Andrea memang bukan anak kandung. Ia tidak terlahir
dari rahim Risa Ferlina. Andrea resmi jadi anak asuhnya
sejak umur enam tahun. Sekitar tiga belas tahun yang
lalu. Mereka bertemu ketika Bunda sedang mengadakan acara
donasi ke sebuah panti, tempat tinggalnya dulu.
Mengapa Andrea tinggal di panti? Ia adalah korban kebakaran
hebat di salah satu wilayah padat Kota Jakarta. Seluruh anggota
keluarganya tiada. Tragedi yang abadi dalam ingatan. Bekas luka di
punggung Andrea jadi buktinya.
Bundanya selalu bilang, bertemu dengan Andrea adalah takdir
yang luar biasa indah baginya. Dia sangat mensyukurinya. Andrea
pun begitu. Sang ayah sangat setuju saat Bunda meminta izin untuk
membawa Andrea ke rumah mereka. Tak ada penolakan sama
sekali. Dan Andrea pun diperlakukan bak putri raja.
Satu lagi, Mas Chandra, anak semata wayang keluarga ini. Lelaki
penjaga terbaik nomor dua setelah Ayah. Ia melanjutkan studi di
Singapura karena pilihannya. Mellowmedy 13
Di dalam rumah, mereka adalah keluarga. Ayah, Bunda, Mas
Chandra, dan Andrea. Mereka bukan CEO Shine Media, diva nomor
satu di Indonesia, pewaris kekayaan Willy Tan, dan aktris pendatang
baru terfavorit. Di rumah mewah itu, mereka hanyalah sebuah
keluarga biasa yang bahagia.
Andrea tetap bertahan di dunia hiburan karena pilihannya
sendiri. Ayah atau Bundanya bahkan tidak memaksa atau melarang
Andrea melakukannya. Mereka mendukung apa pun yang ia
inginkan. Mereka mempersilakan Andrea untuk memilih dan
menentukan masa depannya, asal tidak melanggar hukum.
Andrea cukup terbiasa dengan dunia hiburan. Ayah dan
Bunda sering membawanya ke berbagai acara. Mereka sering
mengikutsertakan Andrea dalam sebuah wawancara. Sejak kecil,
Ayah sering membawanya melihat calon-calon artis di akademi.
Melihat mereka berlatih, membuat Andrea ingin mencobanya
juga. Bunda sering membawanya naik ke atas panggung di acara-
acara besar. Melihat ribuan pasang mata berbinar melihat Bunda,
membuatnya sangat bangga.
Hanya saja, Andrea benar-benar tidak mengharapkan
penghargaan apa pun. Ia melakukannya karena keinginannya
sendiri. Andrea ingin terus berkarya di dunia akting. Baginya,
terus berkarya atas usaha sendiri dan diterima dengan baik oleh
penggemar dan orang-orang yang menyayangi juga sudah cukup.
“Mbak Indah pulang ya, Sayang,” pamit Mbak Indah setelah
selesai menata barang-barang di kamar Andrea.
“Oke. Terima kasih ya, Mbak Indah sayang,” balasnya.
Mereka cipika-cipiki, kemudian dia keluar dari kamarnya.
Andrea mengambil handuk untuk mandi.
“Ini disimpen di sini aja, Dre?” tanya Mas Ryan yang baru saja
masuk ke kamar Andrea sambil menjinjing tas berisi sepatu.
Andrea mengangguk. “Iya, Mas. Di situ aja.” Andrea menunjuk
ke salah satu sudut kamar dekat pintu. Dia segera meletakkannya.
“Nyari apa, Mas?” Sebelum masuk kamar mandi, ekor mata
Andrea menangkap Mas Ryan seperti sedang mencari sesuatu. 14 Mellowmedy
“Enggak, Dre. Gak nyari apa-apa. Mastiin aja barangnya udah
masuk semua. Aku pamit, ya.”
Andrea mengangguk. “Terima kasih untuk hari ini, Mas.”
“Sama-sama, Cantik.”
Dia melayangkan finger heart, kemudian keluar. Sepeninggalnya
Mas Ryan, Andrea langsung mandi.
Setelah mandi dan ganti baju, Andrea langsung meraih ponsel
di kasur yang dari tadi terus berbunyi.
Stephanie memberinya spam chat WhatsApp, sahabat Andrea
yang paling tidak sabaran. Total dua belas pesan belum dibaca.
“Buka ini. Harus banget di buka sekarang. Sekarang banget,
Drea. Buka!” Dia menyertakan sebuah link.
“Oke, sabar kenapa. Gue buka sekarang.” Andrea cepat
membalas agar dia berhenti mengirim pesan. Lalu, ia klik link yang
dikirim padanya. Link tersebut meneruskannya ke sebuah portal
berita seleb.
“SEBUAH PH TELAH MENYIAPKAN PROYEK FILM KOMEDI
ROMANTIS UNTUK ANDREA TAN DAN JUARA MCK TAHUN INI”
Sial!
***
“ANDREA MENANG PENGHARGAAN AKTRIS PENDATANG BARU,
DOMINICK JUARA MCK. PENGGEMAR TAGIH COLLAB”
“SEBUAH PH TELAH SIAPKAN PROJECT UNTUK ANDREA DAN
JUARA MCK. PH: KAMI AKAN SEGERA KIRIM NASKAH UNTUK
MEREKA PERTIMBANGKAN”
Gubrak!
Sampai pagi berita itu masih trending.
Jelas, Andrea merasa ini permainan media saja.
“Siapa yang membuatnya jadi juara? Dia tidak selucu itu.
Acaranya cuma mau rating tinggi. Mentang-mentang dia punya
banyak followers dan penggemar yang solid,” batinnya. Mellowmedy 15
“Kenapa sih, Dre? Tadi malem cemberut, pagi ini cemberut.
Baru bangun bukannya mandi malah duduk cemberut di atas kasur.”
Mbak Indah langsung mengomel begitu sampai kamar Andrea.
“Turun. Mandi sana. Cepet siap-siap. Ayo, cantik.” Mbak Indah
menarik selimut, kemudian menarik tangan Andrea agar turun dari kasur.
Ia pun pasrah dan turun dari kasur dengan lesu.
“Mbak, bisa enggak sih berita itu dihilangin aja? Kenapa coba
malah trending?” Ia merengek.
“Udah, udah. Jangan dulu dipikirin. Mending sekarang kamu
mandi, siap-siap, terus berangkat.” Mbak Indah sekuat tenaga
menyeretnya agar masuk kamar mandi.
Mata Andrea membelalak sempurna, “Berangkat ke mana?
Perasaan enggak ada jadwal.”
Plak!
“Duh ….” Andrea mengusap pipinya karena ditampar pelan
oleh Mbak Indah.
“Kita harus ke akademi, Dre. Kamu lupa hari ini ada kelas?” pekik
Mbak Indah.
“Hehehe. Lupa.” Ia menyeringai tak berdosa.
“Mandi. Sekarang juga!” seru Mbak Indah sambil memegang
bahu Andrea, memaksanya balik badan dan masuk kamar mandi.
Jika ada kontes manusia paling malas mandi, besar peluang
Andrea untuk menang. Ia teramat sangat malas untuk mandi.
Apalagi mandi pagi. Ia selalu merasa tubuhnya segar dan wangi,
tapi Mbak Indah-lah yang selalu memaksanya.
Mbak Indah akan rela datang ke sini pagi-pagi sekali dan
menyeret Andrea ke kamar mandi. Dia bahkan menunggunya di
depan pintu untuk memastikannya mandi.
Tidak jarang Andrea pergi ke akademi atau syuting tanpa
mandi, hanya cuci muka dan gosok gigi. Namun untungnya, Andrea
adalah tipe orang yang tidak mudah berkeringat.
“Makanya, kalau bicara dipikirkan dulu. Apalagi kalau acaranya
siaran langsung. Udah enggak bisa diralat itu. Bukan salah media 16 Mellowmedy
juga kalau publik nanggepinnya serius,” ucap Bunda ketika Abdrea
mengeluhkan soal berita itu sepanjang mereka menyantap sarapan.
“Iya, Bun. Maaf,” ucap Andrea manja sambil memeluk Bundanya.
“Lain kali, lebih bijak lagi ya, Dre. Jangan sampai ucapanmu
nyakitin atau menyinggung orang lain, jangan sampai ngomong hal-
hal yang nantinya bakal berurusan sama hukum.” Bunda mengusap
kepala Andrea. Sementara ia mengangguk dalam dekapan.
Andrea menyadari dan menyesali apa yang ia ucapkan. Semua
terjadi begitu saja malam itu. Ketika ia menjadi MC tamu di acara
MCK menuju lima besar. Sebetulnya Andrea enggan. Tapi, seperti
biasa, Mbak Indah-lah yang membujuknya.
Agensi yang notabene milik Ayahnya, tidak menolong sama
sekali. Meskipun anak CEO, Andrea tetap saja diperlakukan seperti
artis-artis lain. Harus tanggung jawab, harus profesional, harus
memenuhi kesepakatan kontrak yang tidak bisa diganggu gugat.
Pada akhirnya, ia hadir dan kedatangannya membuat rating
acara tersebut meningkat drastis.
“Di akademi ketemu Andrea, di sini pun ketemu Andrea. Kiranya
takdir macam apa yang tengah mempermainkan kita, Cantik?” Dia
menirukan salah satu dialog di film Andrea dengan nada meledek
dan didramatisir. Saat itu mereka sedang sama-sama briefing di
belakang panggung MCK.
Andrea tidak menggubris. Tapi, dia terus menampakkan wajah