Melelah Tuah: Kala

Fajriy Arunna
Chapter #13

Rahasia di Balik Meja

RAHASIA DI BALIK MEJA

“Ketika jejak masa lalu terkuak dalam sunyi, prasangka baik adalah satu-satunya kompas yang menjaga jiwa tetap teguh.”

♦♦♦

Beberapa malam kemudian, sambil mendekap barang-barang milik ayah dan pamannya yang ia temukan di dalam kardus kiriman bapaknya Adhana, Kala berjalan menembus gulita menuju rumah Bibi Saras. Kepada wanita tua itu, Kala pelan-pelan menjelaskan asal-usul barang yang dibawanya.

​Air mata Bibi Saras luruh bahkan sebelum Kala menyelesaikan seluruh ceritanya. Dengan tangan gemetar, wanita tua itu memisahkan barang-barang milik mendiang suaminya. Ia memeluk erat selembar kemeja motif kotak-kotak yang sudah berlubang di sana-sini, lalu terisak hebat. “Ini yang dipakai pamanmu terakhir kali, Kala... Bayangan yang muncul dalam ingatan Bibi selalu saat dia mengenakan pakaian ini.”

​Kala membiarkan sang bibi larut dalam ruang dukanya sendiri, menumpahkan rindu dan nestapa yang tertahan puluhan tahun sembari mendekap kain usang itu. Sementara itu, tangan Kala sendiri bergerak canggung memegangi beberapa kemeja milik ayahnya. Ia meraba pelan tekstur kainnya, menerka-nerka saksi bisu apa saja yang telah dilewati pakaian tersebut bersama sang ayah, sembari menyentuh barisan kancingnya yang sebagian besar sudah terlepas.

​Namun, ketika jemarinya meraba kancing cadangan yang tersembunyi di balik kerah kemeja putih, Kala merasakan tekstur yang ganjil. Kancing itu terasa lebih kecil, polos, dan memiliki kilau jernih yang tidak biasa. Kala bergegas memeriksa kemeja milik ayahnya yang lain, dan ia menemukan kancing dengan ciri, warna, serta ukuran serupa terpasang di tempat yang sama.

​Sebelum Kala sempat menganalisis lebih jauh, suara tangis Bibi Saras mereda, digantikan helaan napas berat sebelum wanita tua itu memilih masuk ke kamar karena benar-benar membutuhkan waktu untuk menyendiri.

​Kala kemudian meminta izin untuk bermalam di kamar Jiva, dengan alasan merindukan tunangannya itu. Bibi Saras yang mengira keponakannya hanya sedang didera rindu yang teramat berat, mengangguk maklum dengan mata yang berkaca-kaca.

​Kala terduduk di tepi ranjang Jiva, lalu menangis dalam diam hingga dadanya terasa sesak. Ia menghabiskan waktu hampir satu jam untuk memeriksa setiap sudut kamar tersebut, namun tidak menemukan petunjuk apa pun. Di dalam ruangan yang dingin itu, Kala didera dilema yang hebat; entah ia harus membenci atau justru semakin mencintai pria itu. Namun, nuraninya memaksa untuk meyakini bahwa di balik setiap rahasia dan langkah yang diambil Jiva, ada maksud yang tulus untuk melindunginya dari marabahaya. Setelah menyerahkan gemuruh dadanya dalam doa-doa sunyi, Kala yang kelelahan akibat tangisan panjang akhirnya terlelap di atas bantal milik Jiva.

​Kala terbangun ketika seberkas cahaya matahari pagi menerobos masuk dengan tajam melalui lubang kecil di dinding kayu. Kepalanya terasa luar biasa berat dan pening.

Lihat selengkapnya