Gema itu tidak pernah benar-benar pergi. Ia bersembunyi di sudut-sudut
auditorium yang gelap, merayap di antara barisan kursi beludru kosong, dan
akhirnya berhenti tepat di ujung jemari Aruna.
Di bawah lampu panggung yang temaram, Aruna Widjaja menatap tuts-tuts piano
Steinway & Sons di hadapannya seolah benda itu adalah altar sekaligus tempat
eksekusi. Gedung kesenian ini seharusnya riuh oleh tepuk tangan besok malam.
Namanya seharusnya terpampang di poster besar di lobi: Aruna Widjaja – The
Soloist Return. Namun, kenyataannya, ruangan ini hanya berisi keheningan yang
menyesakkan, ditemani aroma debu dan pelitur kayu tua.
Aruna menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang tidak
beraturan. Ia meletakkan tangan kanannya di atas tuts middle C. Ia hanya perlu
memainkan Nocturne Op. 9 No. 2 milik Chopin. Sebuah lagu yang sudah ia kuasai
sejak usia sepuluh tahun. Sebuah lagu yang sudah mendarah daging.
Jemarinya mulai menari. Nada pertama mengalun lembut, mengisi kekosongan udara.
Satu baris, dua baris, Aruna memejamkan mata. Ia membiarkan jiwanya hanyut dalam
melodi yang melankolis itu. Namun, tepat saat ia hendak memasuki bagian
crescendo yang rumit, pengkhianatan itu datang lagi.
Saraf di pangkal pergelangan tangannya berdenyut kaku. Seolah-olah ada sengatan
listrik kecil yang memutus sirkuit perintah dari otaknya. Jari manis dan
kelingkingnya bergetar hebat—sebuah tremor halus namun fatal. Nada yang
seharusnya jernih berubah menjadi bunyi sumbang yang mengerikan.
Aruna tersentak. Ia segera menarik tangannya, mendekapnya di dada seolah tangan
itu adalah seekor burung kecil yang terluka. Napasnya memburu. Keringat dingin
mulai membasahi pelipisnya.
"Jangan sekarang... tolong, jangan sekarang," bisiknya parau, memohon pada
tubuhnya sendiri.
Ia mencoba lagi. Dan gagal lagi. Suara sumbang itu bergema di seluruh ruangan,
mengejeknya, mengingatkannya pada vonis dokter dua bulan lalu: Focal Dystonia.
Sebuah gangguan saraf yang sering menjadi lonceng kematian bagi karier seorang
musisi profesional. Otot-ototnya tidak lagi mengenali perintah untuk bergerak
halus. Bagi dunia luar, Aruna tampak sehat. Namun bagi seorang pianis, ia adalah
orang cacat.
Aruna menunduk, membiarkan rambut hitamnya menutupi wajahnya yang pias. Ia
merasa seperti sebuah gema—sesuatu yang pernah ada, pernah indah, namun kini
hanya sisa suara yang perlahan memudar menuju ketiadaan.
Satu minggu kemudian, Jakarta terasa terlalu sempit bagi kegagalan Aruna.
Apartemennya di kawasan Jakarta Selatan terasa seperti penjara yang dipenuhi
dengan piala-piala perak yang kini tampak seperti batu nisan. Setiap kali ia
melihat piano tegak di sudut ruang tamunya, ia merasakan rasa mual yang hebat.
Hingga sebuah surat elektronik masuk ke kotak surelnya. Sebuah penawaran kerja