MELODY DIBALIK KABUT

Ahmad Barnash
Chapter #8

Pesta Kecil di Taman Mawar

Pagi itu, koper Aruna masih tergeletak separuh terbuka di lantai paviliun, namun

niat untuk mengisinya telah menguap bersama kabut yang perlahan tersapu sinar

matahari. Setelah kejadian mengerikan di lantai tiga semalam, Aruna tidak

menemukan alasan untuk pergi. Justru sebaliknya, ia merasa seolah-olah baru saja

ditarik masuk ke dalam pusat badai, dan lari bukanlah pilihan jika ia ingin

selamat—atau jika ia ingin menyelamatkan penghuni rumah ini.


Aruna melangkah keluar paviliun dengan mata yang sedikit sembab. Udara Lembang

pagi ini terasa berbeda; lebih bersih, seolah-olah hujan badai semalam telah

mencuci sisa-sisa ketegangan yang menyesakkan. Saat ia melewati beranda gedung

utama, ia melihat Bi Ijah sedang menyapu dedaunan kering dengan wajah yang jauh

lebih tenang dibandingkan semalam.


"Tuan ada di taman mawar, Nona," ujar Bi Ijah tanpa diminta, seolah ia bisa

membaca pikiran Aruna. "Dia sudah di sana sejak subuh."


Aruna mengangguk dan mengarahkan langkahnya ke sayap belakang vila. Taman mawar

yang kemarin tampak seperti hutan berduri yang mati, kini terlihat berbeda.

Adrian berdiri di tengah-tengah rumpun mawar, mengenakan kemeja putih sederhana

dengan lengan yang digulung hingga siku. Ia memegang gunting rumput besar,

memotong dahan-dahan mati dengan gerakan yang metodis, hampir seperti sedang

melakukan meditasi.


Untuk pertama kalinya, Adrian tidak mengenakan syal hitamnya. Ia membiarkan

bekas luka di leher dan rahangnya terpapar sinar matahari pagi.


"Kau tidak jadi pergi," ujar Adrian tanpa menoleh. Pendengarannya tampaknya

telah terlatih untuk mengenali langkah kaki Aruna.


"Kertas musik kita belum selesai, Adrian," jawab Aruna pelan, berdiri di tepi

jalan setapak. "Dan Rara masih butuh guru musiknya."


Adrian berhenti memotong. Ia menarik napas panjang, bahunya yang lebar tampak

turun seolah-olah sebuah beban berat baru saja diangkat darinya. Ia berbalik,

menatap Aruna dengan mata yang tampak lelah namun tidak lagi dipenuhi oleh api

permusuhan.


"Terima kasih untuk semalam," gumam Adrian. Suaranya serak. "Aku tidak tahu apa

yang akan terjadi jika kau tidak datang. Bi Ijah sudah tidak sanggup lagi

menanganinya sendiri."


"Dia butuh bantuan medis yang lebih ahli, Adrian," ujar Aruna, mencoba masuk ke

inti permasalahan. "Mengurungnya di sana hanya akan membuat kondisinya memburuk.

Dan itu menghancurkanmu. Itu menghancurkan Rara."


Adrian terdiam, menatap gunting di tangannya. "Aku tahu. Tapi setiap kali aku

berpikir untuk membawanya pergi, aku merasa seperti sedang mengkhianati janji

pernikahanku. Aku bersumpah untuk menjaganya dalam suka dan duka. Dan duka

ini... duka ini adalah kesalahanku."


"Menjaganya bukan berarti menjadikannya rahasia gelap, Adrian. Menjaganya

berarti memberikan apa yang terbaik bagi kesembuhannya, bukan bagi rasa

bersalahmu."


Adrian tidak menjawab, namun ia tidak juga membantah. Ia meletakkan guntingnya

di atas meja taman kayu yang sudah dibersihkan. Di atas meja itu, terdapat

sebuah taplak meja putih bersih, beberapa cangkir porselen, dan sebuah teko

keramik yang mengepulkan uap aroma melati.


"Aku menyuruh Bi Ijah menyiapkan ini," kata Adrian, memberi isyarat ke arah

meja. "Seorang guru musik pernah memberitahuku bahwa setelah badai, seseorang

butuh sesuatu yang manis untuk menenangkan sarafnya."


Lihat selengkapnya