Membagi Rasa

Azerhays
Chapter #1

Chapter 1 - Pertemuan kembali

Sebuah kisah tentang Rezza, seorang cowok usia 30 tahunan, yang berprofesi sebagai creative director di perusahaan digital agency miliknya sendiri, hidup dalam kondisi hati yang sedang tak baik-baik saja selama bertahun-tahun. Kehilangan sosok wanita yang dicintainya karena dipaksa berpisah oleh orang tua si wanita, ditinggal menikah oleh wanita itu lebih dari dua tahun yang lalu, hingga belum bisa membuka hatinya untuk wanita lain. Yang menyakitkan adalah bukan karena dia jatuh cinta terlalu dalam kepada wanita itu, tapi karena wanita itu yang membuatnya menjadi manusia kuat lima tahun lalu saat orang tuanya meninggal dalam kecelakaan tragis tenggelamnya kapal ferry. Wanita itu menjadi satu-satunya alasan ia meneruskan hidup, wanita itu adalah sahabatnya sendiri sejak kuliah 15 tahun lalu.

Tapi kini, di saat dia sedang mencoba membuka hatinya kepada seorang gadis cantik, mantan anak magang di kantornya, justru ia diuji oleh kembalinya sosok Sherin, wanita yang mati-matian dia lupakan, justru mendekat lagi karena diceraikan oleh suaminya tanpa anak. Lantas, bagaimana ending dari cerita fiktif yang terasa cukup nyata ini?

_________________________________________

Present day:

Rezza baru masuk lantai 3 kantor K&B Digital Agency jam 11.00 pagi. Ia telat bukan tanpa alasan, tapi karena awalnya dia mau cuti hari itu, hari senin yang cerah. Hingga tiba-tiba ada kabar dari group chat kantor kalau Hendro, investor Agensi K&B sekaligus sahabatnya sejak kuliah, akan datang membawa seorang perwakilan dari brand potensial. Rezza yang awalnya mau me time di rumah seharian karena weekend dilalui dengan kesibukan pekerjaan offline event klien, jadi harus datang ke kantor di saat matahari sudah tinggi.

Meski demikian, Rezza tetap memasang wajah ramahnya walau tak menutupi kelelahan di raut mukanya. Ia melewati meja kubikal Trio AE (Account Executive) IJA (Icha, Janice, dan Anya) sambil mengetuk-ngetuk meja dan berkata "Good morning, girls!" dengan nada berusaha semangat namun terasa lesu.

Ketiga AE gemes itu pun kaget dan menjawab gak kompak, "morning Bang!"

Rezza langsung berlalu gitu aja ngeloyor ke ruangannya. Ketiga AE cantik itupun langsung bergunjing, Icha nanya, "eh guys, kok Bang Rezza masuk kantor? Bukannya dia cuti?"

Anya si paling gercep pun jawab, "liat grup WA kantor makanya, itu Bang Hendro mau dateng dan bawa potential client buat K&B siang ini."

Icha jawab, "oh iya deng, baru liat gue. Kirain besok. Hari ini ya ternyata?"

Anya menjawab ketus, "kebiasaan sih gak inget tanggal, ingetnya tanggal gajian doang lo!"

Icha ekspresi mengernyit sambil mulut komat-kamit.

Janice cuma geleng-geleng kecil ngeliat pertengkaran gak berfaedah dua seniornya.

Di ruangannya, Rezza buru-buru buka deck slide presentasi. Dalam waktu kurang dari 1 jam dia harus bisa present itu tanpa kesalahan sedikitpun. Memang K&B sudah punya template deck pitching yang bisa langsung dipakai saat itu juga, tapi kan akan lebih 'ngena' di calon klien jika slide presentasi/deck dibuat lebih spesifik untuk brand tersebut.

Gak lama kemudian, Anya masuk ke ruangan tanpa ketok pintu. Ya memang dunia agensi se-satset itu sampai-sampai ketok pintu bukan menjadi budaya.

"Bang, deck buat siang ini aman?" tanya Anya.

"Ini lagi gue edit. Wait ya, kalo ada perlu yang lain ntar dulu."

"Mau gue bantuin bang?"

"Nggak usah kok, thanks Nya."

Anya udah mau balik badan sambil bilang oke tapi keburu Rezza nyamber lagi.

"Eh Nya, gue minta tolong siapin ruang meeting aja boleh gak? Make sure meeting room kosong dan bersih. Gue lupa mampir ke meeting room tadi" sambil mengalihkan pandangan ke Anya dengan muka sedikit panik.

"Okeh bang, gue cek meeting room sekarang ya."

"Sip, lo terbaik sih Nya. Makasih banget."

Anya pun senyum ketus sambil melangkah pergi dari ruangan Rezza.


12.15 | Hendro datang bersama Roni, seorang pebisnis kolega ayahnya Hendro. Mereka masuk ke meeting room lantai 3 yang sudah ada Rezza dan Icha.

"Halo, selamat siang. Selamat datang di K&B.." Rezza menyapa ramah

"Selamat siang, saya Roni Darwin. Just call me Roni." sambil menyodorkan tangan ke arah Rezza

Mereka pun bersalaman.

"Salam kenal Bang Roni. Oh iya ini Icha, Account Executive K&B yang akan mendampingi saya presentasi siang ini." jawab Rezza sambil gestur menunjuk ke arah Icha.

"Salam kenal Bang Roni, saya Icha AE K&B." Icha menjawab sambil menjabat tangan Roni.

"Silahkan duduk Bang Roni, mau minum teh atau kopi?" Rezza mempersilahkan.

"Ahh apa aja bebas saya sih, kopi hitam atau teh tanpa gula boleh aja.." Jawab Roni

"Okeh, kalau Bang Hendro biasa? Teh sedikit gula?" lanjut Rezza.

"Yes, please.." Jawab Hendro ke Rezza.

"Well, saya pesen ke OB dulu sebentar." Reza ngeloyor ke luar ruangan mencari OB ke arah pantry. Icha membuka obrolan basa-basi ke Roni dan Hendro.

13.27 | Time skip ke slide terakhir, Rezza menutup meeting itu.

"Jadi, more or less seperti itu Bang Roni dari K&B coba menjawab challenge yang kami dapat lewat Bang Hendro. Kira-kira ada pertanyaan dari Bang Roni atau Bang Hendro juga mungkin?" tanya Rezza

"Hmm, sebetulnya saya banyak sekali pertanyaan dan sangat puas atas presentasi kalian. Tapi sayangnya saya ada meeting internal kantor nih jam 2 ini. Gimana kalau slide-nya kirim ke email saya, nanti saya list down pertanyaan lewat email? Atau nanti bisa kita ketemu lagi di lain waktu." Jawab Roni

"Wah, bisa dong bang. Kita akan kirimkan lewat email. Nanti saya minta email-nya aja dan anytime Bang Roni mau nanya baik lewat email, call, atau ketemu lagi, just please, let me know."

"Sure, ini kartu nama saya ada email dan nomor handphone khusus kerjaan saya." Roni menyodorkan kartu nama.

"Terima kasih, well received Bang Roni. Thank you sudah mau mampir ke kantor K&B."

"Siap, sama-sama terima kasih kopinya. Enak banget saya jarang-jarang meeting di kantor kopinya seenak ini. Haha" Roni sambil berdiri mencoba basa-basi.

"Wah iya Bang Roni, memang kopi di sini spesial saya yang kurasi biar klien dan staf betah di kantor. Hehe" Rezza sumringah dipuji oleh klien.

"Alright, kalau gitu saya pamit dulu. Terima kasih sekali lagi, saya tunggu email-nya nanti saya akan list down pertanyaan dari saya." Roni sambil menyodorkan tangan untuk berjabat.

"Baik, segera kami kirim email ya Bang Roni, hati-hati di jalan. Have a nice day."

"You too ya guys.."

Roni dan Hendro keluar ruangan disusul Rezza dan Icha.

"Hmm kalau gitu, gue juga pamit ya mau balik ke kantor bokap." Ujar Hendro

"Oh oke bang, biar gue antar sampai lobi?" tanya Rezza

"Gak usah aman, gue mau mampir ke basement dulu. Sekalian gue aja yang anter Bang Roni ke parkiran."

"Okeh kalau gitu, thank you Bang Hendro dan Bang Roni. Sampai ketemu lagi.."

"Oke siap.."

Mereka pun berpisah, Icha dan Rezza memandang Hendro dan Roni sampai hilang dari pandangan.

"Cha, thank you tadi udah nemenin meeting. Gue balik ruangan ya."

"Okay, sama-sama bang." jawab Icha dengan senyum manisnya.

Rezza pun buru-buru balik ke ruangannya, melewati meja kubikal Trio AE tanpa menyapa.

Icha balik ke meja kubikal.

"Gimana Cha? Lancar?" tanya Janice.

"Aman kok, lancar semuanya." jawab Icha.

"Oh syukurlah, gue liat tadi Bang Rezza mukanya kaya bete gitu, kirain ada apa-apa."

"Gak tau, dia kaya lagi gak fokus. Tadi juga di ruangan beberapa kali dia kaya bengong pas gue lagi present." jawab Icha.

Anya nyamber, "udah kalian jangan terlalu kepo dulu sama Bang Rezza, dia lagi kepikiran kali kemarin pas event di mall, ketemu sama mantannya."

"HAH? Mbak Sherin?" tanya Icha kaget.

"Hushh, pelan-pelaan.. Gaenak kalo kedengeran Bang Rezza!"

"Eh iya maap-maap, bukannya mereka udah gak ada apa-apa ya?" tanya Icha.

"Ya iya, kan Sherin udah merit." jawab Anya.

"Ehhmm, terus mereka ngapain Nya?" Janice tiba-tiba nanya.

"Hadehh, ntar aja deh gue ceritainnya. Gak enak cerita di sini. Takut Bang Rezza denger lagi diomongin, nanti gue yang kena omel."

"Yaelah tanggung amat sih Nya, kan gue kepo jadinya."

"Udah-udah ntar tunggu aja semoga Bang Rezza gak lama pulang, kan dia harusnya cuti hari ini."

"Ah payah lo!" jawab Icha ketus.


16.23 | Janice memandang ke arah Anya dan Icha yang lagi sibuk sambil memakai headset sendiri-sendiri. Lalu Janice melongok ke arah ruangan Rezza sambil berdiri dari kursinya.

'Bang Rezza lagi ngapain ya? Kok dari tadi gak keluar ruangan, emang dia gak laper apa?' Janice bertanya dalam hatinya.

Tapi ia duduk lagi di kursi, memandang kotak bekal yang dibawanya berisi roti sandwich isi selai cokelat dan keju buatan sendiri.

'Aku tawarin Bang Rezza deh, siapa tau dia laper.' Janice bergumam.

Baru melangkah ke arah ruangan Rezza beberapa saat, tangan Janice ditarik ke belakang.

"Lo mau ngapain Jan?" tanya Icha.

"Mau nawarin ini roti ke Bang Rezza, dari tadi dia gak keluar ruangan lho takutnya laper." jawab Janice.

"Haishh, udah jangan diganggu dulu. Lo gak tau sih kalo berhubungan sama mantannya yang namanya Sherin-Sherin itu, Bang Rezza bisa jadi mode senggol bacok." Icha menakut-nakuti.

"Apaan sih Cha? Gue cuma mau nawarin roti kali bukan nawarin kerjaan. Udah tenang aja, gue coba dulu. Kasian lho Bang Rezza dari jam 2 gak keluar ruangan. Kalo dia pingsan kelaperan gimana? Mau lo bopong badannya tinggi gede gitu?" jawab Janice dengan tegas.

"Ahh terserah lo deh.. Kalo sampe disemprot sama Bang Rezza, gue gak ikut-ikut ya!"

"IYAA.." jawab Janice gemes.

Pintu diketuk.

"Misi Bang.."

"Iya masuk!"

"Maaf Bang Rezza, ganggu gak?"

Rezza lagi melamun sambil memainkan kursor mouse di laptop agak kaget lihat Janice datang.

"Ohh, nggak-nggak. Gak ganggu kok Jan. Ada apa?"

"Ehmm, ini dari tadi aku liat abang belum keluar ruangan. Aku kebetulan tadi pagi bawa roti bikinan sendiri, siapa tau Bang Rezza mau coba." Janice sambil menyodorkan kotak bekal yang dibuka.

"Ohh gak usah.. Gak usah repot-repot. Aku masih kenyang kok, aman." jawab Rezza sambil senyum getir ke arah Janice.

"Hmm, ini aku tinggal di sini aja kalau Bang Rezza laper, silahkan diambil aja ya bang. Semoga abang suka rotinya. Aku permisi.." Janice memaksa dan menaruh kotak bekalnya di meja Rezza.

"Hmmm.." Rezza cuma bisa bengong sambil lihat Janice naruh kotak bekal dan langsung ngeloyor pergi.


17.12 | Anya berdiri, berjalan ke arah ruangan Rezza. Ketuk pintu langsung buka.

"Bang, gue balik duluan aman kan? Mau jemput adek gue di sekolah."

"Oh, iya gapapa. Duluan aja. Hati-hati Nya.." jawab Rezza kaget.

"Okeh, thanks bang!"

Anya balik ke meja kubikalnya, beberes tas.

"Cha, Jan, gue duluan ya. Mau jemput adek gue soalnya bokap lagi meeting di kantor."

"Oh oke Nya, tiati lo!" jawab Icha

"Iya hati-hati Nya.." jawab Janice.

"Bye guys.."


18.58 | Kubikal AE.

"Janice, lo pulang jam berapa? Balik yuk."

"Eh iya udah jam tujuh lagi, yuk balik."

"Okeh gue sambil pesen ojol ya, lo naik apa?"

"Gue bawa motor sendiri sih tadi."

"Yaudah ntar turun bareng ya.."

"Okeh, gue siap-siap."

Icha dan Janice melangkah ke ruangan Rezza.

Icha ketuk dan buka pintu.

"Bang, lo gak balik?" tanya Icha.

Rezza yang masih menatap kosong ke layar laptop, kaget.

"Oh iya duluan aja, gue bentar lagi paling."

"Oke deh, gue duluan ya."

"Iya hati-hati.."

Janice masuk, melihat kotak bekalnya sudah kosong.

"Hmm bang, jangan pulang malem-malem ya.

Aku balik duluan."

"Eh iya, hati-hati ya Janice.." jawab Rezza dengan senyum tipis.

Icha dan Janice pun masuk lift dan turun ke lobi.

"Eh itu ojol gue keknya udah di lobi, gue duluan ya Jan. Tiati lo!"

"Iya lo juga hati-hati Cha.."

Janice jalan ke arah parkiran motor.

Tak lama kemudian, Rezza keluar dari lift lobi. Jalan menuju parkiran motor juga.

Di parkiran, Janice coba nyalain motornya tapi gak hidup-hidup. Nampak jarum bensin sudah mentok di empty. Motor Vespa matic-nya lupa ia isi bensin tadi pagi karena macet.

"Aduh abis keknya nih bensin. Gimana ya?"

"Loh Janice, motor kamu kenapa?" Rezza tiba-tiba muncul.

"Ini, duh keknya bensinnya habis deh bang."

"Oh gitu, yaudah aku ambilin bensin motor aku ya."

"Eh gausah bang, besok aja. Jadi ngerepotin soalnya. Aku pesen ojol aja."

"Hah? Kok pesen ojol? Jadi boros nanti. Udah gini aja, ikut aku nanti kalau ada warung jual bensin eceran, kita beli trus balik lagi ke kantor. Kalau gak ketemu, yaudah aku anter pulang ke kosan kamu. Gimana?" Rezza ngide.

"Ehm, takutnya ngerepotin Bang Rezza nih aku."

"Nggak repot sama sekali kok, ya? Ikut aku aja yuk. Pake helm kamu soalnya aku gak bawa helm dua."

"Hmm, oke deh bang. Makasih banyak ya."

"Iya aman kok Jan." Rezza tersenyum.

Mereka berdua akhirnya boncengan, sambil menuju arah kosnya Janice.

Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, tapi di dalam hati masing-masing ribut berkecamuk.

'Kenapa ya aku kalau lagi berdua sama Bang Rezza gini bawaannya deg-degan?

Duh! Behave Janice! Behave!' suara hati Janice.

'Janice kenapa diem aja ya? Apa dia sebenernya gak mau gue boncengin gini?' suara hati Rezza.


Tiba-tiba hujan gerimis turun, tak lama hujan semakin deras.

Mereka memutuskan melipir ke sebuah warung tenda penjual nasi goreng di daerah Cilandak, Jaksel.

"Janice, kita neduh dulu ya. Aku cuma bawa satu jas hujan soalnya." ujar Rezza.

"Bang, gapapa lanjut aja kalau Bang Rezza mau pake jas hujan, aku kehujanan gak apa-apa."

"Hah? Gak bisa dong, nanti kalo kamu sakit gimana? Udah kita neduh dulu ya.."

"Hmm, beneran? Bang Rezza gak kemaleman pulangnya?"

"Enggak kok. Sekalian aku mau pesen makan. Laper juga seharian gak makan nih. Kamu mau makan juga nggak?"

"Iya boleh deh bang, aku juga udah laper nih."

Lihat selengkapnya