MELLOWMEDY

Nurul Awaliyah
Chapter #7

WHO AM I

Dominick dan rokok adalah pasangan sejati. Tidak bisa 

dipisahkan. Ada lirik lagu berbunyi ‘smoke doesn’t 

make me feel good’. Bagi Dominick itu tidak benar. 

Kenyataannya merokok selalu bisa bikin dirinya bahagia dan merasa 

lebih baik.

Setiap batangnya tidak pernah gagal untuk menghapus rasa 

kesepiannya. Aromanya selalu menenangkan. Dan, asapnya selalu 

berhasil membawa terbang segala risau yang dirasakan. Dominick 

selalu berterima kasih karena mereka tetap setia bersamanya 

setelah sekian lama.

Walaupun Dominick hanya seperti seorang manusia yang seperti 

kacang lupa kulitnya. Setelah habis, ia buang sisa mereka. Tidak 

jarang sisanya ia injak-injak. Seolah-olah belum kenyang melepaskan 

kerisauan yang terbang bersama asapnya. Dominick masih butuh 

melampiaskan kekesalan dengan menginjak puntungnya.

Dominick mengenal rokok sejak SMA. Sebuah perkenalan 

yang indah. Lalu, setelah lulus SMA, ia merasa ingin terus merokok. 

Terutama setelah Ujian Nasional sampai pengumuman kelulusan 

yang jedanya cukup lama. Selama itu juga ia berkencan terus-

menerus dengan rokok. Mellowmedy 37

Sampai akhirnya, kencannya dengan rokok harus terhalang 

oleh aturan-aturan yang ada di asrama ini. Dalam sehari, Dominick 

hanya bisa merokok satu atau dua batang saja. Bahkan, kadang-

kadang dalam satu hari kesempatan itu tidak ia dapatkan.

Cuma satu alasan mengapa ia bertahan di akademi itu. Ibunya.

Suatu malam ketika Dominick sedang duduk bersama ibunya 

sambil menonton televisi, tiba-tiba ibu banyak tertawa. Tertawa 

terpingkal hingga berguling-guling, tapi untungnya tidak sampai 

melewati jalan di depan rumah. 

Sang ibu tertawa pecah sampai mengeluarkan air mata saat 

menonton salah satu komika di televisi. Dominick sampai bingung, 

ibunya tertawa atau menangis. Tapi, ia bersyukur, akhirnya ibu bisa 

tertawa dan juga menangis. Setelah sekian lama, ia tidak pernah 

melihatnya tertawa begitu lepas.

“Bu, Domi gak jadi daftar kuliah. Domi mau jadi Komika aja,” 

cetusnya dua tahun lalu.

“Komika? Komika apa? Mau bikin komik? Bikin komik di mana? 

Memang kamu bisa gambar?” tanya Ibu kebingungan.

“Bukan itu, Bu. Komika. Itu loh, orang yang ngelawak sendirian 

sambil berdiri. Yang beberapa hari lalu Ibu tonton sampe ketawa 

guling-guling.”

“Ngapain? Jangan ngada-ngada deh, Dom. Kuliah yang bener,” 

omel Ibu, tapi kemudian dia ngakak. “Gak beres itu Raditya Dika 

sama siapa tuh, lupa. Yang suka, iya kamu... kamu ....”

“Dodit?”

“Nah itu. Haha.”

“Nah, Domi mau jadi kayak mereka, Bu. Domi mau belajar jadi 

Komika sukses kayak mereka.” Dominick percaya diri. Lebih tepatnya 

berusaha terlihat percaya diri di hadapan sang ibu.

“Belajar di mana? Emang yang kayak gitu ada sekolahnya?” 

tanya Ibu sambil mengocek kopi instan yang baru saja diseduh.

“Shine Media, Bu. Akademi seni. Baru-baru ini mereka buka 

kelas komedi.” 38 Mellowmedy

“Terus? Gak mau kuliah? Mana yang akhirnya bikin kamu 

gampang cari uang? Kuliah atau belajar di sana?” 

Dominick menggaruk kepala yang tidak gatal. Kebingungan 

setengah mati. Memang apa pun yang ia pilih, pada akhirnya 

Lihat selengkapnya