JANGKAR TERAKHIR YANG LEPAS
"Di hadapan keserakahan yang megah, keberanian sejati tidak lahir dari tajamnya senjata, melainkan dari jiwa yang telah selesai dengan rasa takutnya."
♦♦♦
Sesuai janji yang ditinggalkan di ambang pintu lorong, pria pemandu itu menjemput Kala tepat waktu. Namun, ada yang berbeda pagi ini. Dia tidak lagi mengenakan kemeja kanvas kusamnya, melainkan setelan hitam rapi yang membalut tubuh tegapnya dengan pas. Kala menyusul langkahnya dalam diam, menyusuri lorong hotel yang sepi. Setelan kemeja lengan panjang dan kulot lebar hitam yang dikenakan Kala seolah bergerak selaras, menguji ketegasan langkah pria di depannya.
Kala mengamati sekitar dengan radar jurnalis yang menegang. Koridor itu sunyi, hampa. Hanya gema suara langkah kaki mereka berdua yang mengetuk lantai. Kecurigaan mendadak menyergap dada Kala—apakah pria ini sedang menggiringnya masuk ke dalam jebakan Mandaciti?
Secara perlahan, tanpa menimbulkan suara kain yang bergeser, jemari kanan Kala menyelinap ke balik lipatan kulot lebarnya. Instingnya siaga, memosisikan jemari untuk siap meraih pisau kecil yang tersembunyi di sana. Bersamaan dengan itu, ia menarik napas panjang, menundukkan pandangannya sejenak demi menekan gejolak panik—mengembalikan tumpuan perlindungannya pada Sang Pemilik Jiwa sebelum jemarinya benar-benar memegang senjata fisik. Satu gerakan mencurigakan, dan Kala tidak akan ragu untuk bertindak.
Mereka melangkah masuk ke dalam lift kosong. Begitu pintu logam itu tertutup rapat, pria di depannya berbalik. Di luar dugaan Kala, jemari pria itu bergerak ke sudut rahang, menarik sebuah lapisan tipis rekayasa prostetik yang selama ini menyamarkan wajah aslinya. Topeng itu terlepas. Wajah di baliknya jauh lebih muda, tegas, dan memiliki gurat yang mendadak memicu memori masa lalu yang terkubur di kepala Kala.
“Aruna...” Napas Kala tertahan di tenggorokan. Jantungnya mencelos.
Kakak laki-lakinya itu mengangguk pelan, menatap Kala dengan binar mata yang sarat akan beban masa lalu. “Kau bisa mempercayaiku, Kala. Jika kau sudah siap.”
Denting.
Pintu lift terbuka, mengantarkan mereka langsung ke area rooftop yang berangin kencang. Di tengah area terbuka yang langsung menghadap ke laut lepas Iatala, sebuah meja bundar besar telah disiapkan. Empat orang telah menunggu di sana: dua orang pria berpenampilan rapi dengan potongan khas Mandaciti, seorang wanita dengan rambut cokelat kemerahan yang mencolok, dan Galen.
Keempat orang itu berdiri serempak menyambut kedatangan mereka. Satu per satu dari mereka menjabat tangan Aruna dengan takzim—sebuah gestur yang menunjukkan bahwa Aruna adalah poros dari pergerakan ini. Sementara itu, Kala mematung beberapa langkah di belakang. Kakinya seolah terpaku ke lantai beton.
“Perkenalkan, ini Kala. Adikku,” suara Aruna memecah keheningan, sembari menarik selembar kursi dan mempersilakan Kala duduk.
Galen melemparkan senyum hangat yang familier, berusaha mengusir ketegangan yang menguar dari tubuh Kala. Namun, Kala yang terlampau gugup mengabaikannya sepenuhnya. Matanya bergerak liar, memindai satu per satu orang asing di ruangan itu.