Waktu di Vila Parahyangan kini tidak lagi dihitung berdasarkan detik jam dinding
yang kaku, melainkan melalui helai demi helai partitur yang terisi. Tiga bulan
telah berlalu sejak api itu melumat rahasia di lantai tiga, dan musim di Lembang
mulai bergeser. Angin yang bertiup kini membawa aroma dingin yang lebih tajam,
menandakan puncak musim penghujan, namun di dalam gedung utama, kehangatan
perapian dan denting piano menciptakan mikrokosmos yang sepenuhnya berbeda.
Aruna duduk di depan piano, jemarinya menari di atas tuts dengan kepercayaan
diri yang baru. Tremor di tangan kanannya belum sepenuhnya hilang—mungkin tidak
akan pernah benar-benar pergi—namun ia telah belajar untuk berdamai dengannya.
Ia tidak lagi melihat getaran itu sebagai kegagalan, melainkan sebagai vibrato
alami yang memberikan karakter unik pada permainannya.
Di sampingnya, Adrian duduk dengan tegak. Matanya yang kini tertutup lapisan
putih katarak traumatis menatap lurus ke depan, namun telinganya menangkap
setiap nuansa nada.
"Baris terakhir, Aruna," bisik Adrian. Suaranya mengandung getaran antisipasi
yang luar biasa. "Gunakan crescendo yang lembut, lalu akhiri dengan chord
C-mayor yang paling murni. Biarkan ia menggantung di udara seperti fajar yang
baru menyingsing."
Aruna menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh emosi yang telah mereka lalui
bersama—rasa takut, amarah, keputusasaan, dan akhirnya, cinta yang membebaskan.
Ia menekan tuts-tuts itu. Nada terakhir mengalun, memenuhi ruangan, bergetar di
antara furnitur kayu tua dan lukisan-lukisan yang kini tak lagi ditutupi kain
hitam. Saat suara itu perlahan memudar dan menghilang ke dalam kesunyian, Aruna
melepaskan pedal piano.
Selesai. Simfoni Kabut: Cahaya yang Tersisa telah tuntas.
Adrian menyandarkan punggungnya, bahunya yang lebar tampak rileks sepenuhnya.
"Kita melakukannya, Aruna. Kita mengubah puing-puing itu menjadi sesuatu yang
abadi."
Aruna menoleh, menatap wajah Adrian. Tanpa syal sutranya, luka parut itu tetap
ada, namun tidak lagi terlihat seperti tanda dari seorang monster. Itu adalah
tanda dari seorang penyintas. "Bukan 'kita' yang melakukannya, Adrian. Kau yang
memilikinya sejak awal. Aku hanya membantumu menemukannya kembali di bawah
tumpukan abu."
Keheningan yang intim itu tiba-tiba terinterupsi oleh suara mesin mobil yang
mendaki bukit. Aruna mengerutkan kening. Tamu sangat jarang datang ke Vila
Parahyangan sejak insiden kebakaran, kecuali petugas logistik mingguan.
Aruna berjalan menuju jendela dan melihat sebuah sedan hitam mewah berhenti di
depan gerbang. Seorang pria dengan setelan jas rapi keluar—Pak Baskara,
pengacara keluarga Mahendra. Namun kali ini, ia tidak datang sendiri. Ia
didampingi oleh seorang pria paruh baya berkacamata yang wajahnya tampak sangat
akrab di mata Aruna.
"Adrian, Pak Baskara datang," ujar Aruna. "Dia bersama seseorang... sepertinya
Pak Hendra, direktur Konservatori Musik Jakarta."
Tubuh Adrian menegang sesaat, namun ia segera menguasai dirinya. "Hendra? Dia
adalah kawan lama dari masa-masa sebelum aku mengasingkan diri. Sepertinya kabar
tentang selesainya simfoni ini sudah sampai ke telinga mereka melalui
surat-surat administratif Baskara."
Pertemuan di ruang tamu itu terasa sangat formal, namun ada lapisan ketulusan di
sana. Pak Hendra menatap Adrian dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran
antara rasa hormat, iba, dan kekaguman.