Koper itu tergeletak terbuka di atas tempat tidur bagaikan mulut raksasa yang
siap menelan sisa-sisa harapan Aruna. Di luar, hujan Lembang telah berubah
menjadi gerimis yang tipis dan dingin, namun suaranya tetap terdengar seperti
bisikan ribuan lidah yang menghakimi.
Tangan Aruna gemetar saat ia memasukkan syal wolnya ke dalam tas. Kali ini,
tremor itu bukan hanya berasal dari sarafnya yang rusak, melainkan dari
guncangan hebat di jiwanya. Bayangan wajah Adrian yang penuh amarah di lorong
gelap lantai tiga terus berputar di benaknya. Ia merasa seperti baru saja
membangun sebuah istana pasir yang indah, hanya untuk melihatnya rata dengan
tanah dalam satu sapuan ombak.
"Mengapa harus bohong, Adrian?" bisiknya pada kesunyian kamar.
Ia mengambil kuntum mawar yang diberikan Rara tadi siang. Bunga itu mulai layu,
kelopaknya yang merah tua tampak menghitam di bagian tepinya. Aruna
meletakkannya dengan hati-hati di sela-sela pakaiannya. Itu adalah satu-satunya
hal manis yang ia bawa dari rumah ini—sisanya hanya kepahitan dan kabut.
Tiba-tiba, pintu paviliun diketuk pelan. Aruna tersentak. Ia berharap itu
Adrian—berharap pria itu datang untuk meminta maaf atau setidaknya menjelaskan
segalanya. Namun, saat pintu terbuka, yang berdiri di sana adalah Bi Ijah.
Wanita tua itu membawa baki berisi segelas susu hangat dan sepiring kecil
biskuit. Wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua di bawah cahaya lampu yang
redup.
"Saya kira Anda butuh ini sebelum beristirahat, Nona," ujar Bi Ijah pelan. Ia
melirik koper yang hampir penuh, lalu mendesah panjang.
"Terima kasih, Bi," Aruna menerima baki itu dan meletakkannya di meja rias.
"Tuan Adrian yang menyuruh Bibi ke sini untuk memastikan saya benar-benar pergi
besok pagi?"
Bi Ijah menggeleng. Ia duduk di kursi kayu di sudut kamar, tangannya terlipat di
atas pangkuan. "Tuan sedang mengurung diri di perpustakaan. Dia tidak bicara
pada siapa pun. Nona... jangan membenci Tuan. Dia hanya seorang pria yang
memikul beban yang terlalu berat untuk bahunya sendiri."
Aruna duduk di tepi tempat tidur, menatap Bi Ijah dengan mata yang sembab. "Bi,
saya tidak membencinya. Saya justru merasa kasihan padanya. Tapi bagaimana dia
bisa meminta saya untuk jujur pada musiknya, sementara dia sendiri hidup dalam
kebohongan besar? Wanita itu... dia Santi, kan? Istrinya yang katanya sudah
meninggal?"
Bi Ijah terdiam cukup lama, hanya suara detak jam dinding yang mengisi
kekosongan di antara mereka. Akhirnya, ia mengangguk pelan. "Namanya Nyonya
Santi. Dia tidak meninggal dalam api itu, Nona. Tapi jiwanya... jiwanya sudah
terbakar habis."
Bi Ijah mulai bercerita dengan suara yang bergetar. Malam kecelakaan itu bukan
hanya menghancurkan wajah Adrian, tapi juga merusak saraf di otak Santi akibat
benturan hebat dan kekurangan oksigen saat terjebak di dalam mobil yang berasap.
Saat Santi sadar, ia bukan lagi wanita cerdas dan penuh cinta yang dikenal
Adrian. Ia menjadi sosok yang impulsif, sering kali kasar, dan kehilangan
ingatan jangka pendeknya. Dia hidup dalam siklus trauma yang abadi,
mengulang-ulang momen kecelakaan itu di dalam kepalanya setiap hari.
"Tuan Adrian mencoba membawanya ke rumah sakit jiwa terbaik, tapi Nyonya Santi
selalu histeris. Dia hanya tenang jika mendengar Tuan memainkan piano. Tuan
merasa bersalah karena dialah yang menyetir malam itu. Dia bersumpah akan
menjaga Nyonya sendiri, di rumah ini, jauh dari mata orang-orang yang hanya akan
memandangnya dengan rasa jijik atau kasihan."
"Tapi mengurungnya seperti itu... itu bukan penjara, Bi?" tanya Aruna, hatinya
perih membayangkan wanita di lantai atas.
"Tuan menyebutnya perlindungan, Nona. Tapi bagi kami yang melihatnya setiap
hari, itu memang terlihat seperti penjara—baik bagi Nyonya, maupun bagi Tuan