Melodi Takdir

GeriNugraha
Chapter #2

Awal Pertemuan

Bagi Raka kecil, dunia adalah tempat yang keras. Setiap hari, matahari terbit membawa janji perjuangan baru, dan terbenam meninggalkan lelah yang menumpuk. Pagi itu, seperti pagi-pagi lainnya, Raka melangkah ke sekolah dengan tas usang di punggungnya. Sepatu kanvasnya yang bolong di ujung, celana seragamnya yang sudah lusuh, semua adalah simbol nyata dari kenyataan yang ia jalani. Ia berjalan menunduk, menghindari tatapan dan bisik-bisik dari teman-teman sebayanya. Ayahnya selalu berkata, "Jangan lemah, jangan biarkan orang lain tahu betapa miskinnya kita." Kata-kata itu, meski kasar, menancap kuat di benak Raka. Ia membangun tembok tinggi di sekeliling hatinya, menjadikannya perisai dari dunia yang kejam. Ia bersikap jutek, dingin, dan acuh tak acuh, agar tidak ada yang bisa menyakitinya lagi.


Tiba-tiba, langkahnya terhenti. Di gerbang sekolah, ada sebuah mobil hitam mengkilap yang sangat panjang. Anak-anak lain berkumpul, berbisik-bisik, menunjuk ke arah mobil itu. Raka hanya acuh, ia tidak tertarik pada barang-barang mewah. Namun, matanya tak sengaja menangkap sosok seorang gadis kecil yang turun dari mobil. Gadis itu mengenakan seragam baru yang terlihat begitu rapi, dengan pita merah muda di rambutnya yang bergelombang. Wajahnya mungil, matanya bulat, dan senyumnya... senyumnya begitu cerah seolah ia membawa mentari pagi di dalam dirinya.


Gadis itu berjalan perlahan, matanya yang besar menatap sekeliling dengan penuh rasa ingin tahu. Sebagian besar anak menatapnya dengan kekaguman, sebagian lagi dengan rasa iri. Gadis itu memegang tangan ayahnya, seorang pria dengan setelan rapi, lalu membungkuk sopan kepada guru-guru yang menyambut mereka. Raka terus berjalan, mencoba secepat mungkin melewati kerumunan. Ia tidak peduli siapa gadis itu. Ia hanya ingin masuk ke kelasnya yang tenang, tempat di mana ia bisa tenggelam dalam dunianya sendiri: menggambar monster dan pahlawan.


Namun, takdir punya rencana lain. Sore itu, saat Raka sedang duduk sendirian di bawah pohon rindang di pojok sekolah, sebuah suara lembut memecah keheningan.


“Halo, namaku Han So-Yeon. Aku anak baru. Aku pindah dari Korea.”


Raka mengangkat kepalanya. Gadis yang sama di gerbang tadi pagi. Ia kini berdiri di hadapannya, sambil memegang kotak makan siang berwarna pink.


“Aku bawa roti, kau mau?” tanyanya, suaranya terdengar polos.


Raka tidak menjawab. Ia hanya menatap dingin ke arah So-Yeon. Ia tidak suka orang asing yang mencoba mendekatinya. Mereka semua sama, datang dan pergi, dan hanya akan menambah luka.


So-Yeon tidak menyerah. Ia duduk di samping Raka, tanpa diundang. “Kau suka menggambar? Gambarmu bagus sekali!”


Raka menunduk, melihat buku gambarnya yang terbuka. Di sana, ada sebuah robot raksasa dengan pedang laser. Ia tidak tahu So-Yeon bisa melihatnya. Ia ingin sekali menyembunyikan buku itu, tapi sudah terlambat.


“Kau suka game?” tanya So-Yeon lagi.


Raka mengangguk pelan. Hanya mengangguk.


“Aku juga! Ayahku bilang ia akan membuka perusahaan game di sini. Mungkin suatu hari, kau bisa buat game yang keren sekali!”

Lihat selengkapnya