MELODY DIBALIK KABUT

Ahmad Barnash
Chapter #3

Tuan Tanah yang Terluka

Hujan di Lembang tidak pernah datang dengan malu-malu. Ia jatuh dengan hantaman

yang keras, memukul atap sirap Vila Parahyangan dengan irama yang konstan dan

monoton, menciptakan dinding air yang memisahkan rumah ini dari sisa dunia. Di

dalam perpustakaan yang terletak di lantai bawah, Aruna berdiri terpaku di depan

deretan rak buku kayu jati yang menjulang hingga ke langit-langit. Aroma kertas

tua dan vanila kering memenuhi indranya, sebuah kontras yang menenangkan

dibandingkan udara lembap di luar.


Setelah konfrontasi tajam di ruang musik tadi siang, Aruna tidak bisa diam saja

di paviliun. Ia butuh jawaban. Ia butuh memahami siapa pria yang

mempekerjakannya, pria yang memandangnya seolah-olah ia adalah noda di atas

partitur yang bersih.


Jemarinya menyusuri punggung-punggung buku yang berdebu. Sebagian besar adalah

koleksi sastra klasik dan ensiklopedia musik. Hingga akhirnya, tangannya

berhenti pada sebuah kliping koran lama yang terselip di antara buku biografi

Mahler.


“Adrian Mahendra: Sang Maestro Muda Menaklukkan Wina.”


Aruna menarik kliping yang sudah menguning itu. Di sana, terpampang foto seorang

pria muda yang berdiri di podium konduktor. Wajahnya utuh, tampan dengan garis

rahang yang tegas, dan matanya memancarkan gairah yang seolah bisa membakar

siapa saja yang melihatnya. Ia tampak begitu hidup, begitu berkuasa atas

orkestra di belakangnya. Tidak ada syal sutra hitam, tidak ada topi yang

menyembunyikan wajah, tidak ada kepahitan yang meluap-luap.


"Foto itu diambil sepuluh tahun yang lalu. Saat dunia masih tampak seperti taman

bermain baginya."


Suara itu muncul dari sudut ruangan yang gelap, membuat Aruna hampir menjatuhkan

kliping tersebut. Adrian duduk di sebuah kursi sayap tinggi di dekat perapian

yang apinya hampir padam. Ia memegang sebuah gelas kristal berisi cairan

berwarna amber. Di bawah cahaya temaram, ia tampak seperti bagian dari

bayang-bayang itu sendiri.


Aruna mengatur napasnya. "Anda adalah konduktor yang luar biasa. Saya pernah

menonton rekaman konser Anda di Berlin saat saya masih di konservatori. Teknik

interpretasi Anda terhadap Symphony No. 5 Beethoven... tidak ada yang bisa

menyamainya."


Adrian tertawa, suara yang lebih mirip geraman rendah. "Interpretasi? Itu hanya

kesombongan masa muda, Nona Widjaja. Kita berpikir kita bisa mengendalikan

takdir dengan tongkat konduktor, padahal kenyataannya, takdir hanyalah seorang

pemain dadu yang mabuk."


Adrian berdiri, berjalan perlahan mendekati Aruna. Aruna tidak mundur, meskipun

jantungnya berdentum keras. Saat Adrian masuk ke lingkaran cahaya kecil dari

lampu meja, Aruna bisa melihat lebih jelas. Syal hitamnya sedikit melonggar,

menampakkan guratan jaringan luka yang kemerahan di sepanjang leher dan

dagunya. Luka itu tampak menyakitkan, seolah-olah api masih tertinggal di sana.

Lihat selengkapnya