MELODY DIBALIK KABUT

Ahmad Barnash
Chapter #6

Simfoni yang Tumbuh

Pagi itu, kabut di Lembang tidak lagi terasa seperti tembok yang mengancam.

Sebaliknya, ia tampak seperti tirai sutra tipis yang menyaring cahaya matahari,

memberikan warna perak yang lembut pada pucuk-pucuk pohon pinus. Di dalam Vila

Parahyangan, udara yang biasanya dingin dan kaku seolah mulai mencair.


Aruna menemukan Adrian sudah berada di ruang musik saat jam baru menunjukkan

pukul delapan pagi. Ini adalah pemandangan yang tidak biasa. Biasanya, Adrian

baru akan muncul setelah Aruna selesai memberikan sesi pertama untuk Rara. Namun

hari ini, pria itu duduk di kursi rotan dekat jendela, memegang sebuah buku

catatan kulit yang tampak usang. Syalnya terpasang dengan lebih rapi, dan untuk

pertama kalinya, ia tidak mengenakan topi di dalam ruangan.


"Duduklah, Aruna," ujar Adrian tanpa menoleh. Suaranya tidak lagi memiliki

tepian tajam yang biasanya mengiris keberanian Aruna. Ada nada kelelahan yang

tenang di sana.


Aruna mendekat, meletakkan tas partiturnya di atas meja. "Anda sudah bangun

sejak tadi?"


"Aku tidak banyak tidur semalam. Setelah... pembicaraan kita di depan perapian."

Adrian akhirnya menoleh. Matanya yang tajam tampak sedikit lebih lunak. "Aku

memikirkan kata-katamu. Tentang luka sebagai partitur yang baru."


Ia menyodorkan buku catatan itu kepada Aruna. Aruna membukanya dan menemukan

lembaran-lembaran kertas musik yang dipenuhi oleh coretan tangan yang

berantakan, beberapa bagian bahkan ternoda oleh tetesan tinta atau mungkin air

mata.


"Ini adalah simfoni yang mulai kutulis tepat sebelum kecelakaan itu terjadi,"

kata Adrian. "Dulu, aku menyebutnya The Unfinished Requiem. Tapi setelah api itu

merenggut segalanya, aku tidak bisa lagi membacanya. Penglihatanku terlalu kabur

untuk melihat garis-garis paranada yang halus, dan tanganku... tanganku terlalu

penuh dengan kemarahan untuk memegang pena dengan benar."


Aruna menatap lembaran itu dengan khusyuk. Meskipun coretannya berantakan, ia

bisa melihat struktur harmoni yang jenius di sana. Ini adalah sebuah mahakarya

yang terputus di tengah jalan.


"Aku ingin kau membantuku, Aruna," lanjut Adrian, suaranya hampir menyerupai

bisikan. "Jadilah mataku. Jadilah tanganku. Mari kita selesaikan simfoni ini

bersama-sama."


Aruna merasakan denyut haru di dadanya. "Anda yakin? Saya bukan komposer,

Adrian. Saya hanya seorang pianis yang... rusak."


"Justru karena kau rusak, kau bisa memahaminya," balas Adrian. "Orang yang utuh

tidak akan bisa menangkap kesedihan dalam nada C-minor yang aku inginkan. Ayo,

duduklah di piano."


Maka, dimulailah sebuah kolaborasi yang tak terduga. Selama jam-jam berikutnya,

ruang musik itu berubah menjadi sebuah laboratorium emosi. Adrian akan

mendiktekan nada-nada yang ada di dalam kepalanya—yang sering kali hanya berupa

gumaman atau ketukan ritme di meja—dan Aruna akan menerjemahkannya ke dalam tuts

piano.


"Bukan, bukan legato," interupsi Adrian saat Aruna mencoba memainkan sebuah

frasa. "Gunakan staccato yang tajam di sana. Seperti detak jantung yang

ketakutan. Ya... seperti itu."


Aruna menuliskan not demi not di atas kertas musik baru. Sesekali, tangannya

kembali gemetar, namun anehnya, kehadiran Adrian yang kini duduk tepat di

sampingnya memberikan stabilitas yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Setiap

kali tremor itu datang, Adrian akan meletakkan tangan besarnya di atas

pergelangan tangan Aruna, tidak menekannya, hanya memberikan beban yang cukup

untuk membuat saraf Aruna tenang.


"Jangan lawan getarannya," bisik Adrian di dekat telinganya. "Biarkan getaran

itu menjadi bagian dari ritme. Jadikan ia hidup."


Dalam kedekatan itu, Aruna bisa mencium aroma khas Adrian—campuran antara

tembakau, kayu cendana, dan aroma dingin pegunungan. Ia menyadari betapa kuatnya

daya tarik pria ini ketika ia tidak sedang dalam mode menyerang. Ada kejeniusan

yang memancar dari setiap instruksinya, sebuah karisma yang dulu pasti telah

menyihir ribuan penonton di gedung-gedung konser megah di Eropa.


Bagi Aruna, bekerja dengan Adrian memberinya tujuan baru. Ia tidak lagi meratapi

kegagalannya di Jakarta. Di sini, di bawah atap vila tua ini, ia menyadari bahwa

musik tidak selalu tentang penampilan di atas panggung di bawah lampu sorot.

Lihat selengkapnya