Pagi di Lembang tidak datang dengan cahaya matahari yang cerah, melainkan dengan
warna abu-abu yang merayap masuk melalui celah gorden paviliun. Aruna terbangun
dengan perasaan dingin yang menggigit tulang. Udara pegunungan yang lembap
terasa berat di paru-parunya, membawa aroma lumut, tanah basah, dan sesuatu yang
sulit ia definisikan—aroma waktu yang berhenti.
Ia bangkit dari tempat tidur, mencoba menggerakkan jari-jari tangan kanannya.
Pagi ini, tangannya terasa kaku, seolah-olah otot-ototnya membeku karena suhu
udara. Aruna mendesah pelan, menekan pangkal telapak tangannya dengan ibu jari
kiri, mencoba memancing kembali aliran darah yang seolah tersumbat oleh trauma
dan keputusasaan.
Setelah mandi dengan air hangat yang hanya suam-suam kuku, Aruna melangkah
keluar paviliun menuju gedung utama. Kabut pagi masih menyelimuti halaman,
membuat pohon-pohon pinus di sekeliling vila tampak seperti prajurit-prajurit
raksasa yang sedang berjaga dalam diam. Langkah kakinya di atas jalan setapak
berbatu terdengar terlalu keras di tengah kesunyian yang mencekam itu.
Di ruang makan, Bi Ijah sudah menunggu dengan nampan berisi sarapan sederhana:
roti bakar, selai kacang, dan secangkir kopi hitam yang mengepulkan uap.
"Tuan Adrian tidak suka kebisingan di pagi hari, Nona," ujar Bi Ijah tanpa
basa-basi saat Aruna menarik kursi kayu jati yang berat. "Setelah sarapan,
silakan langsung menuju ruang musik di sayap timur. Rara sudah menunggu di
sana."
"Apakah Rara selalu bangun seawal ini?" tanya Aruna, mencoba membuka percakapan.
"Rara tidak banyak tidur," jawab Bi Ijah pendek. "Dan dia tidak suka menunggu."
Aruna menyesap kopinya yang pahit, matanya mengitari ruang makan.
Dinding-dindingnya dihiasi oleh lukisan lanskap tua yang warnanya sudah memudar.
Di sudut ruangan, sebuah jam bandul besar berdetak dengan ritme yang lambat,
seolah-olah waktu di Vila Parahyangan memang memiliki aturannya sendiri. Tidak
ada foto keluarga, tidak ada sentuhan personal yang menunjukkan bahwa rumah ini
dihuni oleh manusia yang memiliki emosi. Rumah ini lebih mirip sebuah museum
untuk kenangan yang ingin dilupakan.
Ruang musik di sayap timur adalah sebuah ruangan dengan langit-langit tinggi dan
jendela-jendela besar yang menghadap ke lembah. Di tengah ruangan, sebuah piano
grand berwarna hitam mengkilap berdiri dengan angkuh. Namun, perhatian Aruna
langsung tertuju pada sosok kecil yang duduk di bangku panjang di dekat jendela.
Rara. Anak itu tampak lebih rapuh daripada yang Aruna bayangkan. Usianya mungkin
sekitar tujuh atau delapan tahun, dengan kulit pucat dan mata bulat besar yang
tampak terlalu dewasa untuk wajahnya yang mungil. Ia mengenakan gaun wol
berwarna biru tua dan duduk dengan punggung tegak, menatap ke arah kabut di luar
jendela seolah-olah ada sesuatu yang menarik di sana.
"Halo, Rara," sapa Aruna lembut, mencoba memberikan senyum terbaiknya.
Rara tidak menoleh. Ia bahkan tidak berkedip.
Aruna mendekat, perlahan duduk di kursi di samping anak itu. "Nama saya Aruna.
Saya yang akan menemanimu bermain musik mulai hari ini."
Masih tidak ada reaksi. Aruna merasa seolah-olah ia sedang berbicara dengan
sebuah patung porselen. Ia teringat ucapan Pak Baskara tentang kesulitan
komunikasi yang dialami Rara sejak kecelakaan itu. Namun, melihat Rara dari
dekat, Aruna merasakan sesuatu yang lain. Ini bukan sekadar trauma; ini adalah
penolakan total terhadap dunia luar.
Aruna bangkit dan berjalan menuju piano. Ia membuka tutup tutsnya dengan gerakan