Gerimis, senja, serta suara kendaraan bersahutan dengan
sejoli yang sedang adu mulut. Perempuan berkaus
putih dibalut overall denim, rambutnya tergerai basah
sebagian, matanya memerah dan rautnya menahan emosi. Lelaki
berpostur tinggi yang tampak manis tapi rautnya gelisah memohon
pengertian.
“Sayang, dengerin aku dulu. Kamu enggak bisa lari dari masalah
kayak gini.” Tangan lelaki itu terus menggenggam perempuan tadi.
Si perempuan menarik tangannya berusaha melepaskan diri.
“Buat apa kamu hadir dalam hidup aku, segampang itu masuk
ke dalam hati aku kalau tujuannya cuma buat ngobrak-ngabrik
perasaanku kayak gini.”
Keduanya saling menatap. Begitu saja sampai beberapa detik,
kemudian ... CUT!
“Yap! Oke. Yang barusan kita ambil, ya. Syuting hari ini sampe
sini aja. Terima kasih semuanya,” seru sutradara sambil menepuk
bahu Andrea dan lawan main di film terbarunya, Andi Yunandi.
“Kamu keren, Dre.” Andi Yunandi memuji Andrea sambil
memamerkan senyum manisnya. Mellowmedy 7
“Terima kasih, Kak. Kakak juga keren banget.” Andrea membalas
dengan senyum yang tak kalah manis.
“Aku duluan, ya. Sampai ketemu di jadwal syuting selanjutnya.”
Andi lalu pamit pergi dengan rombongan timnya.
“Dunia hiburan memang ribet. Tapi, kalau dipasangkan dengan
lawan main yang profesional juga tampan, aku rela berlama-lama
dalam keribetan ini,” batin Andrea.
“Sini, sini, biar Mbak keringin dulu rambutnya. Aduh, aduh
makeup udah luntur, rambut udah enggak on point. But, kerja
bagus, Sayangku.” Mbak Indah, asisten Andrea, sigap menggosok
rambutnya dengan handuk kecil.
“Abis ini kita makan dulu, terus balik ke kantor. Ada media mau
wawancara,” cetusnya.
Andrea langsung menyibakkan handuk yang menutup
setengah wajahnya dan siap melayangkan protes, “Lah? Kok gitu?
Perasaan hari ini cuma syuting.”
“Mbak ditelepon orang kantor barusan, minta waktu kamu
buat wawancara bentar. Mau, ya?” Mbak Indah memelas.
“Mbakk ....” Ia merengek.
“Enggak bisa di-cancel, Dre,” bujuknya.
“Ya udah,” ucapnya pasrah sambil melangkah menuju mobil
dengan wajah cemberut. Ini yang paling membuatnya malas. Temu
media dan wawancara yang tidak ada habisnya.
“Dih, cemberut gitu. Kenapa?” tanya Mas Ryan sambil
membukakan pintu mobil Alphard putih milik Andrea. Dia supir
pribadi sekaligus bodyguard-nya. Kata orang dia mirip artis Korea.
Masih muda, bukan bapak-bapak.
“Masa abis ini harus ke kantor lagi. Katanya mau ada wawancara.
Penginnya langsung pulang,” omelnya, kemudian masuk mobil.
“Aku udah bilang kan, Mbak, dalam sehari urusin satu urusan aja.
Jangan abis syuting terus ada jadwal lain. Kecuali kalau mendesak.” Andrea
kembali mengomel pada Mbak Indah yang sedang ada di sampingnya.
“Kan, ini juga mendesak, Sayang. Kali ini aja, oke?” bujuknya
sambil membukakan kotak bekal makan Andrea. 8 Mellowmedy