Pagi itu, kabut di Lembang tidak lagi terasa seperti tembok yang mengancam.
Sebaliknya, ia tampak seperti tirai sutra tipis yang menyaring cahaya matahari,
memberikan warna perak yang lembut pada pucuk-pucuk pohon pinus. Di dalam Vila
Parahyangan, udara yang biasanya dingin dan kaku seolah mulai mencair.
Aruna menemukan Adrian sudah berada di ruang musik saat jam baru menunjukkan
pukul delapan pagi. Ini adalah pemandangan yang tidak biasa. Biasanya, Adrian
baru akan muncul setelah Aruna selesai memberikan sesi pertama untuk Rara. Namun
hari ini, pria itu duduk di kursi rotan dekat jendela, memegang sebuah buku
catatan kulit yang tampak usang. Syalnya terpasang dengan lebih rapi, dan untuk
pertama kalinya, ia tidak mengenakan topi di dalam ruangan.
"Duduklah, Aruna," ujar Adrian tanpa menoleh. Suaranya tidak lagi memiliki
tepian tajam yang biasanya mengiris keberanian Aruna. Ada nada kelelahan yang
tenang di sana.
Aruna mendekat, meletakkan tas partiturnya di atas meja. "Anda sudah bangun
sejak tadi?"
"Aku tidak banyak tidur semalam. Setelah... pembicaraan kita di depan perapian."
Adrian akhirnya menoleh. Matanya yang tajam tampak sedikit lebih lunak. "Aku
memikirkan kata-katamu. Tentang luka sebagai partitur yang baru."
Ia menyodorkan buku catatan itu kepada Aruna. Aruna membukanya dan menemukan
lembaran-lembaran kertas musik yang dipenuhi oleh coretan tangan yang
berantakan, beberapa bagian bahkan ternoda oleh tetesan tinta atau mungkin air
mata.
"Ini adalah simfoni yang mulai kutulis tepat sebelum kecelakaan itu terjadi,"
kata Adrian. "Dulu, aku menyebutnya The Unfinished Requiem. Tapi setelah api itu
merenggut segalanya, aku tidak bisa lagi membacanya. Penglihatanku terlalu kabur
untuk melihat garis-garis paranada yang halus, dan tanganku... tanganku terlalu
penuh dengan kemarahan untuk memegang pena dengan benar."
Aruna menatap lembaran itu dengan khusyuk. Meskipun coretannya berantakan, ia
bisa melihat struktur harmoni yang jenius di sana. Ini adalah sebuah mahakarya
yang terputus di tengah jalan.
"Aku ingin kau membantuku, Aruna," lanjut Adrian, suaranya hampir menyerupai
bisikan. "Jadilah mataku. Jadilah tanganku. Mari kita selesaikan simfoni ini
bersama-sama."
Aruna merasakan denyut haru di dadanya. "Anda yakin? Saya bukan komposer,
Adrian. Saya hanya seorang pianis yang... rusak."
"Justru karena kau rusak, kau bisa memahaminya," balas Adrian. "Orang yang utuh
tidak akan bisa menangkap kesedihan dalam nada C-minor yang aku inginkan. Ayo,
duduklah di piano."
Maka, dimulailah sebuah kolaborasi yang tak terduga. Selama jam-jam berikutnya,
ruang musik itu berubah menjadi sebuah laboratorium emosi. Adrian akan
mendiktekan nada-nada yang ada di dalam kepalanya—yang sering kali hanya berupa
gumaman atau ketukan ritme di meja—dan Aruna akan menerjemahkannya ke dalam tuts
piano.
"Bukan, bukan legato," interupsi Adrian saat Aruna mencoba memainkan sebuah
frasa. "Gunakan staccato yang tajam di sana. Seperti detak jantung yang
ketakutan. Ya... seperti itu."
Aruna menuliskan not demi not di atas kertas musik baru. Sesekali, tangannya
kembali gemetar, namun anehnya, kehadiran Adrian yang kini duduk tepat di
sampingnya memberikan stabilitas yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Setiap
kali tremor itu datang, Adrian akan meletakkan tangan besarnya di atas
pergelangan tangan Aruna, tidak menekannya, hanya memberikan beban yang cukup
untuk membuat saraf Aruna tenang.
"Jangan lawan getarannya," bisik Adrian di dekat telinganya. "Biarkan getaran
itu menjadi bagian dari ritme. Jadikan ia hidup."
Dalam kedekatan itu, Aruna bisa mencium aroma khas Adrian—campuran antara
tembakau, kayu cendana, dan aroma dingin pegunungan. Ia menyadari betapa kuatnya
daya tarik pria ini ketika ia tidak sedang dalam mode menyerang. Ada kejeniusan
yang memancar dari setiap instruksinya, sebuah karisma yang dulu pasti telah
menyihir ribuan penonton di gedung-gedung konser megah di Eropa.
Bagi Aruna, bekerja dengan Adrian memberinya tujuan baru. Ia tidak lagi meratapi
kegagalannya di Jakarta. Di sini, di bawah atap vila tua ini, ia menyadari bahwa
musik tidak selalu tentang penampilan di atas panggung di bawah lampu sorot.