Dunia Adrian kini berwarna susu. Bukan hitam yang pekat dan menakutkan seperti
yang ia bayangkan selama ini, melainkan sebuah hamparan putih yang berpendar,
seolah-olah ia sedang terjebak di dalam jantung kabut Lembang yang paling tebal
selamanya. Bayangan benda-benda masih ada—siluet furnitur yang kaku, garis
jendela yang memanjang—namun segalanya kehilangan detail. Wajah manusia, bagian
paling krusial dari komunikasi, kini hanya menjadi gumpalan warna kulit yang tak
terbaca.
Di ruang musik yang kini terasa jauh lebih luas karena ia tak bisa lagi melihat
batas-batas dindingnya, Adrian duduk di bangku piano. Jemarinya meraba permukaan
kayu mahogany yang dingin. Ia bisa merasakan urat-urat kayu itu, teksturnya, dan
goresan kecil di sudut yang selalu ia ingat. Namun, saat ia menatap ke depan, ia
tidak bisa lagi melihat partitur yang biasanya bersandar di sana.
"Tiga langkah ke kanan, Adrian. Ada kursi rotan di sana," suara Aruna terdengar
lembut, mengalun dari arah pintu.
Adrian tersenyum pahit. "Aku merasa seperti pion di atas papan catur yang
digerakkan oleh tangan orang lain."
"Bukan pion," Aruna melangkah mendekat. Adrian bisa mendengar gesekan gaun katun
Aruna dan aroma sabun lavender yang selalu menenangkan sarafnya. "Kau adalah
sang raja. Aku hanya penasihatmu yang paling setia."
Aruna berdiri di sampingnya, meletakkan tangannya di bahu Adrian. Kehadiran
fisik wanita itu kini menjadi jangkar utama bagi Adrian. Tanpa penglihatan,
indra pendengaran dan perabaannya menajam hingga ke tingkat yang menyakitkan. Ia
bisa mendengar detak jantung Aruna yang stabil, dan ia bisa merasakan kehangatan
yang terpancar dari tubuh wanita itu.
"Bagaimana keadaan di luar hari ini?" tanya Adrian.
"Langitnya biru pucat," Aruna mulai mendeskripsikan dengan nada puitis yang kini
menjadi ritual harian mereka. "Kabutnya hanya menggantung tipis di atas lembah,
seperti selendang yang tertinggal. Mawar-mawar yang kau pangkas tempo hari mulai
menumbuhkan kuncup baru. Warnanya merah muda, hampir seperti warna pipi Rara
saat dia berlari."
"Dan Rara?"
"Dia sedang di taman bersama Bi Ijah. Dia sedang mencoba memberi nama pada
setiap pohon pinus. Dia menyebut pohon yang paling besar sebagai 'Paman Adrian'
karena katanya pohon itu kuat tapi suka diam."
Adrian tertawa kecil, suara yang kini lebih sering muncul dari dadanya. "Dia
selalu lebih cerdas dari kita semua."
Aruna menuntun tangan Adrian ke atas tuts piano. "Mari kita lanjutkan Bagian
Kedua. Gerakan Adagio. Aku sudah menyusun kerangka nadanya semalam."
Kolaborasi mereka kini mencapai tahap yang hampir bersifat telepatis. Adrian
akan menggumamkan melodi, dan Aruna akan memainkannya. Jika ada nada yang dirasa
kurang pas oleh telinga Adrian, ia akan menggeser tangan Aruna ke posisi yang
benar. Mereka bukan lagi dua musisi yang bekerja bersama; mereka adalah satu
instrumen yang memiliki dua pasang tangan dan satu jiwa.
"Di sini," Adrian menunjuk ke area oktaf tinggi. "Gunakan nada yang lebih rapuh.
Seperti kristal yang hampir pecah. Aku ingin ini menggambarkan saat-saat
terakhir sebelum api itu padam."
Aruna menekan tuts-tuts itu dengan lembut. Suaranya jernih, menyayat hati, namun
memiliki kemurnian yang menenangkan. Adrian memejamkan matanya yang tak lagi
berfungsi, membiarkan musik itu membangun gambaran visual di dalam benaknya. Ia