Pertama kali Dominick melihat Andrea di televisi. Ada
semacam acara yang menunjukkan kehidupan pribadi
seorang figur publik. Risa Ferlina.
Ibunya memantau terus acara itu. Ibu Dominick salah satu
penggemar berat seorang Risa Ferlina. Lagu-lagu hits darinya selalu
memenuhi seisi rumah. Didengarkan setiap hari.
“Ngapin sih, Bu, nontonin terus acara ini? Emang penting?”
“Penting, Dom. Gak ada artis yang sebaik dan secantik
Risa. Dari dulu sampai sekarang enggak pernah berubah, awet
muda. Suaranya aduhai merdu sekali.” Ibunya selalu antusias jika
membahas diva satu itu.
“Alah, tapi dia sama aja kayak artis lain. Kerjaannya cuma pamer
harta dan kemesraan. Pantes banyak haters-nya orang kerjaannya
ngumbar kebahagiaan. Kan, orang di luaran sana yang hidupnya gak
sebahagia dia jadi iri. Cari keirian orang doang, pantes ada yang benci.”
“Hus! Sembarangan!” Ibu memukul punggung Dominick.
“Risa Ferlina dulu juga orangnya biasa aja. Dia berjuang untuk
kariernya. Sekarang pantes dia lebih banyak yang suka. Orangnya
dermawan. Baik banget, sampe adopsi anak korban kebakaran,”
jelasnya penuh semangat. Mellowmedy 43
“Dermawan kalau banyak duit, Bu. Kalau gak punya duit juga
dia bodo amat.”
“Noh, noh, lihat noh. Anak angkatnya. Dulu gak mirip, sekarang
karena udah diasuh bertahun-tahun jadi mirip.” Ibu menunjuk
televisi sambil memukul-mukul punggung Dominick agar segera
memperhatikan apa yang ada di layar.
“Mana?” Agar ibunya senang, Dominick pura-pura antusias.
“Nah, ini!”
Terpampang nyata di layar kaca, Andrea Tan. Saat itu Dominick
seperti masuk ke dalam mode slow motion. Melihat gerak-geriknya
di layar kaca, mendengar celotehannya, dia tertawa, dia nangis.
Setelah malam itu, Dominick yang lebih rajin menonton acara
Risa Ferlina dibandingkan ibunya. Bukan cuma di TV, Dominick juga
rela membeli kuota banyak agar bisa melihat acara lain yang dia
tampil, di Youtube.
Ratusan kali ia melihat video Risa Ferlina bernyanyi di atas
panggung sambil menggandeng anak perempuannya yang
cantik dan memesona. Luar biasa. Mata Dominick terkesima.
Penampilannya membuat hati Dominick jadi tenang.
“Aku merasa bersalah dan ingin rasanya minta maaf sama orang tua
kandungku. Karena aku tidak banyak ingat momen masa lalu bersama
mereka. Maaf, ya, semoga kalian bahagia di surga,” kata Andrea saat
diberi kejutan ulang tahunnya, di salah satu acara talkshow.
Dominick meneteskan air mata saat melihat itu. Menonton
video-videonya membuatnya merasa lebih baik. Luka karena masa
kecil yang penuh rintangan dan cobaan perlahan lenyap karenanya.
Andrea yang dulu ditinggal kedua orang tuanya, diberi
kebahagiaan oleh Tuhan dengan memberinya orang tua baru yang
luar biasa. Dominick dan sang ibu yang hidupnya hancur juga pasti
dapat kebahagiaan suatu saat nanti. Makanya, ia juga menjadi
termotivasi berkarier lebih baik lagi supaya bisa menjadi orang
sukses dan lebih bahagia.
*** 44 Mellowmedy
Dear, Andrea
Halo, Andrea. Aku Dominick. Panggil aja Domi. Dengan
ini aku menyatakan bahwa kamu jauh lebih cantik di real
life dibandingkan dengan di layar kaca. Selama ini aku
hanya lihat kamu di televisi, mimpi dan kebaikan apa yang
telah aku lakukan di masa lalu sampai diberi kesempatan
yang seindah ini oleh Tuhan.
Melihat kamu di dunia nyata, seperti mimpi. Berkali-
kali kucubit tangan sendiri, berkali-kali aku sadar ini
bukan mimpi. Kalaupun aku keliru dan ternyata semua ini
halusinasi, maka aku ingin berhalusinasi selamanya.
Andrea, entah kamu akan membaca surat ini atau
enggak. Mungkin surat ini bertumpuk bersama surat-surat
lainnya dari penggemar kamu. Tapi, aku berharap surat ini
sampai ke tangan kamu dan kamu baca sampai tuntas.
Aku cuma mau bilang, jangan sedih dan merasa bersalah
atas masa lalumu. Jangan kamu merasa dirimu salah karena
sedang bahagia. Orang tuamu di surga sana pasti juga ikut
senang melihatmu bahagia. Pasti. Tetap semangat, ya, Andrea.
Aku pernah melihat kamu menangis di TV karena katanya
kamu tidak ingat banyak tentang orang tua kandungmu.
Tidak apa untuk tidak mengingat momen apa saja yang telah
kamu dan mereka ciptakan, yang pasti ingatlah ini. Ibumu
melahirkanmu, Ayahmu gembira menyambut kelahiranmu.
Itu saja, kurasa cukup.
Satu SMA dengannya adalah anugerah terindah dari Tuhan.
Cinta membuat Dominick hilang akal. Puluhan surat ia tulis
untuk Andrea. Sengaja menulis banyak, berjaga-jaga jika suratnya
tidak dibaca, maka suratnya yang paling banyak akan tertumpuk
dengan surat-surat lain dari penggemarnya. Mellowmedy 45
Sayangnya, setelah kegembiraan itu, Dominick harus
menerima kenyataan kalau dia memang sangat sulit dijangkau.
Pengawalannya selalu ketat. Pengawal pribadinya punya badan
atletis yang membuat nyalinya ciut.
Tapi, bukan Domi namanya kalau menyerah begitu saja.
“Andrea, ini surat dariku. Domi. Domi. Domi. Dominick.
Bye.” Dominick menggenggamkan sepucuk surat ke tangannya,
kemudian berlari secepat kilat begitu pengawalnya melotot.
Dominick memberi dia finger heart ala Korea yang saat itu
sedang viral.
Andrea diliputi rasa heran.
Bukannya senyum yang ia dapat, tapi kerutan keningnya.
Namun, Dominick bahagia karena kesempatan surat itu bisa dibaca
olehnya semakin besar. Karena dirinya memberikannya langsung,
tidak menaruhnya di kolong meja bersama dengan surat-surat lain
seperti sebelumnya.
Setiap jam istirahat, di kantin sudah seperti ada fanmeeting.
Banyak yang menanti Andrea di sana, termasuk Dominick tentu
saja. ia sudah tahu betul apa yang biasa dipesan olehnya.
“Andrea, ini siomay dari aku. Domi. Domi. Domi. Dominick.”
Dengan percaya diri Dominick meletakkan sepiring siomay di
meja tempatnya biasa menyantap makan siang. Tanpa menunggu
patahan kata apa pun darinya, Dominick langsung kabur setelah itu.
Satu tahun di sekolah yang sama dengannya, Dominick tetap
tidak punya kesempatan. Apalagi dirinya saat itu tidak pintar-pintar
amat, tidak populer sama sekali, dan tidak termasuk ke dalam
cowok tajir.
Untung saja ia punya wajah yang di atas rata-rata. Tapi, yang
pintar, populer, dan kaya raya saja tidak pernah bisa memikat hati
Andrea, apalagi dirinya yang cuma punya modal tampang. Dengan
penuh kesabaran, ia hanya bisa mengamatinya dari jauh.
Dia punya dua sahabat, namanya Olivia dan Stephanie. Selain
mengobrol dengan pemilik nama-nama itu, dia selalu ditemani
asisten dan bodyguard-nya. 46 Mellowmedy
Dulu dia pernah pingsan. Dominick khawatir setengah mati
saat itu. Ternyata, pada saat itu dia sedang PMS. Seorang Andrea
pingsan, satu sekolah heboh seperti ada kambing yang bertelur.
Namun, Dominick sendiri pun sama hebohnya dengan yang lain. Ia
berlari tidak karuan hanya karena ingin melihat kambing bertelur.
Eh, Andrea pingsan.
“Norak lo! Ngapain coba? Kepo banget sampe nyamperin ke
UKS. Coba kalau Mbak Tuti pingsan mana mau lo nengokin dia,”
sungut Oki. Teman sebangku Dominick saat SMA.
“Lah, emang Mbak Tuti siapa gue sampe gue harus nengokin
kalau dia pingsan?”
Mbak Tuti, si tukang gorengan paling nikmat di kantin sekolah.
Sambalnya itu loh, superpu duperpu mantapu jiwapu.
“Penting dong. Kalau dia pingsan, kalau dia sakit, siapa coba
yang mau dagang gorengan di kantin? Udah tahu itu jajanan paling
murah buat yang isi dompetnya pas-pasan kayak elo,” ledek Oki
sambil ngakak.
Dominick menarik kerah seragam temannya sampai dia
meminta ampun.
“Lagian …, si Andrea disamain kayak Mbak Tuti!” ucapnya tidak
terima.
“Sama aja, Dom. Mbak Tuti siapanya elo sampe lo kudu nengok
kalau dia pingsan. Terus, Andrea siapanya elo sampe lo kudu
nengok kalau dia pingsan,” kelakar Oki, kemudian tawanya pecah
tak tertahan.
Cengkeraman Dominick pada kerahnya jadi melemah. Bagai
disambar petir, disapu angin topan, diempaskan tsunami besar,
Dominick terdampar di sebuah tempat yang bernama realita.
“Gue bukan siapa-siapanya dia!” Ia mengulangi kalimat itu
dalam batinnya.
Andrea adalah seonggok daging di muka bumi ini yang
berharga bagi Dominick. Tapi, dirinya hanyalah satu dari sekian
banyaknya fans Andrea. Akan tetapi, Dominick yakin bahwa
cintanya jauh lebih besar daripada yang lain. Mellowmedy 47
Meskipun kenyataan telah menampar, Dominick tidak lantas
menyerah. Besoknya, setelah tragedi pingsannya Andrea yang
menghebohkan, dengan keyakinan besar bahwa pisang bisa
meredakan sakit PMS, ia membeli satu sisir. Kuning dan besar.
Sengaja ia pilih pisang dengan kualitas terbaik supaya Andrea tidak
ragu saat menggigitnya.
Dari kejauhan, ia mengawasi Andrea yang tengah duduk di
kursi yang ada di depan kelasnya sambil membaca buku. Mata