MELODY DIBALIK KABUT

Ahmad Barnash
Chapter #5

Perdebatan di Balik Perapian

Lembang malam itu seolah sedang dihantam kemurkaan alam. Hujan tidak lagi

sekadar turun; ia jatuh dengan dentuman yang menyerupai ribuan peluru yang

menghujam atap Vila Parahyangan. Angin kencang melolong di sela-sela hutan

pinus, menciptakan suara siulan panjang yang mengerikan, sementara kilat

sesekali menyambar, mengubah kegelapan ruang tengah menjadi putih pucat yang

menyilaukan dalam sepersekian detik.


Listrik di vila baru saja padam. Bi Ijah telah menyalakan lilin-lilin di

koridor, namun cahaya redup itu justru membuat bayang-bayang di dinding tampak

seperti raksasa yang menari-nari. Aruna duduk di sofa beludru di depan perapian

besar di ruang tengah, satu-satunya tempat yang menawarkan kehangatan di tengah

suhu yang anjlok drastis. Ia membungkus tubuhnya dengan selimut wol tebal,

menatap lidah api yang menjilat-jilat kayu bakar.


"Kau tidak bisa tidur?"


Suara itu datang dari arah jendela besar. Adrian berdiri di sana, hanya

diterangi oleh kilatan petir dari luar. Ia memegang sebuah gelas kristal berisi

brendi, matanya menatap badai seolah-olah ia sedang menantang langit.


Aruna tersentak kecil, namun tidak berpaling dari api. "Suara badainya terlalu

berisik. Dan... suasana rumah ini tidak membantu."


Adrian mendengus, melangkah mendekat menuju perapian. Ia duduk di kursi sayap

yang berada di seberang Aruna. Di bawah cahaya api yang jingga, wajahnya tampak

seperti topeng kuno—separuh tampan dan tenang, separuh lagi hancur dan

berbayang. Malam ini, ia tidak mengenakan syal sutranya dengan rapi; lilitannya

longgar, menampakkan guratan bekas luka yang merayap hingga ke rahangnya.


"Rumah ini memang tidak pernah ramah pada orang asing," gumam Adrian. Ia meneguk

minumannya, lalu menatap Aruna dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa

telanjang. "Mengapa kau masih di sini, Aruna? Setelah semua ancamanku, setelah

semua keganjilan yang kau saksikan... mengapa kau tidak lari?"


Aruna terdiam sejenak, memikirkan jawabannya. "Karena saya tidak punya tempat

untuk kembali. Dan karena saya melihat sesuatu di sini yang tidak saya temukan

di Jakarta."


"Apa itu? Rasa kasihan?" tanya Adrian sinis.


"Harapan," jawab Aruna mantap. "Meskipun Anda mencoba menguburnya sedalam

mungkin."


Adrian tertawa kecil, suara yang kering dan tanpa humor. "Harapan adalah

komoditas paling mahal di dunia ini, dan aku sudah bangkrut sejak lama. Kau

melihatku bermain piano semalam dan kau pikir ada keajaiban yang akan terjadi?

Itu bukan harapan, Aruna. Itu hanyalah kontraksi dari mayat yang belum

sepenuhnya membusuk."


"Itu pemikiran yang sangat nihilistik untuk seseorang yang pernah memimpin

orkestra terbaik di dunia," balas Aruna. Ia memajukan tubuhnya, membiarkan panas

perapian menerpa wajahnya. "Seni adalah tentang penderitaan, bukan? Anda pernah

mengatakannya. Bukankah luka-luka ini—baik yang ada di wajah Anda maupun yang

ada di tangan saya—adalah partitur yang baru?"


Adrian menatap gelasnya, memutar-mutar cairan di dalamnya. "Ada perbedaan antara

Lihat selengkapnya