Melelah Tuah: Kala

Fajriy Arunna
Chapter #15

Janji di Pesisir Marata

JANJI DI PESISIR MARATA

"Luka masa lalu tak pernah benar-benar mati; ia bersembunyi dalam sunyi, menunggu waktu untuk menyingkap tabir keadilan."

♦♦♦

Galen benar-benar menghilang tanpa kabar selama dua hari berikutnya. Gawai anti-lacak di dalam laci kamar Kala membisu, menyisakan ruang hampa yang dipenuhi pusaran tanya. Di kantor redaksi, Nendra sudah kembali bekerja. Meski rona wajahnya masih pucat pasi dan gurat kelelahan tercetak jelas di bawah matanya, jurnalis senior itu memaksakan diri untuk tetap tegak. Memahami batasan yang rapuh itu, Kala memilih untuk menghindari obrolan berat demi menjaga kondisi psikologis mentornya.

Kala memanfaatkan waktu di sela-sela jam kerjanya untuk menggali arsip digital mengenai sejarah Janiterra. Fokusnya tertuju pada asal-usul mata uang kuno yang ia temukan. Benar apa yang dikatakan Nendra; lembaran uang versi kuno itu memang telah ditarik dari peredaran sejak Mandaciti resmi dikukuhkan sebagai ibu kota negara. Seluruh sistem keuangan wilayah dikonversikan dan diganti dengan mata uang resmi versi baru.

Sekitar satu jam sebelum waktu istirahat, suara Nendra menggema di ruang redaksi, mengumumkan rapat dadakan. Dalam pertemuan singkat itu, Nendra hanya memastikan atmosfer kerja tetap kondusif serta memeriksa kesiapan tim sebelum kedatangan rombongan pejabat dari ibu kota sesuai jadwal yang direncanakan.

Kala pulang tepat waktu. Setelah membersihkan diri, ia segera menuju rumah bibinya. Kebahagiaan kecil menyambutnya; Bibi Saras tampak lebih bugar dan nafsu makannya sudah kembali. Kala menemani sang bibi hingga larut, menuntun doa-doa pemulihan dan membangun kembali kehangatan rumah meski tanpa kehadiran Jiva. Di tengah kesederhanaan itu, Kala belajar mengecap rasa syukur atas keutuhan yang masih tersisa, menenangkan gelombang cemas yang tak kunjung padam.

Di akhir percakapan, Kala dengan sangat hati-hati meminta izin untuk pergi ke Marata demi menemui penjual perhiasan yang pernah bertransaksi dengan Jiva. Ia menunjukkan kuitansi pembelian emas milik tunangannya dan menjelaskan asal-usul benda itu. Dengan berat hati dan tatapan cemas, Bibi Saras akhirnya memberikan izin, asalkan Kala ditemani oleh Sadi.

Keesokan harinya, Kala mengajukan izin untuk tidak masuk kantor. Demi menghindari mata-mata Gubernur yang mungkin mengawasi, Sadi berhasil menyewa sebuah mobil sipil biasa yang tidak mencolok, alih-alih menggunakan angkutan umum atau berkuda.

Selama di perjalanan, Sadi mengemudi dengan kewaspadaan penuh, sesekali matanya melirik kaca spion untuk memastikan tidak ada kendaraan yang membuntuti mereka. Sementara itu, Kala memandang keluar jendela, menghafal setiap jengkal kelokan jalan pesisir yang mereka lalui. Pikirannya mendadak memutar kembali memori tentang informasi taktis yang pernah Jiva berikan mengenai jalur ini—siapa saja orang yang menguasai wilayah tersebut, serta jaringan mana yang bisa dipercaya.

Dua jam perjalanan berlalu sebelum mobil mereka berhenti di depan sebuah toko perhiasan kecil di tepi pesisir Marata. Bangunannya tampak bersih, bersahaja, dan sengaja didesain agar membaur dengan deretan pertokoan lokal di sekitarnya. Kala mematung sejenak di tempatnya berdiri. Ia ingat betul, Jiva pernah mengajaknya melewati jalan setapak tersembunyi di samping toko ini untuk menuju ke sebuah sisi pantai rahasia yang terisolasi dari dunia luar.

Sadi turun lebih dulu, mengedarkan pandangan ke sekitar area pesisir dengan tubuh tegap yang protektif, sebelum membukakan pintu untuk Kala. “Saya jaga di luar dan mengawasi situasi sekitar, Non. Jika ada apa-apa, langsung teriak,” bisik Sadi tegas. Kala mengangguk, merasa tenang memiliki pria itu di sisinya.

Lihat selengkapnya