Langit Lembang tidak pernah berbohong. Sinar matahari yang sempat menyentuh
taman mawar pagi tadi hanyalah sebuah penangguhan hukuman yang singkat. Sore
itu, awan hitam berarak rendah, seolah-olah berat oleh air dan kesedihan,
menyelimuti puncak-puncak pinus dalam warna kelabu yang pekat. Udara dingin
kembali merayap masuk melalui celah-celah jendela Vila Parahyangan, membawa
aroma tanah basah dan firasat yang tidak menyenangkan.
Aruna berdiri di koridor lantai bawah, memerhatikan Adrian yang baru saja keluar
dari ruang kerjanya. Pria itu tampak sangat lelah. Kemeja putihnya yang tadi
pagi rapi, kini tampak kusut, dan ia kembali mengenakan syal hitamnya,
melilitnya erat-erat seolah-olah itu adalah pelindung terakhirnya dari dunia
luar.
"Telepon itu... apakah ada masalah, Adrian?" tanya Aruna pelan.
Adrian berhenti melangkah, namun ia tidak menoleh. Bahunya menegang. "Hanya
urusan hukum yang membosankan. Pengacara keluarga di Jakarta mulai
mempertanyakan tentang transparansi pengelolaan dana perwalian Rara dan... biaya
perawatan di rumah ini."
"Apakah itu artinya mereka akan datang ke sini?"
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menginjakkan kaki di sini hanya untuk
mencium aroma kehancuran kita, Aruna," jawab Adrian dengan nada pahit. Ia
melangkah pergi menuju tangga, langkahnya berat dan lambat.
Aruna menatap punggungnya dengan rasa cemas yang kian menebal. Ia merasa ada
sesuatu yang lebih besar dari sekadar masalah keuangan. Kata 'SOLO' yang ditulis
Santi di jendela kaca tadi terus menghantuinya. Ia butuh lebih banyak kepingan
puzzle untuk memahami gambaran utuhnya.
Saat Bi Ijah sedang sibuk menyiapkan makan malam dan Adrian mengunci diri
kembali di lantai atas, Aruna memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berisiko.
Ia teringat sebuah pintu kayu kecil yang terletak di bawah tangga utama, sebuah
ruangan yang selama ini ia kira hanya gudang alat pembersih. Namun, sore ini,
pintu itu sedikit terbuka, seolah-olah mengundang rasa penasarannya.
Dengan hati yang berdebar, Aruna menyelinap masuk.
Itu bukan gudang pembersih. Ruangan itu lebih luas, memanjang ke belakang, dan
dipenuhi oleh barang-barang yang ditutupi oleh kain seprai putih yang sudah
berdebu. Ini adalah tempat di mana masa lalu keluarga Mahendra dibuang dan
dilupakan.
Aruna berjalan di antara tumpukan barang. Ada setumpuk piringan hitam yang sudah
pecah, rak buku yang miring, dan sebuah kotak besar berisi ribuan kelopak bunga
mawar yang sudah kering dan berubah menjadi hitam. Napasnya terasa sesak oleh
debu dan aroma apak.
Di sudut paling belakang, sebuah bingkai besar bersandar pada dinding, tertutup
oleh kain beludru hitam yang tebal. Aruna mendekat. Tangannya yang gemetar
menyentuh kain itu. Dengan sekali tarik, kain itu jatuh ke lantai, menyingkap
sebuah rahasia yang selama ini tersembunyi dalam kegelapan.
Itu adalah sebuah lukisan cat minyak yang luar biasa indah.
Di dalam bingkai emas yang megah itu, berdiri Adrian Mahendra dalam kemegahan
masa mudanya. Ia mengenakan tuksedo konduktor yang elegan, tongkat batonnya
terangkat tinggi ke udara. Namun, ia tidak sendirian. Di sampingnya, duduk
seorang wanita yang begitu memukau hingga Aruna harus menahan napas.
Santi.
Namun, bukan Santi yang ia lihat di lantai tiga dengan rambut putih berantakan