Melelah Tuah: Kala

Fajriy Arunna
Chapter #12

Kepingan yang Tercecer

KEPINGAN YANG TERCECER

“Kepingan kebenaran yang berserakan di lorong waktu menanti jiwa yang sabar untuk merangkainya kembali di bawah naungan takdir.”

♦♦♦

Bibi Saras bersikeras menemani Kala di rumahnya malam itu. Kondisi fisik wanita tua itu tampak sedikit lebih bugar dari kemarin, dan ia terus-menerus meminta Kala untuk masuk ke kamar dan beristirahat saja. Namun, kecemasan yang tertahan membuat Bibi Saras tidak bisa berdiam diri. Usai makan malam yang dilewati dalam keheningan, Bibi Saras sibuk membersihkan setiap sudut rumah Kala—menyapu, mengelap meja, melakukan apa saja demi mengusir kegelisahan di kepalanya. Ketika Kala merasa tidak tahan lagi melihat tubuh tua itu memaksakan diri, ia akhirnya mencegat tangan sang bibi dan memaksanya berhenti.

Di tengah ruang tengah yang temaram, pertahanan Bibi Saras akhirnya runtuh. Tangisnya pecah tanpa bisa dibendung lagi. Beliau merengkuh tubuh Kala, memeluknya dengan sangat erat seolah takut keponakannya itu akan lenyap jika ia melepaskan pegangannya.

“Maafkan Bibi, Nak ... Maafkan Bibi terlambat,” bisik Bibi Saras di antara isak tangisnya.

Tanpa perlu diminta lagi, di bawah atap kayu yang menjadi saksi isu sejarah keluarga mereka, Bibi Saras mulai bercerita. Dua puluh lima tahun yang lalu, tepat ketika ibu Kala tengah mengandung dirinya, ayah Kala dan suami Bibi Saras—paman Kala—pergi ke pasar bersama. Hari itu hari Jumat, mereka baru saja kembali setelah beberapa pekan melakukan perjalanan jauh ke wilayah Iatala. Pagi-pagi sekali, ayah Kala didatangi oleh seorang pedagang batik misterius yang langsung menyodorkan selembar kain tanpa mau menerima barter apa pun. Pedagang itu berdalih bahwa kain tersebut adalah pesanan khusus dari ibu Kala. Padahal, ibu Kala tidak pernah memesan kain apa pun.

Beberapa hari setelah peristiwa ganjil itu, ketika Kala baru berusia empat belas hari, ayah dan paman Kala kembali berkunjung ke lokasi tambang di Iatala. Mereka berpamitan dengan tergesa-gesa, mengatakan ada urusan mendesak yang harus segera diselesaikan. Namun, sejak hari itu, mereka tidak pernah kembali pulang.

Hanya sepucuk surat yang tersisa, diantarkan oleh seorang kurir perbatasan yang mengabarkan bahwa ayah Kala telah gugur dalam tugas di sana. Sementara paman Kala... kabarnya menguap begitu saja, hilang tanpa jejak sampai hari ini.

“Kadang Bibi berharap dia masih selamat di luar sana, Kala ...” Bibi Saras terisak, dadanya naik turun menahan sesak. “Tapi di hari lain, Bibi justru berdoa agar dia sudah wafat saja dengan tenang. Ditinggalkan tanpa kabar selama puluhan tahun seperti ini ... rasanya jauh lebih menyakitkan. Dan ibumu ... kesehatan mental ibumu menjadi korban pertama dari kekejaman ini. Bibi belajar ikhlas, tetapi hati manusia biasa ini sering kali lelah.”

Setelah terisak cukup lama, Bibi Saras perlahan mulai tenang kembali. Ia mengusap sisa air mata di pipinya, lalu menatap lekat ke dalam manik mata Kala. Dengan suara yang turun menjadi setengah berbisik, ia melanjutkan, “Motif batik yang diterima ayahmu hari itu ... bermotif ombak dan pohon kelapa, Kala. Persis seperti yang diterima Jiva kemarin. Tapi kali ini... semuanya bergerak terlalu cepat. Tidak sampai dua pekan jarak antara hari kain itu datang dan hilangnya Jiva. Bibi sebenarnya berniat memberitahukan hal ini pada Jiva tempo hari, tapi ... Bibi ragu pria sekeras Jiva akan sudi berhenti meskipun mendapat peringatan semacam itu, sama seperti ayahmu.”

Lihat selengkapnya