerjanya, lalu mengirimkannya langsung ke kantor Tuan Jiva.”

Kala mengangguk pelan, meski isi kepalanya mendadak bising oleh pertanyaan-pertanyaan baru. Ia memutuskan mencukupkan rasa ingin tahunya sementara waktu. Ada hal yang lebih besar yang harus ia gali dari Galen.

Lokasi tujuan mereka mulai terlihat setelah jalan berbatu sabana berganti menjadi aspal mulus perkotaan. Kafe milik Galen terletak tersembunyi di dalam sebuah perkampungan yang asri. Area luarnya ditata cantik dengan sebuah sungai buatan kecil berarus tenang yang melintas tepat di tengah-tengah taman. Dari kejauhan, Kala langsung mengenali sosok Galen yang sudah duduk di salah satu meja di tepi sungai, berbincang dengan beberapa tamu undangan.

Begitu menyadari kehadiran Kala, Galen segera berdiri menyambutnya. Senyum lebarnya yang hangat seketika membuat Kala sedikit salah tingkah. Memori masa lalu ketika mereka masih sama-sama menjadi murid SMA mendadak datang tanpa bisa dicegah. Galen memang beberapa kali berusaha mencuri perhatian Kala dulu, sekalipun pria itu tahu betul bahwa Kala memiliki ikatan yang jauh lebih dalam dengan Jiva.

Galen mempersilakan Kala dan Sadi duduk. Hidangan segar sore hari segera disuguhkan di atas meja. Setelah beberapa saat mengobrol ringan, Sadi meminta izin untuk ke toilet. Namun, hingga obrolan mereka merayap jauh, pemuda itu tak kunjung kembali ke meja. Kala mengira Sadi sengaja memberikan ruang agar ia bisa berbicara empat mata dengan Galen.

“Kau sudah bertemu dengan Sasmaya?” tanya Galen membuka percakapan yang lebih serius.

“Ah, iya. Dia sempat menemuiku saat aku pulang dari kantor tempo hari.”

“Lalu, apa rencanamu selanjutnya, Kala? Apa kau tidak tertarik seperti Sasmaya? Mengejar mimpi dan kariermu hingga ke kota atas, Mandaciti?”

“Maksudmu ... seperti kakakku, Aruna?” Kala merespons cepat, nadanya mendadak getir. “Pergi ke sana, lalu entah kapan akan kembali.”

Seketika itu juga Kala menyesali kata-katanya. Ia merutuki dirinya sendiri; ia seharusnya menunjukkan sikap yang lebih taktis dan bersahabat jika ingin memancing informasi dari calon walikota di depannya ini.

“Kala, aku tidak bermaksud—”

Kala buru-buru tertawa canggung, mengibaskan tangan. “Aku hanya bercanda, Galen. Jangan dimasukkan ke hati. Aku masih sangat menikmati peranku di kantor berita saat ini.”

Setelah mencicipi beberapa kudapan dan menyisakan minumannya hingga setengah gelas, Kala memutuskan untuk langsung mengalihkan pembicaraan pada tujuan utamanya. Ia tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi.

Lihat selengkapnya