REKAHAN DI ATAS PETA
"Di atas tanah yang membeberkan kepalsuan zaman, takdir selalu menemukan celah untuk menuntut kebenaran."
♦♦♦
Kala tidak bisa tinggal diam dalam ketidaktahuan yang mencekik. Memanfaatkan waktu luangnya yang kini melimpah, ia memilih menyambangi perpustakaan daerah Nuswatantra. Sebagai alibi agar gerak-geriknya tidak memancing kecurigaan intelijen, Kala selalu membawa tumpukan novel populer ke mejanya. Namun, di balik sampul fiksi warna-warni itu, ia menyelundupkan buku-buku lawas berdebu; kronik sejarah Janiterra, catatan kelautan, jalur kapal barang, hingga peta topografi pertambangan kuno. Kejernihan akalnya menolak dilumpuhkan oleh kepanikan; ia paham bahwa ikhtiar terbaiknya saat ini adalah menyingkap fakta yang disembunyikan.
Selain menenggelamkan diri dalam kertas, Kala memanfaatkan sisa energinya untuk berkuda. Kali ini, ia sengaja tidak menunggangi kuda miliknya sendiri, melainkan membawa Kharsa—kuda jantan gagah berbulu legam milik Jiva yang ditinggalkan di kandang Salia.
Kala membiarkan tali kekang Kharsa agak mengendur, memberi kebebasan pada hewan itu untuk menentukan arah langkahnya sendiri. Di sepanjang jalur sabana yang gersang, Kala sengaja memancing insting Kharsa. Ia berharap muscle memory kuda itu akan menuntunnya ke wilayah-wilayah terpencil yang biasa dikunjungi Jiva secara rahasia di luar sepengetahuannya. Di permukaan, Kala seolah-olah telah kembali ke rutinitas lamanya: menjadi gadis tomboi gila baca yang menghabiskan waktu lebih lama dengan lembaran kertas dan hewan peliharaan ketimbang dengan manusia. Namun di dalam kepalanya, selembar peta mental baru sedang digambar, mengikuti ke mana kaki Kharsa melangkah.
Menjelang akhir Januari, Kala kembali mendatangi pesisir Marata. Kali ini, ia tidak datang untuk meratap. Di ruang perpustakaan rahasia milik Pak Tua, dengan Sadi yang berdiri waspada di dekat pintu, Kala langsung mengutarakan maksudnya tanpa basa-basi. “Saya butuh referensi peta lawas, Pak. Peta Janiterra sebelum sensor Mandaciti diberlakukan,” pinta Kala, tatapannya lurus tak terbantah.
Pak Tua berwajah cacat itu menatap Kala lama, sebelum akhirnya menghela napas parau dan menarik sebuah gulungan perkamen rapuh dari balik lemari dinding. Di atas meja kayu yang temaram, jemari Kala menelusuri garis-garis tinta yang mulai pudar. Di sana, ia menemukan fakta kelam yang sengaja dikubur: memang ada sebuah pulau berbatu di seberang Iatala.
“Ini pulau yang dimaksud?” bisik Kala, menunjuk titik hitam di tengah lautan rahasia itu.
“Itu tanah yang dipertahankan ayahmu dari keserakahan tambang ilegal.,” suara Pak Tua terdengar seperti bisikan angin malam. “Dan ... di tanah berbatu itulah ayahmu dimakamkan.”
“Apakah tanah ini milik Mandaciti atau Nuswatantra Pak?” desak Kala. “Jika ayahku mempertahankannya, ayahku pasti tahu siapa pemiliknya.”
Pak Tua menggeleng perlahan, gurat frustrasi tampak di wajahnya yang rusak. “Tidak ada yang tahu. Kepemilikan pulau itu dikunci rapat secara hukum dan sejarahnya dihapus total.