MELODY DIBALIK KABUT

Ahmad Barnash
Chapter #2

Vila di Atas Bukit

Pagi di Lembang tidak datang dengan cahaya matahari yang cerah, melainkan dengan

warna abu-abu yang merayap masuk melalui celah gorden paviliun. Aruna terbangun

dengan perasaan dingin yang menggigit tulang. Udara pegunungan yang lembap

terasa berat di paru-parunya, membawa aroma lumut, tanah basah, dan sesuatu yang

sulit ia definisikan—aroma waktu yang berhenti.


Ia bangkit dari tempat tidur, mencoba menggerakkan jari-jari tangan kanannya.

Pagi ini, tangannya terasa kaku, seolah-olah otot-ototnya membeku karena suhu

udara. Aruna mendesah pelan, menekan pangkal telapak tangannya dengan ibu jari

kiri, mencoba memancing kembali aliran darah yang seolah tersumbat oleh trauma

dan keputusasaan.


Setelah mandi dengan air hangat yang hanya suam-suam kuku, Aruna melangkah

keluar paviliun menuju gedung utama. Kabut pagi masih menyelimuti halaman,

membuat pohon-pohon pinus di sekeliling vila tampak seperti prajurit-prajurit

raksasa yang sedang berjaga dalam diam. Langkah kakinya di atas jalan setapak

berbatu terdengar terlalu keras di tengah kesunyian yang mencekam itu.


Di ruang makan, Bi Ijah sudah menunggu dengan nampan berisi sarapan sederhana:

roti bakar, selai kacang, dan secangkir kopi hitam yang mengepulkan uap.


"Tuan Adrian tidak suka kebisingan di pagi hari, Nona," ujar Bi Ijah tanpa

basa-basi saat Aruna menarik kursi kayu jati yang berat. "Setelah sarapan,

silakan langsung menuju ruang musik di sayap timur. Rara sudah menunggu di

sana."


"Apakah Rara selalu bangun seawal ini?" tanya Aruna, mencoba membuka percakapan.


"Rara tidak banyak tidur," jawab Bi Ijah pendek. "Dan dia tidak suka menunggu."


Aruna menyesap kopinya yang pahit, matanya mengitari ruang makan.

Dinding-dindingnya dihiasi oleh lukisan lanskap tua yang warnanya sudah memudar.

Di sudut ruangan, sebuah jam bandul besar berdetak dengan ritme yang lambat,

seolah-olah waktu di Vila Parahyangan memang memiliki aturannya sendiri. Tidak

ada foto keluarga, tidak ada sentuhan personal yang menunjukkan bahwa rumah ini

dihuni oleh manusia yang memiliki emosi. Rumah ini lebih mirip sebuah museum

untuk kenangan yang ingin dilupakan.


Ruang musik di sayap timur adalah sebuah ruangan dengan langit-langit tinggi dan

jendela-jendela besar yang menghadap ke lembah. Di tengah ruangan, sebuah piano

grand berwarna hitam mengkilap berdiri dengan angkuh. Namun, perhatian Aruna

langsung tertuju pada sosok kecil yang duduk di bangku panjang di dekat jendela.


Rara. Anak itu tampak lebih rapuh daripada yang Aruna bayangkan. Usianya mungkin

sekitar tujuh atau delapan tahun, dengan kulit pucat dan mata bulat besar yang

tampak terlalu dewasa untuk wajahnya yang mungil. Ia mengenakan gaun wol

berwarna biru tua dan duduk dengan punggung tegak, menatap ke arah kabut di luar

jendela seolah-olah ada sesuatu yang menarik di sana.


"Halo, Rara," sapa Aruna lembut, mencoba memberikan senyum terbaiknya.


Rara tidak menoleh. Ia bahkan tidak berkedip.


Aruna mendekat, perlahan duduk di kursi di samping anak itu. "Nama saya Aruna.

Saya yang akan menemanimu bermain musik mulai hari ini."


Masih tidak ada reaksi. Aruna merasa seolah-olah ia sedang berbicara dengan

sebuah patung porselen. Ia teringat ucapan Pak Baskara tentang kesulitan

komunikasi yang dialami Rara sejak kecelakaan itu. Namun, melihat Rara dari

dekat, Aruna merasakan sesuatu yang lain. Ini bukan sekadar trauma; ini adalah

penolakan total terhadap dunia luar.


Aruna bangkit dan berjalan menuju piano. Ia membuka tutup tutsnya dengan gerakan

Lihat selengkapnya