Pagi setelah badai dan api terasa ganjil di Vila Parahyangan. Keheningan yang
biasanya terasa berat dan menekan, kini berubah menjadi kesunyian yang hampa.
Tidak ada lagi suara jeritan dari lantai tiga. Tidak ada lagi langkah kaki Bi
Ijah yang terburu-buru membawa nampan makanan ke atas. Yang tersisa hanyalah
aroma hangus yang samar, terbawa angin pegunungan yang masuk melalui
jendela-jendela yang sengaja dibuka lebar untuk membuang sisa-sisa trauma
semalam.
Aruna berdiri di koridor utama, menatap tangga menuju lantai tiga yang kini
dipasangi garis pembatas sederhana. Petugas pemadam kebakaran dan polisi sudah
pergi sejak subuh tadi, menyatakan bahwa kebakaran itu murni kecelakaan akibat
lampu minyak yang terjatuh. Namun bagi Aruna, kebakaran itu adalah sebuah
eksorsismeāsebuah pembersihan paksa atas dosa-dosa yang selama ini disembunyikan
di balik dinding batu tua itu.
Ia melangkah menuju ruang musik. Di sana, ia menemukan Adrian sedang duduk diam
di depan piano grand-nya. Pria itu tidak bermain. Ia hanya menyandarkan dahinya
pada kayu hitam yang mengkilap, tangannya terkulai di samping tubuhnya. Luka
parut di wajahnya tampak lebih pucat di bawah cahaya pagi, dan mata kirinya yang
selama ini masih berfungsi sedikit, kini tampak memerah dan berair akibat
paparan asap semalam.
"Adrian?" panggil Aruna lembut.
Adrian tidak bergerak. Suaranya terdengar parau saat ia akhirnya menjawab,
"Rumah ini terasa begitu asing tanpa suara itu, Aruna. Aku menghabiskan
bertahun-tahun membenci jeritan Santi, tapi sekarang setelah dia pergi... aku
merasa seperti sedang tenggelam dalam keheningan yang lebih mematikan."
Aruna mendekat dan berdiri di sampingnya. Ia bisa melihat butiran jelaga yang
masih menempel di rambut Adrian. "Itu karena kau sedang belajar bernapas kembali
tanpa beban rasa bersalah, Adrian. Paru-parumu belum terbiasa dengan udara yang
bersih."
Adrian mendongak, menatap Aruna dengan pandangan yang sedikit kabur. Ia
menjangkau tangan kanan Aruna, menariknya perlahan agar wanita itu duduk di
sampingnya di kursi piano.
"Bi Ijah mengatakan padaku bahwa Rara mulai bicara pagi ini," bisik Adrian.
"Hanya dua kata. Dia bertanya, 'Bibi, di mana Bibi Merah?'"
Aruna tersenyum, meski air mata menggenang di matanya. 'Bibi Merah' adalah
sebutan Rara untuk mawar-mawar di taman. "Itu awal yang baik, Adrian. Musik kita
tidak sia-sia."
"Tapi musikku..." Adrian menunduk menatap tuts piano. "Aku mencoba menekannya
tadi pagi, Aruna. Aku tidak bisa melihat tuts-tuts itu dengan jelas lagi. Dokter
di ambulans semalam benar. Kornea mataku rusak karena hawa panas dan asap. Aku
akan segera kehilangan penglihatanku sepenuhnya."
Aruna merasakan sesak di dadanya. Takdir seolah tidak berhenti memukul pria ini.
Setelah merenggut wajah dan kariernya, kini ia merenggut cahaya dari matanya.