Melelah Tuah: Kala

Fajriy Arunna
Chapter #18

Bayang-Bayang dalam Kabut Iatala

BAYANG-BAYANG DALAM KABUT IATALA

"Di atas tanah batu dan lautan duka, ketakutan tak lagi berdaya di hadapan jiwa yang telah menyerahkan takdirnya."

♦♦♦

Sehari menjelang hari H pertemuan, layar televisi dan frekuensi radio riuh oleh berita yang berseliweran. Ketegangan antara Marata dan Mandaciti resmi mencapai titik didih setelah Gubernur Nuswatantra mendadak ditangkap atas tuduhan korupsi dan penyalahgunaan jabatan. Skandal besar itu langsung menyeret sang anak yang awalnya menjadi pesaing berat Galen dalam bursa pemilihan. Kena getah dari kejahatan ayahnya, nama anak Gubernur itu langsung dicopot dari daftar kandidat, menjadikan Galen secara otomatis melenggang sebagai calon tunggal Wali Kota Marata.

Di tengah pusaran berita makro itu, Kala terus memindai kolom informasi, menantikan pembaruan sekecil apa pun tentang kapal kargo Jiva yang hilang. Hasilnya nihil. Seolah tragedi kapal itu sengaja dihapus dari sejarah perairan Janiterra.

Sampai gawai anti-lacak di lacinya bergetar pendek. Kala menyambarnya cepat, menempelkan benda dingin itu ke telinga. Suara Galen langsung menyambutnya, berat dan sarat tekanan.

“Publik Mandaciti mulai terpecah, Kala. Kabar tentang kapal kargo itu sudah bocor sampai ke luar negeri. Mantan Gubernur dijadikan kambing hitam atas hilangnya armada,” Galen menjeda kalimatnya sejenak, deru napasnya terdengar memburu di seberang sana. “Mandaciti baru saja merilis maklumat. Siapa pun yang berada di dalam kapal itu dinyatakan sebagai pemberontak dan akan diadili.”

Dada Kala seperti dihantam gada tak kasatmata. “Diadili? Apa tindakan kalian selanjutnya, Galen?”

“Orang-orangku sedang mengurusnya. Tenanglah, Kala.”

“Tenang?” Kala mencengkeram gawai itu hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah dan rasa takut bercampur aduk, menyumbat tenggorokannya. “Satu-satunya keluargaku yang tersisa, tunanganku, terancam hukuman oleh rezim yang tidak punya hati, dan kamu memintaku untuk tenang?!”

“Kala... waktuku menghubungi lewat jalur ini sangat terbatas,” potong Galen, nadanya melunak namun tak bisa dibantah. “Sampai jumpa besok di pertemuan. Gunakan identitas yang kukirimkan.”

Sambungan langsung terputus sebelum Kala sempat membalas. Tepat pada detik yang sama, ketukan tiga kali terdengar di pintu depan. Kala melangkah cepat, membukanya, dan menemukan Sadi berdiri dengan wajah tegang.

“Ada tamu di luar, Non. Pria suruhan Den Galen. Orang yang dulu mengantar gawai ini,” bisik Sadi.

Kala berjalan ke teras dan mendapati pria kurir itu menyodorkan sebuah amplop tebal berwarna hitam tanpa sepatah kata pun. Begitu segelnya dibuka, sebuah kartu identitas baru dengan nama samarannya terbaring di sana. Hati Kala pias. Tekadnya sudah bulat. Sore itu juga, ia memutuskan berangkat. Sadi mengemudi mobil membelah jalur darat meninggalkan Salia menuju wilayah paling timur.

Jalur sabana perlahan berubah menjadi jalanan berbatu yang terjal saat mereka memasuki kawasan Iatala. Berbeda dengan pesisir Marata yang landai dan berpasir, Iatala menyambut Kala dengan deburan ombak keras yang menghantam dinding-dinding karang hitam yang angkuh.

Lihat selengkapnya