Here we are. Shine Media Art Academy.
Akademi seni tersohor di negara ini. Didirikan oleh Ayah
Andrea belasan tahun lalu. Awalnya hanya ada kelas
akting dan musik, tapi tiga tahun lalu dibuka dua kelas
baru, stand up comedy dan dance.
Wadah untuk siapa pun yang serius dengan mimpinya. Tiap
tahun, masing-masing kelas hanya menerima tiga puluh siswa saja.
Seleksinya sangat ketat, yang punya mental dan tekad kuatlah yang
akan lolos.
Ada empat gedung. Satu gedung utama berlantai dua. Dua
gedung berlantai empat tempat para siswa berlatih. Dan gedung
terakhir berlantai tiga untuk asrama.
Ruang latihan dibuka dua puluh empat jam.
Minimal siswa harus menempuh pendidikan selama tiga tahun
untuk pada akhirnya lulus. Banyak lulusan akademi yang debut dan
berkarier dengan baik, bahkan sampai ke luar negeri. Banyak juga
yang membuka sanggar kecil untuk anak-anak. Mellowmedy 25
Ayah ingin para siswa yang lulus dari sini bisa menggapai
mimpinya.
Andrea debut tahun lalu. Ia ikut audisi pemain untuk film Ada
Apa Dengan Cantik. Lulus audisi murni karena usahanya sendiri,
bukan karena anak seorang Willy Tan.
“Tunggu aja di sini,” perintahnya ke Mas Ryan saat mereka tiba
di pos satpam asrama perempuan.
“Serius? Gak mau dianter sampai atas?”
“Enggak, cowok dilarang masuk. Tuh, lihat.” Ia menunjuk papan
bertuliskan ‘Area Perempuan. Laki-Laki Dilarang Masuk’ menempel
di pintu masuk.
“Kan, Mas Ryan beda, Dre. Mas Ryan bodyguard-nya anak CEO,
mana mungkin ada yang ngelarang masuk sini.” Dia menepuk dada
bangga. Membuatnya terlihat sangat keren.
“Dah, ah. Tunggu aja.” Ia segera masuk menuju lantai dua. Tidak
mau berlama-lama dengannya di tempat terbuka.
“Steph, Steph. Buka!” Andrea mengetuk pintu kamar nomor 215.
“Sabar kenapa? Heboh amat.”
“Woahh, ini kamar apa kapal pecah? Lo bisa enggak sih beres-
beres. Yang rapi gitu, yang bersih. Rawat baik-baik, jaga baik-baik
kamar ini. Aset loh, Steph,” omelnya begitu pintu terbuka dan
mendapati bungkus camilan tercecer di mana-mana.
“Ga ada waktu,” jawabnya enteng sambil menuangkan segelas air.
“Nih, minumnya tuan putri Pak Willy.” Dia meletakkannya di
meja kecil.
Andrea menyingkirkan beberapa bungkus camilan, lalu duduk
lesehan sambil menjulurkan kaki. Kakinya masuk ke kolong meja
kecil tempat gelas tadi disimpan.
“Udah paling wuenak, ya, duduk di situ.”
Ia tertawa. “Haha. Bangetttt.”
“Berisik.” Dia melempar tisu bekas dan mendarat tepat di wajah
Andrea. 26 Mellowmedy
“Dodol!”