Vila Parahyangan kini tidak lagi berbau debu dan rahasia kuno. Aroma cat baru,
kayu pinus yang baru dipotong, dan wangi bunga sedap malam yang mekar di beranda
menggantikan pengapnya masa lalu. Renovasi sayap bangunan yang terbakar hampir
selesai. Namun, Adrian memutuskan untuk tidak membangun kembali kamar-kamar
tertutup di lantai tiga. Sebaliknya, ia mengubah area itu menjadi sebuah studio
musik terbuka dengan jendela-jendela kaca besar yang membiarkan cahaya matahari
Lembang masuk tanpa penghalang.
“Tempat ini harus menjadi sumber suara, bukan tempat menyimpan kesunyian,” ujar
Adrian suatu pagi saat ia meraba dinding studio yang baru.
Aruna berdiri di sampingnya, memerhatikan bagaimana tangan Adrian kini bergerak
dengan lebih pasti. Meskipun dunianya kini sepenuhnya putih dan kabur, Adrian
telah memetakan setiap jengkal rumah itu di dalam benaknya. Ia tidak lagi tampak
seperti tawanan; ia tampak seperti seorang tuan rumah yang baru saja pulang dari
perjalanan panjang yang melelahkan.
Hari itu adalah hari yang bersejarah. Tim teknisi suara dari Jakarta telah tiba
sejak subuh, memasang kabel-kabel dan mikrofon sensitif di ruang musik utama.
Sesuai kesepakatan dengan Pak Hendra, Simfoni Kabut akan direkam secara live
dari Vila Parahyangan. Mereka ingin menangkap resonansi alami dari rumah yang
menjadi saksi kelahiran melodi tersebut—termasuk suara gesekan dahan pinus dan
rintik gerimis yang menjadi latar belakangnya.
Aruna duduk di depan piano, mengenakan gaun sutra berwarna biru tua yang
sederhana. Rambutnya dibiarkan tergerai, dan di pergelangan tangan kanannya, ia
melingkarkan gelang perak pemberian Adrian—sebuah jimat untuk menenangkan
sarafnya.
"Kau siap, Nona Pianis?" Adrian berdiri di tengah ruangan, mengenakan setelan
linen krem yang membuatnya tampak sangat elegan. Ia bertindak sebagai pengarah
artistik, mendengarkan melalui headphone khusus yang terhubung ke meja mixing.
"Selama kau ada di sana untuk mendengarku," jawab Aruna, memberikan senyum yang
ia tahu bisa dirasakan oleh Adrian melalui nada suaranya.
Rekaman dimulai. Aruna mulai menekan tuts-tuts piano. Bagian awal simfoni itu,
yang mereka beri judul Lembah yang Membisu, mengalun dengan getir namun indah.
Ia bisa merasakan kehadiran Adrian di setiap nadanya. Saat ia memasuki bagian
tengah yang lebih kompleks, tangan kanannya sempat bergetar. Namun, ia tidak
berhenti. Ia memejamkan mata, membayangkan wajah Adrian saat mereka pertama kali