MELODY DIBALIK KABUT

Ahmad Barnash
Chapter #11

Resonansi di Tengah Puing

Pagi setelah badai dan api terasa ganjil di Vila Parahyangan. Keheningan yang

biasanya terasa berat dan menekan, kini berubah menjadi kesunyian yang hampa.

Tidak ada lagi suara jeritan dari lantai tiga. Tidak ada lagi langkah kaki Bi

Ijah yang terburu-buru membawa nampan makanan ke atas. Yang tersisa hanyalah

aroma hangus yang samar, terbawa angin pegunungan yang masuk melalui

jendela-jendela yang sengaja dibuka lebar untuk membuang sisa-sisa trauma

semalam.


Aruna berdiri di koridor utama, menatap tangga menuju lantai tiga yang kini

dipasangi garis pembatas sederhana. Petugas pemadam kebakaran dan polisi sudah

pergi sejak subuh tadi, menyatakan bahwa kebakaran itu murni kecelakaan akibat

lampu minyak yang terjatuh. Namun bagi Aruna, kebakaran itu adalah sebuah

eksorsisme—sebuah pembersihan paksa atas dosa-dosa yang selama ini disembunyikan

di balik dinding batu tua itu.


Ia melangkah menuju ruang musik. Di sana, ia menemukan Adrian sedang duduk diam

di depan piano grand-nya. Pria itu tidak bermain. Ia hanya menyandarkan dahinya

pada kayu hitam yang mengkilap, tangannya terkulai di samping tubuhnya. Luka

parut di wajahnya tampak lebih pucat di bawah cahaya pagi, dan mata kirinya yang

selama ini masih berfungsi sedikit, kini tampak memerah dan berair akibat

paparan asap semalam.


"Adrian?" panggil Aruna lembut.


Adrian tidak bergerak. Suaranya terdengar parau saat ia akhirnya menjawab,

"Rumah ini terasa begitu asing tanpa suara itu, Aruna. Aku menghabiskan

bertahun-tahun membenci jeritan Santi, tapi sekarang setelah dia pergi... aku

merasa seperti sedang tenggelam dalam keheningan yang lebih mematikan."


Aruna mendekat dan berdiri di sampingnya. Ia bisa melihat butiran jelaga yang

masih menempel di rambut Adrian. "Itu karena kau sedang belajar bernapas kembali

tanpa beban rasa bersalah, Adrian. Paru-parumu belum terbiasa dengan udara yang

bersih."


Adrian mendongak, menatap Aruna dengan pandangan yang sedikit kabur. Ia

menjangkau tangan kanan Aruna, menariknya perlahan agar wanita itu duduk di

sampingnya di kursi piano.


"Bi Ijah mengatakan padaku bahwa Rara mulai bicara pagi ini," bisik Adrian.

"Hanya dua kata. Dia bertanya, 'Bibi, di mana Bibi Merah?'"


Aruna tersenyum, meski air mata menggenang di matanya. 'Bibi Merah' adalah

sebutan Rara untuk mawar-mawar di taman. "Itu awal yang baik, Adrian. Musik kita

tidak sia-sia."


"Tapi musikku..." Adrian menunduk menatap tuts piano. "Aku mencoba menekannya

tadi pagi, Aruna. Aku tidak bisa melihat tuts-tuts itu dengan jelas lagi. Dokter

di ambulans semalam benar. Kornea mataku rusak karena hawa panas dan asap. Aku

akan segera kehilangan penglihatanku sepenuhnya."


Aruna merasakan sesak di dadanya. Takdir seolah tidak berhenti memukul pria ini.

Setelah merenggut wajah dan kariernya, kini ia merenggut cahaya dari matanya.

Lihat selengkapnya