17.00 | Kembali ke mall, Rezza briefing evaluasi sebentar dengan para vendor usai acara mereka hari sabtu itu wrapped.
"Terima kasih sekali lagi buat kerja kerasnya ya teman-teman hari ini, masih ada hari esok. Kita lebih semangat lagi ya besok, sampe ketemu jam 9 pagi besok guys. Thank you.."
"Thank you Bang Rezza." semua kompak menjawab.
Semua membubarkan diri, Rezza dan Anya berjalan pelan menuju lobi.
"Jadi, soal Sherin gimana bang kalo gue boleh tau?" tanya Anya.
"Hmm.. Jujur gue gak tau ya bisa cerita atau gak ke lo Nya, karena ini terkait aib rumah tangganya.
Yang jelas, Dhika, suaminya Sherin sudah menggugat cerai."
"Serius bang? Kirain cuma ribut-ribut kecil aja." Anya sangat shocked dengernya.
"Yah gitu lah, gue sih cuma berharap yang terbaik aja buat Sherin. Gimana pun juga gue sedih dan sakit hati lihat Sherin menangis dan sedih banget gitu." ujar Rezza.
"Yaudah, gue cuma mau kasih saran sih bang kalo boleh."
"Saran apa tuh Nya?"
"Hati-hati jangan sampe salah langkah lagi buat lo."
"Salah langkah gimana maksud lo Nya?"
"Iya, takutnya lo jadi kepincut buat deketin Sherin lagi. Inget coba gimana sakit hatinya elo waktu lo disuruh pisah sama ortunya. Mending cuma disuruh pisah bang, lo dikata-katain hidupnya gak jelas lah, bukan dari keluarga terpandang lah, gue dengernya aja sakit hati banget apalagi lo yang jalanin?"
"Iya Nya, lo bener. Gue gak boleh gegabah. Gue juga udah coba set my own boundaries sih di sini. Semoga aja ya gue gak plenger."
"Amin, pokonya kalo ada apa-apa cerita sama gue ya bang. Biar gue bisa ingetin lo untuk gak salah langkah." tegas Anya.
"Okeh, makasih banget ya Nya!"
Back to Rezza tiba di rumah dari kosan Janice. Turun dari motor, buka pintu rumah, duduk sejenak di ruang tengah sambil menghempaskan badan dan menghembuskan nafas. Rezza merasa hari itu lelah sekali karena gak sesuai ekspektasinya yang awalnya mau cuti.
Rezza bengong beberapa saat, keinget sama kebersamaan tadi yang cukup seru sama Janice. Rezza sadar banget kalau sedikit banyak Janice udah berhasil bikin hatinya terpongkel cukup dalam.
Setelah itu, Rezza ambil handphone di kantong celana, buka chat sama Janice.
Dia ketik, "Hai, besok pagi mau bareng gak? Kan motor kamu masih di kantor, jadi berangkat bareng aja biar aku jemput."
Sesaat sebelum send chat, Rezza geleng-geleng kepala dengan wajah ragu lalu pilih delete ketikannya tadi.
Ternyata di sana, Janice lagi buka room chat-nya Rezza, dan sempat melihat status 'typing..' di situ. Tapi setelah ditunggu beberapa menit, gak ada chat yang masuk juga. Janice terlihat kecewa sedikit tapi yaudah aja berlalu dan melanjutkan aktivitasnya di kosan.
07.05 | Keesokan harinya. Rezza udah nangkring di depan kosan Janice.
Di dalam kamarnya, Janice baru aja selesai make up dan beresin tas serta bawaannya. Tiba-tiba chat masuk dari Rezza.
"Morning, udah berangkat belum? Aku di depan kosan kamu nih, bareng yuk!"
Janice langsung melotot kaget, buru-buru pakai sepatunya dan keluar kamar.
"Bang Rezza, kok gak bilang-bilang mau ngajak bareng?" Janice keluar dari pintu depan kosannya.
"Hmm, gapapa tadi sekalian lewat terus coba chat kamu siapa tau belum berangkat. Bener kan kamu belum berangkat? Jadi bareng aja kita!" jawab Rezza dengan senyum merekah.
"Iya bang, makasih ya udah ngajak bareng. Untung aku belum pesen ojol, jadi bisa bareng kamu." ujar Janice sambil senyum tak kalah sumringah.
"Yaudah yuk, jangan lupa helm kamu."
"Oh iya, sebentar aku ambil helm dulu." Janice masuk ke dalam sebentar lalu keluar sambil memakai helmnya.
Mereka pun berangkat bersama dan fast forward sudah sampai parkiran kantor.
"Makasih ya bang sekali lagi, udah ngajak aku berangkat bareng!"
"Iya sama-sama ya Jan, aman aja. Oh iya soal motor kamu yang habis bensin, nanti aku bilangin ke OB untuk minta tolong beliin bensin pake botol ya.. Biar bisa diisiin dulu, biar bisa nyala motornya."
"Eh gak usah bang. Nanti kalo lagi santai aku beli sendiri aja bensinnya."
"Udah gak apa-apa, santai aja. Nanti biar OB ya yang ngurus, biar kamu gak kerepotan."
"Beneran bang? Yaudah kalo gitu, makasih banyak ya."
"Sama-sama.. Yuk masuk kantor."
"Yuk."
10.30 | Rezza, Icha, Janice, dan Anya sedang di ruang meeting bersama beberapa staf lainnya. OB datang mengetuk pintu saat mereka sedang diskusi tentang content plan bulan depan yang mau diajukan ke klien otomotif, klien yang adalah kantornya Sherin.
"Permisi, mbak Janice, ini kunci motornya." kata OB.
"Oh iya, cukup kan uangnya tadi mas?"
"Aman kok mbak, masih ada lebihnya malah nih." OB jawab sambil balikin uang kembalian.
"Eh ini buat mas aja, buat nambah-nambahin jajan atau makan siang.."
"Wah beneran mbak? Makasih ya. Kalau gitu saya permisi."
"Iya sama-sama, makasih juga mas."
Janice balik ke kursinya di ruang meeting.
"Menurut lo bang, konten video short-form kek gini bakal di-approve gak ya sama klien? Ini kan video jenis baru nih. Sebelum-sebelumnya kita gak pernah ajuin model begini buat Reels dan TikTok klien.." tanya Icha ke Rezza.
"Jujur gue juga belum yakin sih, memang harus diajuin dulu. Meanwhile, kita siapin back up plan jaga-jaga kalau konten ini gak di-approved klien ya.." jawab Rezza.
"Oh iya bener juga tuh, ini kita ajuin tapi tetep ada back up konten kalo-kalo klien gak suka dengan konten model begini." Anya berpendapat.
"Okeh, aman ya guys? Ada yang mau didiskusiin lagi gak?" tanya Rezza.
"So far belum ada lagi sih bang, nanti coba kita ajuin ke klien dulu baru abis itu kita liat feedback-nya." jawab Janice.
"Okeh kalo gitu, meeting internal pagi ini kita sudahi. Silahkan balik ke tempat masing-masing. Thank you all!" Rezza menutup meeting sambil berdiri dan langsung keluar ruangan.
Icha mengejar sambil memanggil Rezza, "Bang Rezza, nanti siang makan bareng-bareng yuk. Kita mau lunch di kafe baru deket pom bensin Kemang situ mau ikut gak?"
"Oh, boleh-boleh. Apa nama kafenya? Biar gue cek menu dulu."
"Namanya Blue Collar coffee and resto bang!" jawab Icha.
"Okeh, nanti gue cek-cek dulu. Thanks ya Cha.."
"Sama-sama bang." jawab Icha sambil gestur dua tangan sip.
11.35 | Kubikal Trio IJA. Wajah-wajah gak sabar mau makan siang, Janice dan Icha touch up sambil buka webcam, Anya beres-beres tas.
"Nanti pake mobil gue aja ya biar jalan bareng." ajak Anya.
"Siap Buk Anya, kita mah ikut aja, ya nggak Jan?" ujar Icha.
"Iya bestie.. Gue sih ayok aja. Hehe" jawab Janice.
Tiba-tiba dari kejauhan, berjalan cepat sesosok wanita cantik menggunakan blazer putih dengan dress warna merah menyala, heels warna hitam glossy dan tas burgundy-nya, berjalan cepat ke arah mereka si Trio AE gemas.
"Mas Rezza ada di ruangannya?" Sherin bertanya dengan tatapan tajam ke arah Anya, Icha, dan Janice.
"Hmm, eh Sherin?! Iya ada." Anya jawab sambil terbata-bata.
"Eh Mbak Sherin, apa kabar? Makin cantik aja. Hehe" Icha menyelak omongan Anya.
"Thank you Icha, Anya, and siapa kamu?" Sherin nunjuk Janice.
Janice bengong gak berkedip lihat sosok wanita intimidatif nan frontal seperti Sherin.
"Eh ini Janice, AE baru kita. Baru 3 bulan di sini setelah 6 bulan intern." Jawab Anya.
"Oh oke, aku ke ruangan Mas Rezza dulu ya.." jawab Sherin sambil melengos meninggalkan mereka bertiga.
Janice dan Icha masih bengong, Anya jentikkan jari di depan muka mereka.
"Heh guys! Gawat ini gawat.." Anya bikin sadar Icha dan Janice
"Gawat kenapa?" tanya Icha.
"Duhh alamat perang dunia ini kalo Bang Rezza ketemu Sherin di ruangannya." jawab Anya.
"Emang kenapa Nya?" Janice nanya dengan wajah penasaran.
"Haduh fixed ini mah kita gak akan jadi lunch bareng. Pasti mood-nya Bang Rezza langsung berantakan abis ini." Anya jawab sambil muka panik.
"Eh Nya, gak boleh gitu. Siapa tau mereka cuma bahas kerjaan kan. Gak boleh suudzon jadi orang.." samber Icha.
Mereka bertiga pun masih bingung, panik, dan gak tau mau bersikap gimana.
1 jam berlalu, ketiganya masih duduk manis di kubikal mereka.
Di grup chat mereka bertiga:
Anya: "Masih belum selesai juga tuh si Sherin, gimana nih kita gak jadi lunch bareng dong?"
Icha: "Iya, lagi dia juga ngadi-ngadi aja dateng pas mau lunch. Tunggu kelar jam makan siang dulu kek gitu!"
Janice: "Kira-kira mereka ngobrolin apa ya? Apa kita pesen makan dulu aja pake ojol?"
Anya: "Duh gak bisa Jan, gue juga jadi gak selera makan kalo begini. Kepikiran gue takut Bang Rezza dan Sherin berantem. Gue kudu siaga misahin mereka kalo-kalo sampe ribut.."
Janice: "Emang segitunya ya? Kok serem sih.."
Icha: "Masalah kerjaan aja mereka bisa berantem apalagi soal hati Jan."
Anya: "Udah-udah, kita tunggu Sherin selesai dulu aja ya."
Icha: "Okeh, gue setuju."
Janice; "Iya, aman sih gue.."
Ekspresi mereka bertiga berusaha tenang walaupun masing-masing merasa takut kalau terjadi apa-apa.
Gak lama kemudian, OB datang bawa dua buah goodie bag dengan branding logo "Blue Collar coffee & resto".
"Mbak-mbak, ini tadi ada ojol dateng bawa pesanan. Katanya dari Mbak Sherin." OB bicara berdiri dekat kubikal Trio IJA.
"Hah? Siapa yang pesen mas?" tanya Icha kaget.
"Eh ini tadi sih pesan dari abang ojeknya, pesanan Mbak Sherin untuk diantar ke lantai 3. Sama tadi saya foto pesannya di hape abang ojeknya begini." OB mengeluarkan handphone lalu ditunjukkan chat dari akun Sherin bertuliskan:
"Tolong diantar ke lantai 3 K&B Digital Agency, untuk Anya, Icha, dan Janice."
Anya mengernyitkan dahi, "hah? Ngapain Sherin mesenin ini semua?"
"Jadi ini Mbak Sherin yang order?" tanya Janice.
"Kesambet apaan dia kok mesenin kita makanan, terus dari kafe yang mau kita lunch bareng lagi?!" Icha ikutan heran.
"Bentar, ini gue harus bawa ini ke ruangannya Bang Rezza. Biar jelas semuanya.." Anya ambil sikap.
Backwards 45 menit yang lalu:
Ruangan Rezza.
"Mas, aku bawa berita bagus buat kamu, buat kita!" ujar Sherin dengan semangat.
"Berita apa Sher?" Rezza berusaha ramah menjawab.
"Tadi pagi aku ngobrol sama papah. Dia bilang gini. Kalau aku sudah fixed berpisah, divorced dari Dhika, papah bilang aku boleh pilih siapapun jadi suami aku nanti. Dan aku udah menentukan pilihan, yaitu kamu mas.." ucap Sherin dengan mata berbinar.
"Hah? Apaan sih Sher? Kok jadi aku?" Rezza heran.
"Lho, bukannya ini yang kamu mau? Dulu kita sama-sama ngehadepin papah aku dan maaf banget saat itu papah aku gak restuin hubungan kita. Tapi sekarang, hikmahnya, setelah kejadian ini, papah jadi kasih restu buat kamu mas. Buat kita!"
"Ya tapi.. Ini semua terlalu cepat Sher. Terlalu mendadak, tiba-tiba aja gitu."
"Mas, kamu belum ada pacar atau calon istri kan sekarang? Dan aku juga mau kamu tau kalo aku, masih berharap sama kamu mas. Sama hubungan kita!"
"Ya memang aku lagi single sekarang, tapi gak gini caranya Sher." wajah Rezza betul-betul tegang.
Sherin yang awalnya excited berubah jadi ikutan menegang.
"Ya terus? Cara yang benar menurut kamu gimana coba? Sini jelasin ke aku."
"Sher, kamu itu belum resmi bercerai. Gugatan perceraian dari Dhika udah sampe mana? Belum ada surat gugatan kan dari dia?"
"Iya sih. Papahnya Dhika bilang ke papah aku kemarin dia, sudah masukin berkas ke pengadilan agama Jaksel dari minggu lalu. Mungkin di minggu ini suratnya akan sampe di aku.."
"Gak secepat itu Sher, kalian masih akan ada beberapa proses. Ada proses mediasi, ada proses persidangan beberapa kali. Dan jadwal itu semua belum tentu akan beres dalam waktu satu bulan."
"Iya paham aku mas, tapi apa salahnya kalo kita mulai lagi hubungan kita dari sekarang? Aku excited banget lho mas."
"Gini Sher, kalo kamu memang mau memulainya dari awal lagi, yaudah selesaikan dulu semua urusan kamu dengan Dhika, sampai ketok palu. Aku gak mau nanti jadi terkesan kaya pihak ketiga yang ngerebut kamu dari suami kamu."
"Hah apaan sih? Kok jadi bahas ke sana? Emang salah ya kalo aku sekarang dateng ke sini, ngobrol sama kamu sebagai bentuk ikhtiar aku untuk memulai hubungan lagi sama kamu. Aku juga gak minta kamu nikahin aku sore ini juga. Aku paham kok mas!" mereka jadi berseteru.
"Okay, well kalo kamu tau soal itu, yaudah. Aku cuma mau kita clear semua dari awal. Jangan sampe aku dibilang jadi laki-laki perebut istri orang, that's it!"
"Yaudah sorry. Kita ngobrol baik-baik ya.." Sherin duduk di kursi depan Rezza.
"Aku.. masih sangat.. peduli sama kamu mas." Nada Sherin merendah, matanya berkilau air mata menggenang.
Rezza melemaskan otot-otot wajahnya dan berubah simpatik ke Sherin.
"Sher, maaf ya.."
Sherin mengangguk lemah sambil pandangannya jatuh ke bawah.
"Yaudah kita pelan-pelan ya, take it slow.. Kalau kamu, mau kita mulai dari awal lagi, coba inget-inget waktu kita dulu sebelum jadian. Masih inget gak?"
Sherin mengangguk lagi, air matanya tak terbendung lagi mengalir melewati pipi merona Sherin.
Rezza bangkit dari kursinya, mengambil 2-3 lembar tisu, lalu berlutut di samping Sherin.
"Sini aku lap air matanya. Maaf ya aku bikin kamu sedih.."
Rezza mengelap pipi dan wajah Sherin dengan lembut, Sherin menatap wajah Rezza yang begitu dekat. Mereka berdua bertatap-tatapan tanpa sadar wajah mereka berdua begitu dekat hingga hembusan nafas mereka terasa satu sama lain.
"Udah, jangan nangis lagi. Maafin aku ya.." Rezza jaga jarak, lalu berdiri.
"Aku juga minta maaf ya kalo aku cengeng, maaf kalo aku ngerepotin kamu."
Sherin tiba-tiba berdiri lalu mendekapkan wajahnya ke dada Rezza. Mereka berpelukan meski Rezza enggan melingkarkan tangannya ke tubuh Sherin. Wajahnya tersirat ia begitu kalut tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya kedua tangan Rezza hanya menepuk-nepuk halus pundak Sherin.
"Udah-udah jangan nangis lagi. Aku mau makan siang bareng sama anak-anak. Kamu mau ikut?"
Sherin geleng-geleng dengan pipi dan kelopak mata yang sembab.
"Aku gak mungkin makan bareng sama temen-temen kamu kondisi begini."
"Yah tapi aku tadi udah janji mau makan bareng mereka, gimana dong? Masa aku tinggalin kamu di sini?" tanya Rezza dengan senyum tipis.
"Kamu mau makan di mana? Biar aku pesenin aja pake ojol." Sherin melepas pelukannya dari Rezza lalu buka handphone-nya
"Di Blue Collar coffee and resto, kamu mau ngapain?"
"Aku mau pesen makanan lewat ojol aja dari sana. Buat berapa orang? Aku pesen makanan sama minuman masing-masing ya?"
"Eh gak usah. Aku kan mau makan di sana nanti sama mereka."
"Please, mas! Aku pesenin aja biar kamu gak harus ke sana. Berapa orang?"
"Hmm yaudah, empat kalau sama kamu jadi lima orang." Rezza tak sanggup menolak.
"Oke aku pesenin ya.."
"Yaudah oke, makasih Sher."
"Sama-sama mas.." Sherin senyum sejenak ke Rezza lalu kembali fokus ke ponselnya.
PoV dari luar ruangan Rezza:
Anya ketuk pintu.
"Masuk.."
"Misi Bang Rezza, ini ada order makanan dari Sherin tadi, buat siapa ya?" Anya buka pintu.
"Oh itu buat kita Nya, kalian ambil masing-masing. Nanti sisanya buat gue dan Sherin ya."
"Hah? Tapi kan bang, kita rencananya mau makan di Blue Collar bareng."
"Iya maaf ya, keknya gak bisa sekarang. Masih ada yang diobrolin sama Sherin."
"Oh oke, kalo gitu ini punya Bang Rezza dan Sherin." Anya kasih satu goodie bag-nya.
"Okay, makasih ya Anya." Sherin say thanks sambil liat Anya.
Anya kaget liat mata Sherin sembab dan memandang lirih.
"Makasih Nya." sambung Rezza.
"Iya sama-sama bang, Sher, gue permisi." Anya keluar dari ruangan.
Rezza mengajak Sherin pindah ke sofa panjang di ruangan. Perlahan ia memegang lengan Sherin dan mengajaknya pindah.
"Kita makan bareng yuk, pindah ke sofa itu aja."
Sherin mengangguk lemah, mereka berdua berjalan ke arah sofa. Rezza mengambil goodie bag berisi makanan mereka berdua. Ternyata menunya adalah pasta creamy garlic fettuccine kesukaan Sherin dan untuk Rezza ada nasi ayam lada hitam favoritnya. Ditemani dengan dua gelas lychee ice tea. Mereka pun makan bersama sambil bertatap-tatapan penuh rasa yang tertahan.
13.32 | Meja kubikal AE.
Anya, Janice, dan Icha sudah selesai makan. Mereka kembali fokus ke laptop masing-masing.
Janice tampak ekspresi cemas, ia melihat ke arah pintu ruangan Rezza. Belum ada tanda-tanda Sherin dan Rezza selesai bicara.
Icha memecah keheningan.
"Jan, Nya, enak juga ya makanan sama minumannya Blue Collar."
"Iya enak-enak, ya walopun gak jadi makan di sana tapi setidaknya jadi udah nyicip ya menu-menu mereka." jawab Anya.
"Ho'oh Nya, eh Janice! Enak gak menurut lo makanannya?" Icha lempar pertanyaan ke Janice yang lagi menatap kosong ke layar laptop.
"Eh kenapa? Makanan?" Janice gelagapan.
"Iya menurut lo enak gak Jan?" Anya menimpali.
"Eh enak kok, lychee ice tea-nya juga suka banget ada buah lecinya."
"Iya kan, gak salah rekomendasi gue.." Icha menyombong.
Tiba-tiba pintu ruangan Rezza terbuka, Sherin dan Rezza keluar berjalan ke arah meja Trio IJA.
"Girls, gue izin anter Sherin balik ke kantor dulu ya." Rezza pamit.
"Oh iya bang, aman belum ada deadline atau meeting juga sih." Jawab Anya ketus.
"Eh mas, aku ke toilet sebentar ya. Wait!" ucap Sherin.
"Okeh Sher, aku tunggu di sini." jawab Rezza.
Sherin berjalan menjauh, lalu Anya berdiri dan melotot ke arah Rezza.
Rezza nampak kebingungan.
"Kenapa Nya?"
"Ngapain Sherin ke sini? Lo mau dijadiin ban serep ya sama dia? Setelah dia gagal pernikahannya terus balik ke lo gitu?" Anya bicara frontal ke Rezza. Icha dan Janice kaget sambil liat-liatan.
"Husshh, apaan deh Nya? Jangan ngomong kenceng-kenceng ntar yang lain denger kirainnya beneran lagi."
"Ya terus ngapain dia ke sini bang? Lo jujur deh sama kita-kita sebelum terjebak terlalu jauh sama dia lagi."
"Anya, gue sama Sherin gak ada apa-apa beneran deh. Dia cuma mau cerita kok. Dia udah digugat cerai sama Dhika, suaminya."
"Terus? Dia ke sini nemuin lo sebagai sahabat? Atau sebagai mantan?"
Rezza tertegun, menelan ludah. Tak kuasa menahan sesaknya pertanyaan Anya.
"Udah-udah nanti gue cerita. Ntar Sherin denger gue jadi gak enak. Dia lagi kalut hatinya. Please ya.."
Anya buang muka dan duduk di kursinya lagi.
Icha buka omongan.
"Oh iya bang, tadi itu makanan order dari Blue Collar gimana? Kita bayar ke siapa?"
"Bayar? Nggak-nggak, itu Sherin yang order tadi. Udah gak usah diganti, aman kok."
"Oh gitu, beneran bang? Ditraktir dong nih hehe" Icha nampak mencoba cairkan suasana.
"Iya Cha, aman kok. Nanti say thanks aja ke Sherin ya." Rezza menjawab ramah.
Icha kasih gestur sip.
"Yuk mas, aku udah." Sherin datang dari toilet.
"Eh mbak Sherin, tadi makasih ya makanan dan minumannya. Bang Rezza bilang tadi di-order-in sama mbak Sherin." Icha berdiri sambil say thanks ke Sherin.
"Iya mbak, aku juga makasih ya untuk makanan dan minumannya." Janice ikut berdiri.
Sherin nampak senyum tipis sambil mlihat ke arah Icha dan Janice.
"Sama-sama ya Icha and Janice."
Lalu Sherin melempar pandangan ke Anya. Anya cuma senyum dan say thanks tanpa berdiri.
"Thanks ya Sher.." lalu lanjut fokus ke laptop lagi. Sherin mengangguk dengan senyum.
"Yaudah, gue keluar dulu nganter Sherin ya girls. Bye.." Rezza pamit.
"Bye semuanya." Sherin juga.
Mereka bertiga memandang heran dan sinis ke arah Rezza dan Sherin yang jalan ke arah lift. Meski mereka serasi, namun tak bisa dipungkiri hubungan mereka terlalu pelik untuk dilanjutkan.
14.57 | Lobi kantor Sherin di bilangan Jakarta Utara, sebuah kantor pusat brand otomotif besar di Indonesia. interior mobil Rezza.
"Sher, udah sampe." Rezza bicara.
"Makasih ya mas, aku masuk kantor dulu."
Mereka tatap-tatapan cukup intens. Sherin memegang tangan kanan Rezza. Lalu ia mencium tangan Rezza.
"Aku buka pintu sendiri aja biar kamu bisa langsung jalan." Sherin turun dari mobil lanjut jalan ke dalam gedung. Rezza buka jendela mobil, Sherin sempat menengok kembali sambil tersenyum. Rezza membalas senyum tipis. Masih shocked dengan adegan tadi. Pertama kalinya Sherin mencium tangan Rezza setelah sekian lama. Rezza benar-benar tak menyangka merasakan gestur tersebut dari wanita yang pernah sangat dicintainya itu, sampai.. sekarang.
18.00 | Lantai 3 kantor K&B Digital Agency.
Rezza di ruangannya sedang memijit-mijit kepalanya sambil melihat ke layar laptop berisi deck yang harus dia selesaikan malam ini. Tapi isi kepalanya tidak bisa fokus ke slide presentasi itu.
Di meja kubikal, Anya berdiri meraih tas dan ingin pergi.
"Gue duluan ya guys."
"Eh lo gak pamit ke Bang Rezza?" tanya Icha.
"Gak mau ah, males gue liat Bang Rezza hari ini nyebelin banget. Titip salam aja lewat kalian."
"Iya Nya, hati-hati." ujar Janice.
"Aneh banget si Anya" ucap Icha.
Janice bingung, kenapa sikap Anya segitunya?