Hujan di Lembang tidak pernah datang dengan malu-malu. Ia jatuh dengan hantaman
yang keras, memukul atap sirap Vila Parahyangan dengan irama yang konstan dan
monoton, menciptakan dinding air yang memisahkan rumah ini dari sisa dunia. Di
dalam perpustakaan yang terletak di lantai bawah, Aruna berdiri terpaku di depan
deretan rak buku kayu jati yang menjulang hingga ke langit-langit. Aroma kertas
tua dan vanila kering memenuhi indranya, sebuah kontras yang menenangkan
dibandingkan udara lembap di luar.
Setelah konfrontasi tajam di ruang musik tadi siang, Aruna tidak bisa diam saja
di paviliun. Ia butuh jawaban. Ia butuh memahami siapa pria yang
mempekerjakannya, pria yang memandangnya seolah-olah ia adalah noda di atas
partitur yang bersih.
Jemarinya menyusuri punggung-punggung buku yang berdebu. Sebagian besar adalah
koleksi sastra klasik dan ensiklopedia musik. Hingga akhirnya, tangannya
berhenti pada sebuah kliping koran lama yang terselip di antara buku biografi
Mahler.
“Adrian Mahendra: Sang Maestro Muda Menaklukkan Wina.”
Aruna menarik kliping yang sudah menguning itu. Di sana, terpampang foto seorang
pria muda yang berdiri di podium konduktor. Wajahnya utuh, tampan dengan garis
rahang yang tegas, dan matanya memancarkan gairah yang seolah bisa membakar
siapa saja yang melihatnya. Ia tampak begitu hidup, begitu berkuasa atas
orkestra di belakangnya. Tidak ada syal sutra hitam, tidak ada topi yang
menyembunyikan wajah, tidak ada kepahitan yang meluap-luap.
"Foto itu diambil sepuluh tahun yang lalu. Saat dunia masih tampak seperti taman
bermain baginya."
Suara itu muncul dari sudut ruangan yang gelap, membuat Aruna hampir menjatuhkan
kliping tersebut. Adrian duduk di sebuah kursi sayap tinggi di dekat perapian
yang apinya hampir padam. Ia memegang sebuah gelas kristal berisi cairan
berwarna amber. Di bawah cahaya temaram, ia tampak seperti bagian dari
bayang-bayang itu sendiri.
Aruna mengatur napasnya. "Anda adalah konduktor yang luar biasa. Saya pernah
menonton rekaman konser Anda di Berlin saat saya masih di konservatori. Teknik
interpretasi Anda terhadap Symphony No. 5 Beethoven... tidak ada yang bisa
menyamainya."
Adrian tertawa, suara yang lebih mirip geraman rendah. "Interpretasi? Itu hanya
kesombongan masa muda, Nona Widjaja. Kita berpikir kita bisa mengendalikan
takdir dengan tongkat konduktor, padahal kenyataannya, takdir hanyalah seorang
pemain dadu yang mabuk."
Adrian berdiri, berjalan perlahan mendekati Aruna. Aruna tidak mundur, meskipun
jantungnya berdentum keras. Saat Adrian masuk ke lingkaran cahaya kecil dari
lampu meja, Aruna bisa melihat lebih jelas. Syal hitamnya sedikit melonggar,
menampakkan guratan jaringan luka yang kemerahan di sepanjang leher dan
dagunya. Luka itu tampak menyakitkan, seolah-olah api masih tertinggal di sana.