MELODY DIBALIK KABUT

Ahmad Barnash
Chapter #14

Api Penebusan

Vila Parahyangan kini tidak lagi berbau debu dan rahasia kuno. Aroma cat baru,

kayu pinus yang baru dipotong, dan wangi bunga sedap malam yang mekar di beranda

menggantikan pengapnya masa lalu. Renovasi sayap bangunan yang terbakar hampir

selesai. Namun, Adrian memutuskan untuk tidak membangun kembali kamar-kamar

tertutup di lantai tiga. Sebaliknya, ia mengubah area itu menjadi sebuah studio

musik terbuka dengan jendela-jendela kaca besar yang membiarkan cahaya matahari

Lembang masuk tanpa penghalang.


“Tempat ini harus menjadi sumber suara, bukan tempat menyimpan kesunyian,” ujar

Adrian suatu pagi saat ia meraba dinding studio yang baru.


Aruna berdiri di sampingnya, memerhatikan bagaimana tangan Adrian kini bergerak

dengan lebih pasti. Meskipun dunianya kini sepenuhnya putih dan kabur, Adrian

telah memetakan setiap jengkal rumah itu di dalam benaknya. Ia tidak lagi tampak

seperti tawanan; ia tampak seperti seorang tuan rumah yang baru saja pulang dari

perjalanan panjang yang melelahkan.


Hari itu adalah hari yang bersejarah. Tim teknisi suara dari Jakarta telah tiba

sejak subuh, memasang kabel-kabel dan mikrofon sensitif di ruang musik utama.

Sesuai kesepakatan dengan Pak Hendra, Simfoni Kabut akan direkam secara live

dari Vila Parahyangan. Mereka ingin menangkap resonansi alami dari rumah yang

menjadi saksi kelahiran melodi tersebut—termasuk suara gesekan dahan pinus dan

rintik gerimis yang menjadi latar belakangnya.


Aruna duduk di depan piano, mengenakan gaun sutra berwarna biru tua yang

sederhana. Rambutnya dibiarkan tergerai, dan di pergelangan tangan kanannya, ia

melingkarkan gelang perak pemberian Adrian—sebuah jimat untuk menenangkan

sarafnya.


"Kau siap, Nona Pianis?" Adrian berdiri di tengah ruangan, mengenakan setelan

linen krem yang membuatnya tampak sangat elegan. Ia bertindak sebagai pengarah

artistik, mendengarkan melalui headphone khusus yang terhubung ke meja mixing.


"Selama kau ada di sana untuk mendengarku," jawab Aruna, memberikan senyum yang

ia tahu bisa dirasakan oleh Adrian melalui nada suaranya.


Rekaman dimulai. Aruna mulai menekan tuts-tuts piano. Bagian awal simfoni itu,

yang mereka beri judul Lembah yang Membisu, mengalun dengan getir namun indah.

Ia bisa merasakan kehadiran Adrian di setiap nadanya. Saat ia memasuki bagian

tengah yang lebih kompleks, tangan kanannya sempat bergetar. Namun, ia tidak

berhenti. Ia memejamkan mata, membayangkan wajah Adrian saat mereka pertama kali

Lihat selengkapnya