Asap itu tidak datang dengan suara gemuruh, melainkan merayap seperti ular hitam
yang licin melalui celah-celah lantai kayu. Baunya tajam—campuran kain beludru
tua yang terbakar dan kertas-kertas musik yang telah menguning. Di lantai tiga,
jeritan Santi berubah menjadi tawa yang menyayat hati, sebuah simfoni kegilaan
yang memuncak tepat saat dunia Adrian mulai runtuh.
"Santi! Buka pintunya!" Adrian menghantamkan tubuhnya ke pintu kayu ek yang
tebal itu. Suaranya pecah, dipenuhi keputusasaan yang belum pernah Aruna dengar
sebelumnya.
Aruna berdiri di ujung lorong, napasnya tersengal. Paru-parunya mulai terasa
panas. Di bawah sana, ia mendengar suara gaduh dari tim medis dan pengacara yang
baru saja tiba, namun fokusnya hanya tertuju pada pria yang sedang bertarung
dengan iblis masa lalunya di depan sana.
"Adrian, minggir! Biarkan aku membantu!" Aruna berlari mendekat, mengabaikan
rasa sakit di tangan kanannya yang kini bergetar hebat.
"Jangan masuk, Aruna! Pergi dari sini!" Adrian berteriak tanpa menoleh. Dengan
satu hentakan terakhir yang bertenaga, pintu itu terbuka.
Hawa panas menyembur keluar. Di dalam kamar, api sudah menjilat tirai tempat
tidur. Santi berdiri di tengah ruangan, memegang lilin yang menyala dengan
tatapan kosong. Di kakinya, tumpukan surat-surat dari Solo—yang entah bagaimana
berhasil ia ambil—sedang menjadi abu.
"Lihat, Adrian," bisik Santi dengan suara yang tiba-tiba tenang, hampir seperti
suara wanita di lukisan itu. "Apinya sudah padam di dalam sini. Sekarang, aku
ingin membakar sisanya."
Adrian terpaku. Ia tidak menerjang untuk memadamkan api. Ia justru jatuh
berlutut, menatap istrinya dengan hancur. "Maafkan aku, Santi... Maafkan aku
karena mengurungmu dalam rasa bersalahku."
Aruna menyadari bahwa ini bukan sekadar kebakaran fisik. Ini adalah upacara
pemakaman bagi obsesi Adrian. Ia segera menyambar selimut tebal yang belum
tersentuh api, membasahinya dengan air dari vas bunga yang pecah, dan menerjang
masuk.