Lembang malam itu seolah sedang dihantam kemurkaan alam. Hujan tidak lagi
sekadar turun; ia jatuh dengan dentuman yang menyerupai ribuan peluru yang
menghujam atap Vila Parahyangan. Angin kencang melolong di sela-sela hutan
pinus, menciptakan suara siulan panjang yang mengerikan, sementara kilat
sesekali menyambar, mengubah kegelapan ruang tengah menjadi putih pucat yang
menyilaukan dalam sepersekian detik.
Listrik di vila baru saja padam. Bi Ijah telah menyalakan lilin-lilin di
koridor, namun cahaya redup itu justru membuat bayang-bayang di dinding tampak
seperti raksasa yang menari-nari. Aruna duduk di sofa beludru di depan perapian
besar di ruang tengah, satu-satunya tempat yang menawarkan kehangatan di tengah
suhu yang anjlok drastis. Ia membungkus tubuhnya dengan selimut wol tebal,
menatap lidah api yang menjilat-jilat kayu bakar.
"Kau tidak bisa tidur?"
Suara itu datang dari arah jendela besar. Adrian berdiri di sana, hanya
diterangi oleh kilatan petir dari luar. Ia memegang sebuah gelas kristal berisi
brendi, matanya menatap badai seolah-olah ia sedang menantang langit.
Aruna tersentak kecil, namun tidak berpaling dari api. "Suara badainya terlalu
berisik. Dan... suasana rumah ini tidak membantu."
Adrian mendengus, melangkah mendekat menuju perapian. Ia duduk di kursi sayap
yang berada di seberang Aruna. Di bawah cahaya api yang jingga, wajahnya tampak
seperti topeng kuno—separuh tampan dan tenang, separuh lagi hancur dan
berbayang. Malam ini, ia tidak mengenakan syal sutranya dengan rapi; lilitannya
longgar, menampakkan guratan bekas luka yang merayap hingga ke rahangnya.
"Rumah ini memang tidak pernah ramah pada orang asing," gumam Adrian. Ia meneguk
minumannya, lalu menatap Aruna dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa
telanjang. "Mengapa kau masih di sini, Aruna? Setelah semua ancamanku, setelah
semua keganjilan yang kau saksikan... mengapa kau tidak lari?"
Aruna terdiam sejenak, memikirkan jawabannya. "Karena saya tidak punya tempat
untuk kembali. Dan karena saya melihat sesuatu di sini yang tidak saya temukan
di Jakarta."
"Apa itu? Rasa kasihan?" tanya Adrian sinis.
"Harapan," jawab Aruna mantap. "Meskipun Anda mencoba menguburnya sedalam
mungkin."
Adrian tertawa kecil, suara yang kering dan tanpa humor. "Harapan adalah
komoditas paling mahal di dunia ini, dan aku sudah bangkrut sejak lama. Kau
melihatku bermain piano semalam dan kau pikir ada keajaiban yang akan terjadi?
Itu bukan harapan, Aruna. Itu hanyalah kontraksi dari mayat yang belum
sepenuhnya membusuk."
"Itu pemikiran yang sangat nihilistik untuk seseorang yang pernah memimpin
orkestra terbaik di dunia," balas Aruna. Ia memajukan tubuhnya, membiarkan panas
perapian menerpa wajahnya. "Seni adalah tentang penderitaan, bukan? Anda pernah
mengatakannya. Bukankah luka-luka ini—baik yang ada di wajah Anda maupun yang
ada di tangan saya—adalah partitur yang baru?"
Adrian menatap gelasnya, memutar-mutar cairan di dalamnya. "Ada perbedaan antara