MELLOWMEDY

Nurul Awaliyah
Chapter #5

SHINE MEDIA ART ACADEMY

Here we are. Shine Media Art Academy.

Akademi seni tersohor di negara ini. Didirikan oleh Ayah

Andrea belasan tahun lalu. Awalnya hanya ada kelas

akting dan musik, tapi tiga tahun lalu dibuka dua kelas

baru, stand up comedy dan dance.

Wadah untuk siapa pun yang serius dengan mimpinya. Tiap

tahun, masing-masing kelas hanya menerima tiga puluh siswa saja.

Seleksinya sangat ketat, yang punya mental dan tekad kuatlah yang

akan lolos.

Ada empat gedung. Satu gedung utama berlantai dua. Dua

gedung berlantai empat tempat para siswa berlatih. Dan gedung

terakhir berlantai tiga untuk asrama.

Ruang latihan dibuka dua puluh empat jam.

Minimal siswa harus menempuh pendidikan selama tiga tahun

untuk pada akhirnya lulus. Banyak lulusan akademi yang debut dan

berkarier dengan baik, bahkan sampai ke luar negeri. Banyak juga

yang membuka sanggar kecil untuk anak-anak. Mellowmedy 25

Ayah ingin para siswa yang lulus dari sini bisa menggapai

mimpinya.

Andrea debut tahun lalu. Ia ikut audisi pemain untuk film Ada

Apa Dengan Cantik. Lulus audisi murni karena usahanya sendiri,

bukan karena anak seorang Willy Tan.

“Tunggu aja di sini,” perintahnya ke Mas Ryan saat mereka tiba

di pos satpam asrama perempuan.

“Serius? Gak mau dianter sampai atas?”

“Enggak, cowok dilarang masuk. Tuh, lihat.” Ia menunjuk papan

bertuliskan ‘Area Perempuan. Laki-Laki Dilarang Masuk’ menempel

di pintu masuk.

“Kan, Mas Ryan beda, Dre. Mas Ryan bodyguard-nya anak CEO,

mana mungkin ada yang ngelarang masuk sini.” Dia menepuk dada

bangga. Membuatnya terlihat sangat keren.

“Dah, ah. Tunggu aja.” Ia segera masuk menuju lantai dua. Tidak

mau berlama-lama dengannya di tempat terbuka.

“Steph, Steph. Buka!” Andrea mengetuk pintu kamar nomor 215.

“Sabar kenapa? Heboh amat.”

“Woahh, ini kamar apa kapal pecah? Lo bisa enggak sih beres-

beres. Yang rapi gitu, yang bersih. Rawat baik-baik, jaga baik-baik

kamar ini. Aset loh, Steph,” omelnya begitu pintu terbuka dan

mendapati bungkus camilan tercecer di mana-mana.

“Ga ada waktu,” jawabnya enteng sambil menuangkan segelas air.

“Nih, minumnya tuan putri Pak Willy.” Dia meletakkannya di

meja kecil.

Andrea menyingkirkan beberapa bungkus camilan, lalu duduk

lesehan sambil menjulurkan kaki. Kakinya masuk ke kolong meja

kecil tempat gelas tadi disimpan.

“Udah paling wuenak, ya, duduk di situ.”

Ia tertawa. “Haha. Bangetttt.”

“Berisik.” Dia melempar tisu bekas dan mendarat tepat di wajah

Andrea. 26 Mellowmedy

“Dodol!”

Lihat selengkapnya