Pagi di Lembang kali ini tidak membawa ketidakpastian. Kabut yang turun dari
puncak Tangkuban Perahu tampak seperti kapas halus yang memeluk lereng bukit,
tenang dan melindungi. Di teras Vila Parahyangan, suara denting cangkir porselen
beradu dengan sendok perak, menciptakan ritme pagi yang damai.
Julian, pria yang muncul dari kegelapan malam sebelumnya, duduk di kursi rotan
dengan kepala tertunduk. Di sampingnya, Rara duduk dengan ragu, tangannya yang
mungil sesekali menyentuh lengan ayahnya seolah ingin memastikan bahwa pria ini
bukan sekadar hantu dari masa lalu.
"Aku tidak pernah bermaksud meninggalkan Rara, Adrian," suara Julian pecah di
tengah kesunyian. "Setelah kematian ibunya, aku merasa seperti ruang hampa. Aku
pergi ke Eropa untuk mencari diriku sendiri, tapi yang kutemukan hanya pelarian
yang sia-sia. Aku mendengar tentang kebakaran itu... aku takut aku sudah
terlambat untuk meminta maaf."
Adrian, yang duduk tegak dengan kacamata hitam yang menutupi matanya yang kini
tenang, mengangguk perlahan. "Kita semua adalah ahli dalam hal melarikan diri,
Julian. Aku melarikan diri ke dalam kegelapan rumah ini, dan kau melarikan diri
ke belahan dunia lain. Tapi pelarian tidak pernah menyelesaikan simfoni. Ia
hanya menunda nada terakhir."
Aruna berdiri di ambang pintu, memerhatikan dua bersaudara itu. Ia melihat
bagaimana Adrian, pria yang dulu begitu penuh amarah dan kebencian, kini bisa
mengulurkan tangan dan meraba bahu adiknya.
"Rara tidak membencimu, Julian," ujar Aruna, melangkah mendekat. "Dia hanya
merindukan suara ayahnya. Sama seperti Adrian yang merindukan dunianya."
Julian menatap Aruna dengan penuh terima kasih. "Pak Baskara menceritakan
segalanya padaku semalam. Tentang bagaimana Anda menyelamatkan rumah ini,
menyelamatkan Adrian... dan menyelamatkan putriku. Saya tidak tahu bagaimana
cara membalasnya."
"Jangan membalas saya," jawab Aruna lembut. "Cukup jadilah ayah yang dibutuhkan
Rara sekarang. Dan jadilah adik yang dibutuhkan Adrian. Vila ini sudah terlalu
lama kekurangan cinta."
Keputusan akhirnya diambil. Julian tidak akan membawa Rara pergi. Ia menyadari
bahwa ikatan antara Rara, Adrian, dan Aruna sudah terlalu kuat untuk dipisahkan.
Julian akan tinggal di paviliun bawah, membantu mengelola perkebunan teh milik
keluarga yang selama ini terbengkalai, sementara Rara akan tetap tinggal di
gedung utama sebagai jantung dari kebahagiaan mereka.
Enam bulan kemudian.