Pagi itu, koper Aruna masih tergeletak separuh terbuka di lantai paviliun, namun
niat untuk mengisinya telah menguap bersama kabut yang perlahan tersapu sinar
matahari. Setelah kejadian mengerikan di lantai tiga semalam, Aruna tidak
menemukan alasan untuk pergi. Justru sebaliknya, ia merasa seolah-olah baru saja
ditarik masuk ke dalam pusat badai, dan lari bukanlah pilihan jika ia ingin
selamat—atau jika ia ingin menyelamatkan penghuni rumah ini.
Aruna melangkah keluar paviliun dengan mata yang sedikit sembab. Udara Lembang
pagi ini terasa berbeda; lebih bersih, seolah-olah hujan badai semalam telah
mencuci sisa-sisa ketegangan yang menyesakkan. Saat ia melewati beranda gedung
utama, ia melihat Bi Ijah sedang menyapu dedaunan kering dengan wajah yang jauh
lebih tenang dibandingkan semalam.
"Tuan ada di taman mawar, Nona," ujar Bi Ijah tanpa diminta, seolah ia bisa
membaca pikiran Aruna. "Dia sudah di sana sejak subuh."
Aruna mengangguk dan mengarahkan langkahnya ke sayap belakang vila. Taman mawar
yang kemarin tampak seperti hutan berduri yang mati, kini terlihat berbeda.
Adrian berdiri di tengah-tengah rumpun mawar, mengenakan kemeja putih sederhana
dengan lengan yang digulung hingga siku. Ia memegang gunting rumput besar,
memotong dahan-dahan mati dengan gerakan yang metodis, hampir seperti sedang
melakukan meditasi.
Untuk pertama kalinya, Adrian tidak mengenakan syal hitamnya. Ia membiarkan
bekas luka di leher dan rahangnya terpapar sinar matahari pagi.
"Kau tidak jadi pergi," ujar Adrian tanpa menoleh. Pendengarannya tampaknya
telah terlatih untuk mengenali langkah kaki Aruna.
"Kertas musik kita belum selesai, Adrian," jawab Aruna pelan, berdiri di tepi
jalan setapak. "Dan Rara masih butuh guru musiknya."
Adrian berhenti memotong. Ia menarik napas panjang, bahunya yang lebar tampak
turun seolah-olah sebuah beban berat baru saja diangkat darinya. Ia berbalik,
menatap Aruna dengan mata yang tampak lelah namun tidak lagi dipenuhi oleh api
permusuhan.
"Terima kasih untuk semalam," gumam Adrian. Suaranya serak. "Aku tidak tahu apa
yang akan terjadi jika kau tidak datang. Bi Ijah sudah tidak sanggup lagi
menanganinya sendiri."
"Dia butuh bantuan medis yang lebih ahli, Adrian," ujar Aruna, mencoba masuk ke
inti permasalahan. "Mengurungnya di sana hanya akan membuat kondisinya memburuk.
Dan itu menghancurkanmu. Itu menghancurkan Rara."
Adrian terdiam, menatap gunting di tangannya. "Aku tahu. Tapi setiap kali aku
berpikir untuk membawanya pergi, aku merasa seperti sedang mengkhianati janji
pernikahanku. Aku bersumpah untuk menjaganya dalam suka dan duka. Dan duka
ini... duka ini adalah kesalahanku."
"Menjaganya bukan berarti menjadikannya rahasia gelap, Adrian. Menjaganya
berarti memberikan apa yang terbaik bagi kesembuhannya, bukan bagi rasa
bersalahmu."
Adrian tidak menjawab, namun ia tidak juga membantah. Ia meletakkan guntingnya
di atas meja taman kayu yang sudah dibersihkan. Di atas meja itu, terdapat
sebuah taplak meja putih bersih, beberapa cangkir porselen, dan sebuah teko
keramik yang mengepulkan uap aroma melati.
"Aku menyuruh Bi Ijah menyiapkan ini," kata Adrian, memberi isyarat ke arah
meja. "Seorang guru musik pernah memberitahuku bahwa setelah badai, seseorang
butuh sesuatu yang manis untuk menenangkan sarafnya."