Dominick dan rokok adalah pasangan sejati. Tidak bisa
dipisahkan. Ada lirik lagu berbunyi ‘smoke doesn’t
make me feel good’. Bagi Dominick itu tidak benar.
Kenyataannya merokok selalu bisa bikin dirinya bahagia dan merasa
lebih baik.
Setiap batangnya tidak pernah gagal untuk menghapus rasa
kesepiannya. Aromanya selalu menenangkan. Dan, asapnya selalu
berhasil membawa terbang segala risau yang dirasakan. Dominick
selalu berterima kasih karena mereka tetap setia bersamanya
setelah sekian lama.
Walaupun Dominick hanya seperti seorang manusia yang seperti
kacang lupa kulitnya. Setelah habis, ia buang sisa mereka. Tidak
jarang sisanya ia injak-injak. Seolah-olah belum kenyang melepaskan
kerisauan yang terbang bersama asapnya. Dominick masih butuh
melampiaskan kekesalan dengan menginjak puntungnya.
Dominick mengenal rokok sejak SMA. Sebuah perkenalan
yang indah. Lalu, setelah lulus SMA, ia merasa ingin terus merokok.
Terutama setelah Ujian Nasional sampai pengumuman kelulusan
yang jedanya cukup lama. Selama itu juga ia berkencan terus-
menerus dengan rokok. Mellowmedy 37
Sampai akhirnya, kencannya dengan rokok harus terhalang
oleh aturan-aturan yang ada di asrama ini. Dalam sehari, Dominick
hanya bisa merokok satu atau dua batang saja. Bahkan, kadang-
kadang dalam satu hari kesempatan itu tidak ia dapatkan.
Cuma satu alasan mengapa ia bertahan di akademi itu. Ibunya.
Suatu malam ketika Dominick sedang duduk bersama ibunya
sambil menonton televisi, tiba-tiba ibu banyak tertawa. Tertawa
terpingkal hingga berguling-guling, tapi untungnya tidak sampai
melewati jalan di depan rumah.
Sang ibu tertawa pecah sampai mengeluarkan air mata saat
menonton salah satu komika di televisi. Dominick sampai bingung,
ibunya tertawa atau menangis. Tapi, ia bersyukur, akhirnya ibu bisa
tertawa dan juga menangis. Setelah sekian lama, ia tidak pernah
melihatnya tertawa begitu lepas.
“Bu, Domi gak jadi daftar kuliah. Domi mau jadi Komika aja,”
cetusnya dua tahun lalu.
“Komika? Komika apa? Mau bikin komik? Bikin komik di mana?
Memang kamu bisa gambar?” tanya Ibu kebingungan.
“Bukan itu, Bu. Komika. Itu loh, orang yang ngelawak sendirian
sambil berdiri. Yang beberapa hari lalu Ibu tonton sampe ketawa
guling-guling.”
“Ngapain? Jangan ngada-ngada deh, Dom. Kuliah yang bener,”
omel Ibu, tapi kemudian dia ngakak. “Gak beres itu Raditya Dika
sama siapa tuh, lupa. Yang suka, iya kamu... kamu ....”
“Dodit?”
“Nah itu. Haha.”
“Nah, Domi mau jadi kayak mereka, Bu. Domi mau belajar jadi
Komika sukses kayak mereka.” Dominick percaya diri. Lebih tepatnya
berusaha terlihat percaya diri di hadapan sang ibu.
“Belajar di mana? Emang yang kayak gitu ada sekolahnya?”
tanya Ibu sambil mengocek kopi instan yang baru saja diseduh.
“Shine Media, Bu. Akademi seni. Baru-baru ini mereka buka
kelas komedi.” 38 Mellowmedy
“Terus? Gak mau kuliah? Mana yang akhirnya bikin kamu
gampang cari uang? Kuliah atau belajar di sana?”
Dominick menggaruk kepala yang tidak gatal. Kebingungan
setengah mati. Memang apa pun yang ia pilih, pada akhirnya