Pagi itu, kabut Lembang seolah enggan beranjak. Ia mengepung Vila Parahyangan
dengan ketebalan yang tidak biasa, membuat dunia di luar jendela ruang musik
lenyap dalam warna putih yang hampa. Aruna duduk di kursi piano, menatap Rara
yang masih setia dengan posisinya di dekat jendela. Gadis kecil itu memeluk
sebuah boneka rajut tua, matanya menatap kosong ke arah keputihan di luar sana.
Suasana pagi ini terasa lebih berat. Jeritan dari lantai tiga semalam masih
bergema di kepala Aruna, seperti duri yang tersangkut di tenggorokan. Setiap
kali ia berpapasan dengan Bi Ijah, wanita tua itu segera memalingkan wajah,
menghindari kontak mata seolah takut rahasia besar akan tumpah dari mulutnya
jika ia berlama-lama menatap Aruna.
Aruna menghela napas, mencoba memfokuskan dirinya. Ia tidak boleh membiarkan
misteri rumah ini mengganggu tugas utamanya. Ia harus mencapai Rara.
"Rara," panggil Aruna lembut. "Hari ini kita tidak akan belajar notasi. Kita
akan bermain sebuah permainan."
Rara tidak bergeming. Namun, Aruna tahu anak itu mendengarkan. Ia bisa melihat
bahu kecil Rara yang sedikit menegang.
Aruna tidak menuju piano. Sebaliknya, ia mengeluarkan beberapa gelas kaca berisi
air dengan ketinggian yang berbeda-beda dari tasnya. Ia menatanya di atas meja
kayu di tengah ruangan. Dengan sebuah sendok perak, ia mulai mengetuk
gelas-gelas itu satu per satu.
Ting. Tang. Tung. Ting.
Suara itu bening, memecah kesunyian ruangan dengan nada yang ringan dan jernih.
Aruna mulai mengetuknya dalam ritme yang menyerupai suara rintik hujan.
"Ini adalah suara hujan di atas atap," ujar Aruna.
Ia mengetuk gelas lain yang nadanya lebih rendah. "Dan ini adalah suara guntur
yang jauh."
Perlahan, sangat perlahan, Rara memutar tubuhnya. Matanya yang bulat menatap
gelas-gelas itu dengan rasa ingin tahu yang murni. Aruna tersenyum tipis,
hatinya sedikit menghangat. Ia menyodorkan sendok perak itu ke arah Rara.
"Mau coba?"
Rara ragu-ragu. Tangannya yang mungil terjulur, lalu ditarik kembali. Namun,
rasa penasaran tampaknya menang. Ia merangkak turun dari kursinya, mendekat ke
meja, dan mengambil sendok itu. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia
mengetuk gelas berisi air paling penuh.
Ting.
Mata Rara membelalak. Ia mengetuknya lagi, kali ini lebih keras. Lalu ia
berpindah ke gelas lain. Sebuah senyum tipis—begitu tipis hingga hampir tak
terlihat—muncul di sudut bibirnya.
"Bagus, Rara. Musik tidak selalu harus berasal dari piano yang besar. Musik ada
di mana-mana. Di dalam hujan, di dalam detak jantungmu, bahkan di dalam
napasmu."
Tepat saat itu, Aruna merasakan kehadiran seseorang. Ia tidak perlu menoleh
untuk tahu siapa itu. Aroma tembakau dan dinginnya udara pegunungan yang
menempel pada pakaian pria itu sudah cukup menjadi pertanda. Adrian berdiri di
ambang pintu, bersedekap, memerhatikan interaksi mereka dari balik bayangan.
Aruna memilih untuk tidak menghentikan permainannya. Ia berjalan menuju piano,
duduk, dan mulai mengiringi ketukan gelas Rara dengan harmoni lembut di oktaf
bawah. Ia menggunakan tangan kirinya sebagai dasar, dan sesekali mencoba
menyelipkan satu atau dua nada dengan tangan kanannya yang tremornya sedang