Melelah Tuah: Kala

Fajriy Arunna
Chapter #14

Isyarat dari Kegelapan

ISYARAT DARI KEGELAPAN

“Ketika bayang-bayang masa lalu menuntut jawaban, hanya keteguhan batin yang sanggup menembus kabut kecemasan.”

♦♦♦

Memanfaatkan hari libur kerjanya, Kala bergegas mengambil sehelai kemeja lama dan selembar mata uang kuno yang ia temukan dari kotak kiriman bapaknya Adhana. Ia sengaja hanya membawa dua benda itu ke dalam tasnya agar tidak memantik kecurigaan.

Matahari belum tinggi ketika Kala mengetuk pintu rumah Nendra. Jurnalis senior itu menyambutnya di ambang pintu dengan raut terkejut yang tidak bisa disembunyikan.

“Masuk, Kala,” bisik Nendra pelan, seraya mengisyaratkan agar mereka berbicara di lantai dua.

Ruang kerja di lantai atas itu dipenuhi atmosfer yang berat. Dua komputer lawas dan sebuah laptop menyala, memantulkan cahaya redup ke wajah Mutiara yang sedang duduk bersandar di dekat jendela.

“Kala, duduklah,” sapa Mutiara lembut. Wanita itu beranjak sebentar ke dapur, lalu kembali dengan secangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap tipis.

Dengan jemari yang gemetar, Kala mengeluarkan dua benda pembawa teka-teki itu dari dalam tasnya. Ia mengurai asal-usul kemeja dan koin tersebut dengan suara lirih. Sepanjang cerita mengalir, Kala menyadari perubahan drastis pada gurat wajah Nendra. Pria tua itu mendadak pucat pasi, lalu tubuhnya merosot lemas di atas kursi kerja.

“Mata uang itu ... seharusnya sudah tidak ada lagi,” suara Nendra tercekat, parau menahan gelombang emosi yang mendesak dadanya.

Setetes air mata meluncur jatuh ke pipi keriputnya, disusul bahu yang bergetar hebat. Mutiara dengan sigap mendekat, mengusap punggung suaminya demi mengalirkan ketenangan. Di tengah ruangan, Kala terpaku canggung. Rasa penasaran yang membakar jiwanya seketika diredam oleh rasa iba. Tidak ingin menjadi beban yang mengoyak luka lama Nendra, Kala bergerak untuk pamit mundur.

“Tidak, Kala. Tetaplah di sini, kamu harus mendengarkanku,” sergah Nendra. Ia menegakkan duduknya, lalu dengan tangan yang masih gemetar, ia meraba tekstur timbul pada permukaan logam perak di atas meja.

“Semoga ... semoga ayah dan pamanmu tidak pernah menginjakkan kaki di pulau asal mata uang ini,” desis Nendra parau. Tatapannya menerawang jauh menembus kaca jendela. “Mata uang kuno ini dulu digunakan oleh penduduk pribumi Mandaciti. Jauh sebelum Mandaciti tumbuh menjadi ibu kota yang megah dan tamak seperti sekarang, wilayah itu tidak jauh berbeda dengan Nuswatantra. Mereka memiliki sebuah pulau kecil yang sangat terisolasi, tepat di seberang ujung garis pantai Iatala.”

Lihat selengkapnya